Memaknai Puisi Melalui Musikalisasi

Memaknai Puisi Melalui Musikalisasi

Memahami suatu karya bagi para pembaca memang memerlukan kemampuan mengenai kebahasaan untuk mencapai suatu makna yang terkandung dalam karya tersebut. Melakukan pembacaan secara berulang-ulang sudah menjadi hal biasa dalam karya , hal ini bertujuan untuk menemukan makna dari bacaan tersebut. Salah satu karya yang banyak diminati adalah karya .

adalah suatu jenis karya yang merupakan sebuah tulisan dengan menggunakan kualitas keindahan kebahasaan yang memiliki unsur bunyi, irama, serta penggunaan diksi. juga mengalami perubahan pada setiap zamannya, seperti yang dikatakan Riffaterre dalam bukunya yang berjudul Semiotics of Poetry, bahwa selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan estetiknya. Jika pada dahulu dikenal sebagai karangan yang terikat, pada zaman sekarang menjadi lebih bersifat bebas, tidak memperhatikan aturan yang mengikatnya. Tetapi, tetap memperhatikan bunyi yang terdapat dalam diksi yang menyusunnya.

Dalam buku Apresiasi Kesusastraan yang ditulis oleh Sumardjo dan Saini, menjelaskan bahwa pengungkapan makna adalah apresiasi karya . Kata apresiasi sendiri memiliki arti memahami, menikmati dan menghargai atau menilai. Pada awalnya apresiasi berupa pembacaan atau deklamasi, kemudian seiring dinamikanya, dunia kesenian telah mengkolaborasikan antara dan musik. Melalui kolaborasi ini membuat genre baru yang mewarnai esensi seni dalam dunia pertunjukan, dengan menyajikan puisi dalam bentuk musikal, menggabungkan kata-kata puisi dengan iringan musik menjadi satu kesatuan bentuk yang utuh dan disebut “ Puisi”.

Baca juga  Jenis Puisi Lama Yang Masih Eksis DITahun 2022

Seperti yang kita ketahui, bahwa seiring berkembangnya kemajuan teknologi, minat seseorang terhadap karya telah menurun, khususnya bagi para remaja yang disebut milenial meganggap bahwa pembelajaran itu tertinggal dan cenderung membosankan. Maka dari itu, kita perlu adanya sebuah inovasi baru untuk mengenalkan karya dan untuk meningkatkan minat pembelajaran di sekolah bagi anak remaja. Dengan adanya puisi ini dapat menjadi salah satu inovasi baru bagi pembelajaran sastra di sekolah. Tujuannya agar para siswa bukan hanya belajar mengenai penulisan puisi dan unsur-unsurnya saja, tetapi juga penghayatan, pengenalan berbagai karya sastra puisi, dan juga kreatifitas siswa melalui iringan nada-nada musik yang sesuai dengan tema puisi.

Mengenai puisi ini terdapat pro-kontra di dalamnya. Beberapa orang lebih menyukai pembacaan puisi tanpa iringan musik, karena lebih mudah dipahami dan dengan adanya unsur musik justru dianggap dapat membuat makna puisi menjadi bias, memecah fokus dan terkesan memaksakan. Selain itu, adanya ketidaksesuaian antara musik dengan puisi yang dibawakan, contohnya seperti puisi yang dibawakan adalah tema kesedihan, namun musik yang mengiringi tidak sesuai dengan tema tersebut. Di sisi lain, bagi beberapa orang lainnya menyukai pembacaan puisi dengan adanya iringan musik, karena dapat membangun suasana, menghidupkan puisi tersebut, serta membangun emosi dan penghayatan terkesan lebih mudah dilakukan.

Baca juga  Peran Taufiq Ismail Dalam Perkembangan Sastra Indonesia

Saya sendiri selaku penikmat puisi dan musik, menyukai adanya puisi, tetapi dalam pembawaannya tidak boleh secara asal-asalan. Iringan musik harus sesuai dengan tema puisi yang dibawakan. Seperti yang diungkapkan oleh Carinda dalam penelitiannya Musik Sebagai Pendukung Pemahaman Makna Puisi dalam Pertunjukan Puisi, pada tema kesedihan, iringan musiknya cenderung menggunakan akor minor dengan tempo yang lambat, pada tema kegembiraan, cenderung menggunakan akor mayor dengan tempo yang cepat, pada tema kekerasan, cenderung menggunakan tempo yang cepat, dan pada tema kedamaian, menggunakan nada-nada mayor yang terdengar tenang, menyejukkan suasana hati, dan dengan tempo lambat.

Ags. Arya Dipayana
Ags. Arya Dipayana

Salah satu tokoh seniman yang biasa melakukan penggubahan puisi menjadi lagu adalah Ags. Arya Dipayana. Salah satu puisi yang digubahnya menjadi lagu adalah puisi “Hatiku Selembar Daun” karya Sapardi Djoko Darmono. Menurut Sapardi, Arya Dipayana mampu mengkomposisikan musik yang cocok dengan suasana pada puisinya. Terdapat tiga instrumen yang dipakai dalam puisi “Hatiku Selembar Daun”, yaitu vokal, gitar dan viola. Vokal sebagai pelantun kata-kata pada puisi tersebut, gitar dan viola berperan sebagai instrumen yang mengiringinya, ketiganya bisa berkolaborasi dengan baik tanpa mengubah makna dari puisinya.

Baca juga  [Puisi] Rahasia Wanita

Dalam pembelajaran sastra di sekolah, puisi berperan sebagai inovasi baru dan media penunjang untuk memahami makna puisi. Terdapat beberapa tahapan untuk bisa menerapkan puisi secara efektif di dalam kelas. Pertama, guru harus menyiapkan mental peserta didik secara psikis maupun fisik agar bisa mengikuti proses pembelajaran dengan baik, memberikan motivasi semangat belajar kepada peserta didik, serta menyiapkan bahan ajar puisi yang akan dipelajarinya.

Pada tahap kedua, guru meminta kepada siswa untuk mencermati, menanya, mengeksplorasi dan mengetahui suasana, tema, dan amanat pada puisi yang telah ditunjukkannya terlebih dahulu. Tahap terakhir, guru menunjukkan tayangan puisi pada bahan puisi tersebut dan meminta siswa untuk menyimak serta menanya seputar puisi. Setelah itu, guru memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan puisi dengan kebebasan memilih karya puisinya. Vokal, ekspresi dan intonasi menjadi perhatian dalam tugas tersebut.

Dengan demikian, walaupun musikalisasi puisi memiliki pro-kontra, musikalisasi puisi tetap bisa menjadi sarana memaknai puisi melalui musikalisasi, khususnya sebagai inovasi dalam pembelajaran sastra di sekolah. Untuk melakukan musikalisasi puisi tidak boleh secara asal-asalan dan harus bisa menyelaraskan dengan baik antara instrumen dan puisi, tanpa mengubah makna yang ada di dalamnya. Saya pun berharap agar kedepannya musikalisasi puisi ini bisa masuk ke dalam playlist lagu anak muda, tetapi hal ini perlu dikaji lebih dalam lagi, terutama dalam permasalahan copyright.

Referensi :

  • Koapaha, R. B., Rokhani, U., & Farida, N. 2009. Musikalisasi Puisi “Hatiku Selembar Daun”. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts), Vol. 10, No. 2
  •   Yuda, D. S., & Nazaruddin, K. 2018. Musikalisasi Puisi sebagai Media Pembelajaran Sastra di Sekolah Menengah Atas. Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya), Vol. 6, No. 2  

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Luthfi Fadilah