Masker… Simbol Status Masa Kini


Masker... Simbol Status Masa Kini 1
AP Illustration/Peter Hamlin;

Mba..ada paket…. suara dari depan pintu ruang kerjaku terdengar. Satpam kantor  sudah tegap berdiri sambil memegang  kotak yang terbungkus plastik rapi.

ohya terima kasih pak.. taro saja di meja  itu jawabku menunjuk meja kecil diujung dekat kursi tamu …

baik mba ..permisi… Mas satpam pamit setelah meletakkan paket itu dimeja  yang kumaksud.

Aku  belum tertarik membuka paketku karena setumpuk pekerjaan yang harus selesai siang ini dan pekerjaan lain yang masih menanti untuk dilkoreksi.

Tidak berapa lama, Santi, staf di bagian pemasaran datang dan menyapa.. Mba lagi apa? serius banget? tanya nya

Aku mengalihkan pandanganku dari layar laptopku dan memandangnya..

lagi selesaikan draft laporan ..siang ini harus selesai …jawabku singkat sambil tetap duduk nyaman

ooo jawabnya singkat tapi matanya langsung tertuju ke atas meja tempat paketku tadi .

Apa ini mbak? paket ya? tanyanya dengan wajah penasaran dan membolak balikkan paketku ditangannya

iya jawabku..  beli masker minggu lalu.. stok dirumah sudah hampirr habis. Jelasku

ah…. mba kenapa gak bilang , aku kan sekalian ikutan pesan juga.. katanya dengan nada sedikit kecewa.

Kusadari memang pemakaian maskerku  akhir2 ini cukup banyak… untuk masker yang sekali pakai.dalam sebulan saja bisa habis 2 kotak. Kondisi pandemik covid saat ini untuk seorang pekerja kantoran sepertiku jadi penyebabnya ditambah lagi  himbauan pemerintah untuk selalu  mengikuti protokol kesehatan dengan memakai masker.

mba beli merk apa? tanya nya penasaran

Apa ya..mba lupa.. jawabku……

Mba beli aja di  website itu karena lihat banyak pesan disana… jawabku sambil kupandang wajahnya dengan bingung..

Kenapa nanya merk tanyaku dalam hati. selama ini aku selalu beli tanpa melihat merk, karena bagiku yang penting masker kain atau masker bedah 3 lapis sudah cukup.. toh sekali buang juga pikirku.

Santi terus saja bercerita.. kemaren teman nya membeli masker bermerk A sekali pakai yang harga satuannya seharga jatah transportnya sehari. Lalu menceritakan ibu pimpinannya yang memakai masker sekali pakai yang harganya cukup untuk jatah makannya seminggu.

Berapa coba yang mereka habiskan dalam sebulan ya mba untuk masker?  mereka pasti banyak duitnya ya mba… celotehnya dengan raut muka yang takjub.

Aku terhenti dari kegiatan menulis laporanku. Ikut berpikir sejenak mencerna perkataannya. Dalam hati  ikut membenarkan dan muncul pertanyaan baru. Entah mereka benar-benar berniat menjaga kesehatan dengan membeli masker yang  mahal atau hanya sekedar pamer  kalo mereka mampu untuk membeli masker dengan harga segitu.

Apa sekarang masker menjadi simbol  kemakmuran dan derajat sosial orang yang memakainya?

Ku hela nafas .dan melanjutkan mengetik laporanku. Kubiarkan Santi masih tetap berceloteh didepanku dengan penuh semangat.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Mba Retno

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap