Memberi Dan Menerima Sebagai Hakikat Cinta

Memberi Dan Menerima Sebagai Hakikat Cinta 1

Hakikat cinta manusia yang digagas dalam Works of Love ialah cinta memberi dan cinta membutuhkan. Gagasan ini tentu berlandaskan pada ajaran Kristiani. Cinta memberi digambarkan sebagai cinta penuh pengorbanan. Bagi Kierkegaard, memberi adalah hakikat cinta Allah. Pernyataan ini tidak berarti bahwa manusia tidak memiliki cinta memberi. Yang hendak dikatakan ialah pada Allah tidak ada cinta membutuhkan. Allah adalah cinta, hakikat Allah adalah cinta dan cinta Allah adalah cinta memberi dan bukan cinta membutuhkan.

Cinta memberi dalam konteks manusia digambarkan Kierkegaard demikian, “seorang suami yang menderita kanker tetap saja bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.” Pengorbanan yang demikian lahir dari ketulusan dan cinta yang mendalam. Kierkegaard yakin bahwa cinta yang demikian, selalu mengalir dari kedekatan relasi dengan yang dicintai dan Allah sumber cinta.

Manusia membutuhkan Allah dan sesama. Pada dasarnya kebutuhan akan Allah dan sesama merupakan ungkapan cinta membutuhkan. Cinta membutuhkan merupakan ekspresi dari refleksi yang tepat dari kondisi dasariah manusia. Kita lahir dalam keadaan tak berdaya, membutuhkan orang lain secara fisik, emosional, intelektual atau untuk mengetahui apapun termasuk diri sendiri. Artinya menusia tidak dapat hidup sendiri, ia selalu membutuhkan Allah dan sesama.

Kierkegaard tidak memaksudkan cinta membutuhkan seabgai cinta yang hanya berarti suatu kebutuhan kita untuk dicintai. Baginya cinta yang paling tinggi dari manusia ialah bersatu dengan Tuhan. Bersatu dengan Tuhan dalam cinta membuat orang harus menerima salib. Sebab tanpa keberanian memikul salib, cinta itu hanyalah kebohongan. Dengan kata lain, tanpa keberanian memikul salib, cinta manusia akan menjadi suatu kebohongan atau kesia-siaan. Kierkegaard dibagian lain mengatakan cinta manusia disebut cinta ilahi kalau ada persamaan yang nyata dengan cinta Allah.  Dia menggambarkan cinta Allah itu sebagai berikut.

Hakikat dari cinta ialah tidak mencari kepentingan diri sendiri karena di dalam cinta tidak ada milikku dan milikmu.  Pemahaman demikian mengalir dari cara hidup jemaat perdana. Bagi Kierkegaard, miliki sama sekali tidak memiliki signifikansi. Signifikansi itu terletak dalam diri engkau dan aku. Karena signifikasnianya terletak pada manusia, maka ketika individu bertindak dalam cinta ia sedang melakukan revolusi. “Di dalam cinta, terdapat revolusi fundamental. Semakin besar revolusi itu maka semakin lenyaplah perbedaan antara milikku dan milikmu dan semakin sempurnahlan cinta itu.”

Kierkegaard melihat cinta sesama sebagai revolusi melawan segala bentuk keegoisan yang menuntun pada pelagianisme. Apabila kata milik dihapus maka muncul dengan sendirinya individu yang menyangkal diri, tak mementingkan dirinya sendiri. Siapa yang bertindak demikian, ia bertindak selagu individu di hadapan Allah, karena Allah adalah sumber individualitas.

Menurut Kierkegaard individualitas manusia itu sama sekali bukan miliknya, itu adalah pemberian dari Allah. Sebagai pemberian sebenarnya tidak ada alasan apapun bagi setiap manusia mengklaim kepemilikan, karena apa yang diklaim sebagai milik sesungguhnya adalah pemberian yang harus dibagi-bagikan. Karena itu tindakan cinta atau hakikat cinta itu ialah revolusi fundamental.

Pengorbaban diri mendapat arti penting dalam konsep cinta Kierkegaard. Di sini sekali lagi Kierkegaard dipengaruhi oleh Yesus sendiri yang berani berkorban untuk manusia. Sebagai seorang Kristen yang saleh, Kierkegaard mengatakan orang yang mencintai akan mengajarkan arti dari mencintai dan hal itu ditunjukan melalui keteladanan. Ketika Yesus mengajarkan cinta, ia memberi teladan dalam sikap kerendahan hati dan rela berkorban.

Tindakan cinta lewat keteladanan mampu mendidik orang. Dalam cinta yang mendidik terdapat dua hal penting, pertama orang yang mencintai, mengajar dirinya untuk dapat membatasi diri, bukan membatasi orang lain. Kedua, orang yang mencintai mengajar untuk menunjukan bahwa dia sedang melayani sama seperti pelayan. Dua hal ini ditekankan Kierkegaard untuk menghindari orang dari sikap angkuh dan sombong.

Bahwasannya seorang yang mencintai tidak mengklaim keberhasilan orang yang dididiknya untuk mencinta sebagai usahanya semata, sebab cinta yang mendidik tidak dapat menunjuk pada apapun, karena tindakannya hanya mengandaikan cinta. Dengan kata lain keberhasilan itu tidak menjadi ukuran karena perjalanan cinta itu adalah sebuah perjalanan salib yang selalu membutuhkan konsistensi dan ketetapan hati. 

Dunia sering mengasosiasikan bahwa murah hati dilihat dari ukuran pemberian. Pemahaman ini menuntun pada suatu kekeliruan karena nilai dari kemurahan hati akan direduksi pada apa yang tampak. Kierkegaard mengritik cara pandang yang demikian, yang juga dilihatnya dalam gereja Denmark.

Untuk menjelaskan murah hati sebagai sebagai tindakan cinta, Kierkegaard mengambil contah seorang janda mikin yang memberikan seluruh nafkahnya dalam kolekte persembahan. Kemurhan hati yang sungguh-sungguh selalu disertai ketulusan dan tidak mencari muka atau menimbulkan kekaguman pada orang lain. 

Kierkegaard memiliki refleksi yang sama dengan apa yang direfleksikan oleh Gereja. Bahwa kemurahan hati bukan tentang besar atau kecilnya pemberian melainkan bagaimana itu dilakukan. Dengan kata lain, cinta sebagai kemurahan hati ditentukan pada bagaimana sikap batin seseorang terhadap apa yang sedang dilakukannya dan bukan seberapa banyak atau besar barang yang diberikan

Konsep eksistensi yang digagas oleh Kierkegaard menekankan pentingnya individu singular yang melawan konsep universalitas Hegel. Baginya, yang autentik adalah yang individu dan bukan yang partikular. Dalam pembahasan tentang individu, Kierkegaard menemukan eksistensi tidak autentik yang terwujud dalam keputusasaan.

Kierkegaard menekankan pentingnya harapan untuk menghadapi keputusasaan. Berharap berarti menyinsesiskan antara yang abadi dengan yang temporal. Hanya ketika orang memiliki harapan, ia mampu merentangkan tangannya untuk meraih masa depan yang berisi kemungkinan. Bagi Kierkegaard, orang yang mengharapkan segala sesuatu adalah orang yang dengan cintanya membuka segala kemungkinan yang baik ketika ia berelasi dengan orang lain.

Hakikat cinta manusia menurut Kierkegaard adalah berharap akan segala sesuatu. Harapan memungkinkan orang membuka diri untuk menerima orang lain dalam segala kemungkinannya. Sebaliknya, keputusasaan membuat orang terjerembab dalam pesismisme. Kierkegaard melalui ulasan tentang harapan memberikan pandangan yang optimistik terhadap manusia dengan ungkapannya, jangan pernah menyerah. Melalui ungkapan ini Kierkegaard menanamkan di dalam benak setiap pembaca karyanya agar mau bertindak dalam cinta untuk terus berharap karena meskipun cinta lebih besar dari harapan, cinta mengasumsikan bahwa adalah segala tugas dan kewajibannya untuk selalu membawa harapan.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

kardi manfour