Membisniskan Pendidikan Nyatanya Sudah Banyak


Membisniskan Pendidikan Nyatanya Sudah Banyak 1

Ketika disebut nama “Pendidikan”, pasti yang terpikir adalah hal-hal baik. Misalnya, seperti etika yang baik, budi pekerti yang bagus, penampilan yang rapi, dan lain-lain. Biasanya, orang menyebut hal-hal tadi sebagai ciri orang yang terdidik atau terpelajar. 

Jika digabungkan dengan bisnis, memang akan menjadi perdebatan. Akan banyak orang yang mengatakan bahwa pendidikan tidak bisa digabungkan dengan bisnis. Atau dalam kata lain, pendidikan tidak bisa seenaknya dibisniskan. Banyak ahli juga yang berpendapat bahwa pendidikan harus dilakukan dengan tulus, bukan dengan pamrih.

Memang salah satu hal yang harus diperhatikan dalam membangun bisnis adalah tujuannya. Selain untuk mencari keuntungan, bisnis juga harus menjadi solusi untuk orang-orang. Mengapa? Karena orang yang butuh solusi, akan mencarinya. Jika kita bisa menjual solusinya, orang akan membelinya. Betul?

Mungkin banyak dari kita juga sudah sering mendengar tentang bisnis gelap dari rumah sakit, instansi kesehatan, dan obat-obatan. Tentu semua orang akan menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang sangat keji dan tidak terdidik. Meskipun, mereka akan berdasarkan pada “Kamu butuh sembuh, saya butuh uang.”

Berbasis dari kasus tersebut, mereka menjual solusi dari sebuah penyakit: obat dan perawatan. Perawatan butuh uang, juga membeli obat-obatan. Semetara orang yang sakit akan membutuhkannya, maka dia harus membayar untuk itu sebagai imbalan. Tidak salah, tapi disinilah uang dimainkan. Perawatan dan obat-obatan yang seharusnya dapat ditebus dengan biaya yang cukup, dimainkan oleh oknum dengan harga yang tinggi.

Begitu juga dengan pendidikan. Melonjaknya jumlah anak-anak yang butuh sekolah sementara penampungan di sekolah negeri yang terbatas adalah sebuah masalah. Membuat sekolah swasta adalah salah satu solusinya. Namun ada masalah lagi disini: pemerintah tidak akan mendanai sekolah yang tidak didirikan negara. Maka dari itu, siswa yang butuh pendidikan, mereka harus membayar sebagai imbalannya.

Apakah salah? Tidak. Sebagai gambaran, sekolah juga memang butuh uang. Untuk menggaji guru, membayar listrik, membeli sarana dan prasarana, membayar administrasi, pajak sekolah ke negara, dan banyak hal lain. Tentu seharusnya jika uang terdistribusi dengan baik, untungnya tidak akan besar. Karena lebihan dari dana-dana tersebut, seharusnya digunakan untuk pengembangan pendidikan, bukan untuk laba pemilik sekolah.

Namun jika ingin digambarkan lagi mengenai bagaimana bisnis sekolah berjalan, saya akan gambarkan dengan sederhana. 

Sekolah membutuhkan seragam, buku, dan alat-alat tulis. Memang untuk buku dan alat tulis tersedia di banyak toko. Tapi seragam, biasanya sekolah swasta memiliki seragam yang berbeda. Oleh karena itu, sekolah pasti akan menjualnya sendiri. Tapi, tentu penjualan pun butuh biaya dari modal hingga laba. Disini, bisnis sudah mulai berjalan.

Lalu bagaimana jika sekolah membuat koperasi juga? Tentu akan menambah potensi tambahan dana bagi sekolah. 

Sekali lagi, hal ini tidak salah, selagi dana didistribusikan dengan baik. Selagi semua sesuai dengan aturan yang berlaku dan norma-norma dalam pendidikan, semua tidak ada yang salah.

Hanya saja yang terjadi di lapangan, beberapa kali prinsip bisnis yang begitu pelit berlaku disini. Simpelnya, perbesar pemasukan, perkecil pengeluaran. Beberapa kasus, keuntungan dari dana pendidikan justru dipakai untuk memperkaya pemilik sekolah, atau penguasanya, bahkan kadang termasuk pimpinan-pimpinannya.

Disini, dapat dilihat langsung. Sekolah dengan tujuan bisnis, bukan tujuan pendidikan, tidak akan serius dalam memberikan ilmu. Jangankan dalam mengajar, dalam menyeleksi dan men-training guru saja biasanya asal-asalan. Selama bisa menguntungkan tidak masalah. Apalagi, jika gurunya bukan guru terbaik, tentu sekolah dapat menggajinya dengan jumlah yang kecil. Tak masalah, akan banyak untung.

Untuk pengadaan dan perbaikan sarana sekolah juga jelas akan terganggu. Demi keuntungan, tentu akan dihindari pengeluaran-pengeluaran besar. Misalnya saja perbaikan pintu, meja, jendela, dinding, ataupun plafon kelas. Biasanya mereka akan beralasan “Selama masih bisa dipakai, pakai dulu saja.”

Mengapa sekolah dibisniskan?

Ini menjadi pertanyaan banyak orang. Jika memang membisniskan sekolah itu dosa, mengapa sekolah dibisniskan?

Tentu semuanya kembali pada sesuatu yang katanya bukan segalanya tapi justru segala sesuatu membutuhkannya: uang. Kalau untungnya tidak besar, untuk apa dibisniskan? Justru karena untungnya besar, akan banyak orang atau organisasi yang membisniskan segmen ini.

Bayangkan saja. Jika hanya perlu bermodal memiliki gedung dan tenaga, katakanlah biaya yang akan keluar dalam sebulan adalah dua ratus juta. Jika sekolah memiliki empat ratus siswa, satu orang siswa hanya perlu membayar lima ratus ribu. Jika per orang ditambah lima puluh atau seratus ribu, tentu tidak akan menjadi masalah. Tinggal dikalikan empat ratus. Seratus ribu dikalikan empat ratus, maka akan dapat hasil empat puluh juta dalam satu bulan. Itu adalah keuntungan dalam sebulan.

Belum lagi, bukan hanya SPP yang harus dibayar oleh siswa. Tapi ditambah biaya awal masuk, uang pangkal, dan lain-lain. Belum lagi kadang siswa harus membayar beberapa kegiatan yang diadakan sekolah.

Apakah sekolah mahal sudah pasti bisnis?

Belum tentu. Itu jawabannya. Bahkan bisa jadi sekolah mahal justru tidak membisniskan pendidikannya. Bisa saja mereka mengalokasikan dana dengan sangat cermat untuk pendidikan. Jika sekolah tersebut menggunakan guru-guru terbaik, yang diseleksi dengan sangat ketat dan dilatih dengan keras, tentu gajinya juga tidak bisa rendah. Belum lagi untuk hasil pendidikan yang baik, perlu adanya peralatan dan sarana yang bagus pula. Sehingga, hasilnya bisa dilihat dari semua sarana yang ada di sekolah.

Selain sarana yang mahal, bisa jadi ada alokasi dana lain yang lebih urgen. Misalnya saja, sekolah bekerjasama dengan lembaga asuransi. Maka sebagian dari biaya yang dibayarkan ke sekolah akan dibayarkan lagi oleh sekolah sebagai biaya asuransi. 

Selain asuransi, sekolah juga perlu dengan cermat mengatur keuangan. Mereka juga paham keuangan siswa bisa kacau tiba-tiba, sehingga ada satu-dua siswa yang terpaksa terlambat membayar biaya atau bahkan mengundurkan diri. Untuk menutupi biayanya, maka biaya sekolah pun di-mark up sebagian untuk biaya darurat.

Jika orang kaya paham bisnis, mengapa pilih sekolah mahal?

Jawabannya bisa beragam sebenarnya. Tapi simpelnya begini. Beberapa bagian dari orang kaya adalah orang yang pernah kesulitan dalam dana, sehingga mereka paham biaya A, B, dan C itu tidak murah. Jika ada sekolah yang menawarkan biaya yang murah, apalagi tidak jelas, tentu lebih baik dihindari. Takut ada alokasi dana yang tidak tepat.

Selain itu, memang perlu dilihat juga bagaimana kondisi sekolahnya. Jika biayanya mahal tapi isinya tidak sesuai dengan biaya yang harus dibayarkan, tentu akan tetap dihindari juga. 

Keuntungan yang didapat tidak hanya uang

Ini penting. Keuntungan yang didapat tidak hanya uang, tapi banyak hal-hal menguntungkan lainnya yang mungkin tidak bisa dibayar dengan uang. Yaitu popularitas.

Sekolah memiliki ratusan hingga ribuan siswa. Mereka semua punya orang tua, punya kerabat, saudara, dan tetangga. Tentu pemilik sekolah memiliki kesempatan yang besar untuk mencitrakan dirinya pada banyak orang. Dia bisa menaruh wajahnya di seluruh sarana sekolah, banner, spanduk, mobil-mobil sekolah, dan lain-lain. Sudah mendapatkan uang, dapat ruang iklan, kurang apa? Dia akan dikenal sebagai akademisi, penggerak pendidikan, dan lain-lain.

Tentu hal tersebut sangat berguna untuk kepentingan politik. Dimana hal ini akan mempermudah dirinya untuk meraih karir politik dan mengkampanyekan dirinya. Jadi, tak perlu heran jika pemerintah melarang adanya kampanye politik di instansi pendidikan. Meksipun, pelanggaran seperti itu pasti ada.

Kesimpulan

Semua orang butuh uang, dan butuh sesuatu. Anda bisa beri sesuatu dan memberi uang. Tapi, anda juga tidak bisa mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain. Misalnya saja, orang butuh pendidikan dan anda memeras uangnya dengan mengimingi pendidikan pada mereka. Jika yang anda berikan itu sesuai dengan apa yang dibayarkan, itu tidak salah. Tapi jika tidak sesuai, tentu urusannya sudah dengan hukumm, atau hukum Tuhan.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

EnamDelapan

   

Sukses hanyalah tentang seberapa beruntung kita. Tuhanlah yang menentukan keberuntungan itu, kita hanya bisa berdoa dan berusaha.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap