Memaknai Kembali Hari Binatang Sedunia

Memaknai Kembali Hari Binatang Sedunia 1

Hari binatang sedunia mungkin kita bisa maknai sebagai bentuk apresiasi manusia terhadap binatang yang sesama ciptaan Tuhan dan bagian dari organisme besar bumi ini. Bukan tanpa alasan menggunakan istilah ‘apresiasi’ karena manusia masih sejak dulu telah memanfaatkan jasa binatang untuk berbagai kebutuhan hidupnya. Kita tidak boleh lupa masa-masa itu, meskipun telah banyak jasa binatang yang sudah tergantikan dengan teknologi. Namun pertanyaannya, sudahkan kita memahami makna hari binatang hari ini? atau lebih dalam lagi klaim “Binatang ya hanya binatang, manusia butuh ya, ambil saja” hal begini sangat mencerminkan bahwa kita manusia hanya mementingkan hak kita tanpa memikirkan hak organisme lain (binatang dan alam). Padahal jika kita berfikir lebih dalam, untuk bisa hidup dengan damai di dunia ini adalah dengan cara menjaga ekologi agar keseimbangan alamnya tidak tergangu.

Momentum hari binatang sedunia HBS atau dalam istilah luar kita kenal dengan “World Animal Day” yang diperingati pada tanggal 4 Oktober setiap tahunnya seharusnya juga mengingat-ingat sejarah latar belakang dari peringatan tersebut. Dikutip dari Detik.com 4 Oktober 2021 menuliskan bagaimana sejarah peringatan “World Animal Day” atau bisa disebut juga hari besar Francis of Assisi yang dikenal sebagai orang suci (santo) yang memiliki kepedulian terhadap ekologi dan alam sekitar. Termasuk kesejahteraan hewan yang hidup di alam bersama manusia dan makhluk lainnya. Dari latar belakang tersebut kita bisa memaknai bahwa peringatan HBS bukan hanya sekedar pasang twibbon atau simbolis yang lainnya, tapi perlu tumbuh kesadaraan bahwa manusia dengan ke-primanusiaanya perlu memperlakukan, memperdulikan binatang sebagaimana mestinya. Dengan memikirkan bahwa ada hak binatang yang perlu kita berikan.

Selanjutnya kita perlu juga mengulas pengalaman-pengalaman persinggungan manusia. Sebagai refleksi bahwa binatang telah mengalami intimidasi kekerasan yang sangat komplit, dari perusakan habitat dan eksploitasi dengan berbagai macam turunannya. Sebagai perwakilan dari peristiwa tersebut dari banyak kasus kekerasan dan intimidasi manusia terhadap binatang saya memilih membahas Pony, Binatang dilindungi spesies orangutan berjenis kelamin betina asal kalimatan Pongo pygmaeus berusia 6 tahun yang dijadikan budak seks layaknya manusia. Tidak sampai disitu saja, pony juga didandani, dicukur bulunya, dilatih dan dirantai dan menjadi sumber penghasilan bagi mucikarinya selama 14 tahun. Ini jelas-jelas kejahatan yang sangat luar biasa yang dilakukan manusia terhadap binatang.

Sudut pandang psikologi perilaku manusia melakukan seks terhadap orangutan atau hewan lain mengistilahkan dengan Zoophilia salah satu kelainan seksual. Tentu, kita bisa pahami itu akan tetapi mucikari (pemilik) pony yang memanfaatkan keuntungan ekonomis dengan cara eksploitasi seksual perlu diganjar tindakpidana seperti layaknya larangan penjualan, kepemilikan, pemeliharaan dan membunuh satwa yang dilindungi. Sangat disayangkan hasil pencarian informasi dari kasus tersebut untuk tindakpidana bagi pemilik tidak diketemukan. Di Indonesia sendiri memang belum ada undang-undang yang mengatur penjualan (eksploitasi seksual) pada binatang, meskipun telah banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi pada binatang baik secara individu hanya mengambil keuntungan emosional mampun sindikat mengambil keuntungan ekonomis.

Mengenal Hak Asasi Binatang

Binatang memiliki hak mutlak yang melekat, layaknya manusia. Namun bedanya binatang tidak dapat menyuarakan dan memperjuangkan haknya secara hukum. Berbeda dengan manusia yang memiliki kekuatan penuh terhadap hak-haknya yang terusik atau dirampas binatang hanya mampu memperjuangkan dirinya dengan cara melawan ketika situasinya terancam dengan tabiatnya masing-masing. Disini, kita perlu kedalaman ke-primanusiaan kita sebagai manusia untuk memahami mengenal betul hak-hak binatang yang perlu kita berikan dan itu telah menjadi kewajiban manusia sebagai mamalia cerdas yang bermartabat.

Hak asasi binatang ini ada dan telah di deklarasikan pada tahun 1978 dengan mengumpulkan 46 negara dari 339 kelompok pendukung binatang di kantor pusat UNESCO, Paris, Prancis. Mirip dengan konsep hak asasi manusia, hak asasi binatang juga merujuk pada tabiat dan peranan penting binatang di alam ini. Hak untuk mendapatkan makan dan minum; hak mendapatkan kenyamanan (habitat); hak berekspresi sesuai perilaku alami; hak mendapatkan perlindungan baik fisik maupun mental. Konsep ini spesifik memaknai binatang bukan hanya objek akan tetapi subjek dari berbagai resolusi kehidupan.

Di Indonesia sendiri hak asasi binatang telah ter-fasilitasi dalam bentuk undang-undang nomor 41 tahun 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan. Secara spesifik disebutkan pasal 66 untuk kepentingan kesejahteraan hewan, perlu dilakukan tindakan yang berkaitan dengan penangkapan dan penanganan; penempatan dan pengandangan; pemeliharaan dan perawatan; pengangkutan; pemotongan dan pembunuhan; serta perlakuan dan pengayoman yang wajar terhadap binatang. Dengan begitu keberlangsungan hidup, kesejahteraan dan hak-hak binatang di Indonesia telah terlindungi secara hukum. Selamat hari Binatang Sedunia!

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.