Melatih Anak Tampil Percaya Diri

Melatih Anak Tampil Percaya Diri 1

Anak adalah anugerah terindah yang datang dari rahim seorang ibu. Kepribadian dan parasnya mewakili setiap pasangan yang berbahagia. Tuhan menciptakannya sebagai buah cinta dari sepasang kekasih yang telah mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan, disamping kesetiaan untuk menjaga dan merawatnya hingga tumbuh dewasa.

Perjalanan si kecil yang lucu dan imut ini akan terasa hambar jika dia hanya berani tampil di depan orangtuanya saja. Ketika Ia masuk ke dunia luar, berteman dan sekolah, maka Ia diharapkan bisa menguasai situasi yang terjadi di sekitarnya. Kepercayaan dirinya diuji dengan orang-orang yang berada disekitarnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mulai Dari Sebuah Ruangan Di Rumah

Keluarga adalah awal mula semua kebiasaan yang muncuk di depan publik. Bagaimana cara orang tua mendidik anaknya, maka seperti itulah yang ke luar ke hadapan publik.

Mulailah dengan sebuah perintah ringan dimana sang anak harus setidaknya berhadapan dengan ruangan lain (kosong atau gelap) yang agak berjauhan semisal dapur atau kamar gudang. Lihat reaksinya untuk mengetahui seberapa besar keberanian yang Ia miliki.

Anda sebagai orang tua dapat memintanya untuk mengambilkan sesuatu barang yang ada di ruangan tersebut dalam “sekali perintah”. Ia harus mengingat dan menemukan barang tersebut di dalam ruangan itu.

Tujuannya adalah sang anak bisa menyingkirkan rasa takutnya perlahan, karena hanya memikirkan tentang  barang yang Anda ingin agar Ia temukan. Jika awal-awal mereka meminta petunjuk dan minta ditemani, lakukan saja, tapi untuk selanjutnya Anda bisa bisa pelan-pelan melepasnya sendirian. 

Mengungkapkan Kalimat, Tidak Diam

Anak-anak cukup aktif jika iya disuruh berjingkrak atau berlari kesana kemari. Tetapi jika Ia harus berdiri menatap orang asing dan memperkenalkan diri, Ia pasti lebih memilih lari sejauh-jauhnya, antara malu, takut dan tidak percaya diri.

Situasi ini harus bisa dipelajari dari kebiasaan Anda sehari-hari untuk bersalaman jika sehabis beribadah, sebelum pergi bermain atau sekolah dan ketika Anda akan pergi bekerja. Dengan salaman dan menciumnya, kebiasaan ini juga akan tercermin jika Ia berada di luaran, tidak sulit untuk kita memintanya bersalaman kepada orang yang baru Ia kenal.

Selanjutnya, tidak cukup hanya bersalaman, latih dia untuk mengucapkan suatu kalimat, misalkan : hati-hati di jalan ya papa, doakan aku ya mah, nanti kami kembali lagi ke kampung ya nek.

Upayakan dia untuk mengungkapkan isi hatinya secara rutin, kemudian latih dia untuk memperkenalkan diri secara sederhana. Sekedar nama, sekolah, kelas berapa dan usia nya sudah cukup. Ia harus bisa mengungkapkan itu secara jelas dan dengan ekspresi percaya diri.

Berikan Kesempatan Untuk Bercerita

Yang paling kita abaikan adalah pendapatnya. Sebenarnya ini adalah awal dari tumbuhnya kepercayaan dirinya, jangan sampai kita abai dengan panggilannya untuk mengungkapkan suatu pendapat. Walaupun terkadang kurang rasional dengan pemikiran kita, tetapi Ia sangat bahagia jika pendapatnya didengarkan, apalagi ditanggapi secara tepat dan ceria.

Pendapatnya bukan sesuatu yang harus Anda tolak mentah-mentah. Pemikirannya akan terputus dan terbatasi dengan keadaan seperti itu. Kepercayaan dirinya untuk berpendapat sudah Anda tanam dalam-dalam, padahal tunas itu baru saja muncul.

Berilah dia suatu bacaan yang mendidik dan mencoba bertanya tentang isi dari bacaan tersebut. Seberapa besar dia menguasainya dan seberapa berani dia mengungkapkan isinya adalah tujuan penilaian Anda.

Apabila Ia bisa menjawab tentang semua isinya, Anda bisa naik ke level selanjutnya. Sebelum tidur, cobalah mengupayakan sang anak agar menceritakan apa saja yang telah Ia alami seharian ini. Dengan demikian, hal ini akan melatih kosakata dan memorinya secara lebih baik.

Labih maju lagi, mulailah gunakan media smartphone Anda untuk merekam sang anak ketika Ia sedang berlatih memperkenalkan diri dan bercerita didepan Anda. Tidak sedikit juga anak-anak yang canggung di hadapan kamera. Berilah Ia tips-tips ringan agar tidak gugup ketika Anda merekamnya, dan buatlah situasi ini seakan-akan Ia berada didepan kelas dan orang banyak.

Belajar Kata Maaf & Terima Kasih

Terakhir, bekali Ia dengan kebiasaan untuk berterima kasih jika mendapatkan bantuan dan meminta maaf jika membuat kesalahan. Seorang anak akan sangat patuh dan cepat memahami perintah yang satu ini.

Mereka sangat mudah untuk bersosialisasi jika kedua kata sederhana ini mereka bawa kemanapun mereka bermain. Orang tua yang mendidik anaknya dengan benar akan membekali anaknya dengan kedua kata ini.

Ajarkan mereka untuk memahami bahwa Ia bukanlah orang sempurna, bahwa kita sangat membutuhkan orang lain, bahwa kita tidak selalu bebas dari kesalahan. Maka, jangan lupa untuk membekalinya.

* * *

Setiap Anak memang menyerupai ayah ibunya, namun karakter dan prilakunya bisa berpengaruh dari keluarga dan lingkungan sekitarnya, maka bisa jadi kepercayaan dirinya akan melebihi dari orang tuanya sendiri. Yang terpenting adalah bekal akhlak dan kesopanan di depan publik harus dipegang kuat-kuat oleh anak kita. Kemampuan Anda mendidik adalah bekal hidup untuknya. 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Danawa Kalana