Menakar Emisi Karbon dalam Sepiring Makanan


Menakar Emisi Karbon dalam Sepiring Makanan 1

Tahukan Anda bahwa dalam sepiring makanan yang kita konsumsi setiap harinya turut menyumbang emisi karbon bagi lingkungan? Pernahkah Anda menakar berapa emisi karbon yang terkandung dalam sepiring makanan tersebut? 

World Economic Forum menyatakan dalam salah satu artikelnya bahwa setiap makanan yag kita konsumsi berasal dari rantai produksi yang mengeluarkan emisi karbon. Salah satu penyumbang emisi karbon global yang paling besar adalah dari konsumsi daging sapi. 

Rantai produksi ini berasal dari pertanian, perkebunan, pabrik pengolahan makanan, transportasi untuk distribusi bahan pangan dan peternakan. Setiap bagian dari rantai produksi ini terdiri dari aktivitas-aktivitas yang juga mengeluarkan emisi karbon. 

Misalnya, pertanian. Pada bagian rantai produksi ini ada aktivitas seperti penggunaan pupuk kimia, pestisida dan pembibitan. Maka, dari aktivitas ini sudah menyumbangkan emisi karbon. 

Untuk peternakan, hal ini berkaitan dengan pemeliharaan hewan ternak, seperti pemberian makanan hingga pada proses penjagalan. 

Kemudian untuk distribusi bahan pangan, ada bahan bakar yang digunakan agar alat transportasi bisa berjalan. Belum menghitung jarak tempuh yang dibutuhkan dalam satu siklus distribusi mulai dari pabrik tempat produksi sampai bahan pangan itu sampai ke tangan konsumen. Lagi-lagi ada emisi karbon yang dikeluarkan dari aktivitas ini. 

Lalu, berapa kira-kira jejak karbon yang dihasilkan dari setiap bahan makanan yang kita konsumsi? 

Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh Journal of Cleaner Production, menyusun peringkat emisi karbon yang dihasilkan oleh setiap bahan makanan segar. Dimulai dari rantai produksi paling awal, seperti pertanian, peternakan, perkebunan hingga tersaji dalam sepiring makanan yang kita makan. 

Hasilnya adalah daging hewan pemamah biak, seperti sapi dan kambing, menjadi yang paling banyak menghasilkan emisi karbon.

Dalam 1 kg daging sapi terkandung 26,61 kg Co2-eq (jumlah gas karbon dioksida dan CFC dalam 1 kg daging sapi). Sementara daging kambing, setiap 1 kg nya mengandung 25,58 kg karbon dioksida (Co2-eq) dan CFC. 

Emisi karbon paling rendah dari produk peternakan adalah susu, dengan kandungan Co2-eq dan CFC tiap 1 kg nya sebesar 1,29 kg. Diurutan berikutnya ada telur dengan 3,46 kg dan ikan 3,49 kg. 

Adapun untuk produk pertanian, rata-rata kandungan emisi karbonnya cenderung lebih rendah daripada produk peternakan.

Yang paling rendah adalah sayuran hasil kebun dengan kandungan Co2-eq dan CFC tiap 1 kg sayuran hasil kebun hanya 0,37 kg. 

Buah-buahan hasil kebun menempati urutan kedua terendah setelah sayuran hasil kebun, sebesar 0,42 kg Co2-eq per 1 kg buah-buahan hasil kebun. 

Sementara bahan makanan pokok, seperti beras, mengandung 2,55 kg Co2-eq  tiap 1 kg beras. 

Jadi, apa yang dapat kita lakukan untuk tetap memperoleh gizi seimbang dari makanan sambil mengurangi emisi karbon demi menjaga kelestarian alam? 

sayuran segar sebagai solusi diet ramah lingkungan
sayuran segar sebagai solusi diet ramah lingkungan

Dari pemaparan sebelumnya, dapat dikatakan bahwa peternakan dan pertanian sebenarnya juga berperan dalam menghasilkan jejak karbon yang merusak lingkungan. 

Namun, mengingat sektor pertanian dan peternakan sangat penting untuk menunjang kebutuhan manusia akan pangan, kita tetap bisa meminimalkan dampak negatifnya dengan menerapkan pertanian dan peternakan ramah lingkungan. 

Hal yang sama juga berlaku untuk kegiatan konsumsi. 

Peternakan ramah lingkungan dapat dimulai dengan pemberian pakan ternak. 

Ternak hewan ruminansia, seperti sapi, domba dan kambing, menghasilkan gas metan yang tinggi. Selain mencemari lingkungan, gas metan yang terlalu tinggi juga menurunkan produktivitas ternak sehingga merugikan peternak. 

Untuk menghambat produksi gas metan yang tinggi, peternak dapat memberi makan dedaunan yang mengandung tanin, seperti daun jati (Tectona grandis), kaliandra (Calliandra calothyrsus) dan mahoni (Swietenia mahagoni). Daun-daun tersebut dihaluskan dan diberikan pada ternak untuk dimakan. 

Jika musim kemarau, peternak dapat memanfaatkan jerami yang difermentasi untuk pakan ternak. 

Cara lainnya adalah menggunakan kandang komunal yang jauh dari pemukiman warga dan pemilihan bibit ternak jenis unggul. 

Mengintegrasikan antara pertanian dan peternakan juga baik dilakukan. 

Peternak dapat memanfaatkan limbah pertanian untuk pakan ternak. Sedangkan petani dapat memanfaatkan kotoran hewan ternak untuk pupuk tanamannya. 

Petani juga dapat memanfaatkan pupuk kompos sebagai pengganti pupuk kimia. 

Selain itu, bisa pula melakukan rotasi tanaman untuk meningkatkan kualitas struktur tanah dan menerapkan pertanian hidroponik sebagai solusi pertanian untuk lahan terbatas. 

Adapun pola konsumsi ramah lingkungan yang dapat kita lakukan sebagai konsumen adalah dengan mengonsumsi makanan segar dibanding makanan olahan. 

Makanan olahan, selain telah banyak melalui pemrosesan yang bisa jadi mengeluarkan jejak karbon yang lebih banyak, kandungan gizinya sudah banyak berkurang dan tinggi pengawet. 

Kemudian pilihlah produk-produk lokal untuk mengurangi jejak karbon dari transportasi distribusi yang lebih tinggi apabila kita beli produk-produk impor. 

Bagi Anda penggemar makanan berbahan dasar daging, mulai sekarang sebaiknya kurangi konsumsi daging merah. 

Jika Anda biasa mengonsumsi daging merah setiap minggu, Anda bisa mengonsumsinya sebulan sekali saja. 

Selain membantu mengurangi emisi karbon, mengurangi konsumsi daging merah dapat menjaga kesehatan jantung dan kardiovaskular. 

Sebagai gantinya, Anda bisa memilih protein hewani lain yang risiko emisi karbonnya lebih rendah dari daging merah, seperti ikan, telur dan susu. Atau mengonsumsi protein nabati yang kaya gizi, seperti tahu, tempe, jamur, berbagai jenis kacang-kacangan dan sebagainya. 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Luna Septalisa

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap