Masyarakat Menyayangkan Kebijakan Pemerintah Terkait Larangan Ekspor CPO dan Minyak Goreng

Masyarakat Menyayangkan Kebijakan Pemerintah Terkait Larangan Ekspor CPO dan Minyak Goreng

Kelangkaan sudah di alami masyarakat Indonesia selama 2 bulan terakhir ini.

Secara , turbulensi harga di pasar domestik mudah dijelaskan, yaitu dengan fakta bahwa kenaikan harga selaras dengan melonjaknya harga mentah (crude palm oil/), bahan baku utama .

Akar dari permasalahan ini merupakan awal dari penetapan Harga Enceran Tertinggi (HET) yang mengakibatkan adanya penimbunan oleh sejumlah pihak sehingga ketersedian menjadi langka.

Menanggapi hal ini Presiden Joko Widodo resmi mengeluarkan larangan mentah atau crude palm oil () serta produk .

Penutupan ini mulai akan berlaku pada Kamis, 28 April mendatang.

Baca juga  Upaya Pemulihan Perekonomian Oleh Pemerintah Dalam Menanggulangi Krisis Akibat Pandemi

Dikeluarkannya ini berkaitan dengan ketersediaan untuk kebutuhan domestic dan dengan mempertimbangkan ketersediaan didalam negeri yang sempat langka di pasaran.

Menanggapi tersebut terjadi pro dan kontra di masyarakat maupun para akademisi dan ekonom.

Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memperkirakan kerugian yang ditanggung masyarakat akibat krisis lonjakan harga minyak mencapai Rp 3,38 triliun.

Berdasarkan dari data tersebut, maka tidak mengherankan jika kemudian akan terjadi kerugian terbesar yang disebabkan lonjakan harga minyak akhir-akhir ini.

Sehingga, menyebabkan kerugian yang dialami oleh masyarakat kelas menengah.

Produksi secara global, didominasi oleh Indonesia dan Malaysia sebagai penghasil minyak kelapa terbanyak.

Baca juga  Cara Menjernihkan Minyak Jelantah Alami & Sehat

Menurut data dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, pada tahun 2019 luas perkebunan kelapa di Indonesia mencapai 14,68 juta hektar dan bila mengacu pada data hasil rekonsiliasi luas perkebunan kelapa di Indonesia mencapai 16,38 juta hektar.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi kelapa pada tahun 2018 adalah 48,68 juta ton, yang terdiri dari 40,57 juta ton minyak kelapa (Crude Palm Oil-) dan 8,11 juta ton terdiri dari minyak inti (Palm Kernel Oil – PKO).

Perkebunan kelapa di Indonesia terbagi ke dalam 3 sektor, yakni:

1. Sektor Perkebunan Rakyat, yang menguasai 6,9% lahan sawit dan menghasilkan 16,8 juta ton kelapa sawit

Baca juga  Menelaah Thousand Friends Zero Enemy

2. Sektor Perkebunan , yang menguasai 41,5% lahan sawit dan menghasilkan 2,49 juta ton kelapa sawit

3. Sektor Perkebunan Swasta, yang menguasai 51,6% lahan sawit dan menghasilkan 29,39 juta ton kelapa sawit.

Berdasarkan data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) tercatat 70% dari produksi sawit 2018 dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dan 30% sisanya untuk dikonsumsi dalam negeri.

Nilai sumbangan devisi minyak kelapa sawit Indonesia sepanjang 2018 mencapai US$ 20,54 miliar atau setara dengan Rp.289 triliun.

Hingga saat ini, produksi minyak kelapa sawit masih menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia dan menjadi penyumbang devisa terbersar.

Kontribusi devisa minyak kelapa sawit tidak kalah dengan produksi batu bara atau produk tambang lainnya, yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menghasilkan US$ 18,9 miliar atau setara dengan Rp. 265 triliun pada tahun 2018.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.