Mendobrak Kesulitan Menulis Karya Ilmiah Untuk Mahasiswa


Mendobrak Kesulitan Menulis Karya Ilmiah Untuk Mahasiswa 1

Karya ilmiah menurut para ahli dijelaskan sebagai tulisan yang membahas permasalahan tertentu dari hasil penelitian atau study pustaka sesuai kaidah kaidah keilmuan. Kaidah-kaidah keilmuan itu antara lain objektif, logis, empiris, sistematis, lugas, jelas, dan konsisten. Agar lebih nempel, kamu bisa menyingkatnya menjadi “OLES LJK”. Bentuk karya ilmiah antara lain proposal, makalah, skripsi, artikel ilmiah, buku non fiksi dan esai ilmiah.

Karya ilmiah bagi mahasiswa menjadi penting karena menjadi wadah ekspresi keilmuan yang didapatkan dari berbagai pengalaman belajar. Kemudian karya ilmiah ini dapat diukur secara kuantitatif sebagai kualitas para ilmuan dan akademisi bangsa ini. Ya, tidak bisa dipungkiri publikasi karya ilmiah menjadi tolok ukur perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Semakin banyak suatu bangsa dapat mempublikasi karya ilmiah yang berkualitas maka semakin baik pula kredibilitas ilmuan dan akademisinya.

Mendobrak Kesulitan Menulis Karya Ilmiah Untuk Mahasiswa 3

Namun sayangnya tuntutan kaidah-kaidah keilmuan itu sering tidak menemui ekspektasinya. Mahasiswa diharapkan mampu menulis karya ilmiah yang berkualitas, tetapi kebanyakan merasa kesulitan. Hambatan yang dihadapi bahkan sejak menginjak langkah pertama, yakni perumusan masalah. Sebagai gambaran karya ilmiah memiliki 5 tahap, yaitu:

  1. Perumusan masalah
  2. Penalaran deduksi (landasan teori/kajian pustaka/tinjauan pustaka)
  3. Perumusan hipotesis sementara
  4. Pengumpulan dan analisis data
  5. Penerimaan dan penolakan hipotesis

Mahasiswa kesulitan menemukan permasalahan yang ada di dunia ini sesuai bidang ilmunya. Tuntutan novelty sering menjadi tekanan yang membuat mahasiswa berpikir keras menemukan ide-ide baru. Cara penulisan yang jelas dan spesifik juga ditekankan pada mahasiswa dalam merumuskan masalah. Kesulitan ini dapat disebabkan oleh faktor minimnya daya baca mahasiswa pada publikasi ilmiah. Daya baca tidak didasarkan pada kapasitas buku di perpustakaan, juga bukan akses jurnal-jurnal ilmiah nasional dan internasional, namun pada kemauan membaca mahasiswa.

Tahap selanjutnya yang juga menuntut kemauan membaca mahasiswa adalah penalaran deduksi. Namun pemikiran “praktis” mahasiswa mendorong mereka terjerumus dalam plagiarisme. Lalu hal ini menjadi kesulitan mahasiswa dalam penyusunan tinjauan pustaka tanpa menodai hak kekayaan intelektual penulis asli.

Apabila dirangkum, faktor kesulitan yang diidentifikasi oleh beberapa peneliti adalah sebagai berikut:

  1. Malas
  2. Tidak punya mood
  3. Sibuk
  4. Kurang pemahaman terhadap penulisan karya ilmiah
  5. Kurang latihan menulis
  6. Tidak ada ide
  7. Kurang percaya diri
  8. Kurang tertarik pada kegiatan menulis
  9. Kurang minat membaca
  10. Kerancuan dalam berpikir
  11. Kerancuan dalam berbahasa

Oleh karenanya dobrakan harus dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dan meningkatkan kualitas karya ilmiah mahasiswa. Ingat firman Allah pada Q.S. Al Insyirah ayat 5 yang artinya “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. Dobrakan perlu dilakukan sehingga tak ada lagi warisan cara-cara “kotor” yang disampaikan mahasiswa senior kepada juniornya. Beberapa trik yang bisa dilakukan diantaranya:

1. Sempatkan waktu

Kesibukan mahasiswa berkegiatan dalam organisasi kampus maupun di luar kampus diungkapkan sebagai hambatan untuk menulis. Maka dalam 24 jam kehidupan mahasiswa sehari hendaknya menyempatkan paling tidak 30 menit efektif untuk menulis. Bukan kalau ada waktu baru menulis tapi “membuat” waktu untuk menulis.

Kapan waktu yang produktif untuk menulis? Jawabannya tidak ada patokannya. Setiap orang memiliki waktu produktifnya sendiri. Sebagai permulaan, menulislah pada pagi, siang dan sore selama seminggu lalu tentukan mana waktu yang tepat.

Pagi hari setelah shalat subuh memiliki beberapa keutamaan bagi pelajar menurut Andi Ahmad Ridha dalam penelitiannya yang berjudul Implikasi Kualitas Shalat Subuh Dalam Kehidupan Remaja. Keutamaan tersebut yakni dalam hal penghargaan terhadap waktu, kesehatan dan kejernihan dalam berpikir. Apabila kegiatan menulis dilakukan setelah shalat subuh secara konsisten, insya Allah akan muncul pula kebaikan tersebut dalam menulis.

Kemudian waktu sore, setelah ashar, apabila tidak ada kuliah lagi bisa dimanfaatkan untuk menulis. Kala senja biasanya akan mendukung gelontoran kosakata yang muncul di kepala pemuda. Waktu umum pulang kuliah ini dapat dimanfaatkan untuk mengekstrak perkuliahan pada hari itu dan menemukan hal-hal yang masih mengganjal. Tidak harus di rumah atau kamar kos, café dengan suasana yang nyaman juga bisa menjadi pilihan.

Selanjutnya waktu malam. Waktu yang sering digunakan mahasiswa untuk mengerjakan tugas. Meskipun risikonya adalah penggunaan sisa-sisa tenaga, mahasiswa tetap memilih waktu ini. Karena memiliki rentang paling panjang dibanding waktu lain. Waktu yang sunyi setelah shalat isya dapat membantu mengumpulkan ide.

pemanfaatan waktu ini hendaknya didasari dengan komitmen. Semoga secara konsisten ini dapat meringankan mahasiswa dalam menulis karya ilmiah. Cara ini dapat mengatasi kesulitan karena tidak punya mood, sibuk, dan kurang latihan menulis

2. Baca Abstak dan Saran pada Artikel Ilmiah

Menggunakan abstrak adalah jalan pintas menemukan hasil penelitian untuk mendukung pembahasan dalam karya ilmiah. Sedangkan pembacaan saran pada bagian akhir artikel penelitian adalah jalan pintas menemukan ide topik yang butuh dilakukan penelitian atau investigasi lebih lanjut

Saya rasa tidak salah kita melakukannya demi menghemat waktu membaca artikel ilmiah berlembar-lembar. Cara ini dapat membantu mengatasi kesulitan karena sibuk, tidak ada minat membaca, tidak ada ide dan malas, Hasil membaca dapat kita kumpulkan, kemudian pakai poin dobrakan pertama tadi untuk memperdalam setiap artikel.

3. Free writing

Saya termasuk orang yang tidak percaya dengan anggapan mahasiswa tidak punya ide. Karena inspirasi bisa datang dari mana saja. Slide kuliah, suasana tempat nongkrong, retakan di ujung kamar kos, makanan, televisi, dan semua hal yang ada di hadapan kita. Bukan soal peka terhadap lingkungan, tapi sikap cuek terhadap lingkungan sebaiknya diperbaiki.

Setelah lebih perhatian terhadap sekitar maka mulailah tulis apa saja yang sampai di benak. Karena kapasitas otak untuk mengingat dalam kondisi sadar sangat terbatas. Bebaskan tangan untuk merekam sekelebat ilham itu. Alm. Sapardi Djoko Damono saat diwawancarai pada acara launching bukunya di Semarang beberapa tahun silam mengatakan bahwa beliau mendorong dirinya untuk menulis setiap hari. Bebas saja. Sebab, kata beliau menulis dan membaca itu mengurangi risiko pikun pada seseorang. Beliau sangat takut menjadi pikun.

4. Gunakan fitur Proofing tool pada Microsoft Word

Cara ini paling teknis diantara yang lain. Manfaatkan fitur Proofing tool berbahasa Indonesia atau bahasa lain untuk menandai kekhilafan kita dalam menulis. Cara ini dapat membantu kita mengatasi kerancuan berbahasa.

Caranya sangat mudah, Klik menu “Review” pada menu bar Ms. Word lalu pilih “Language” dan klik Set Proofing Language. Layar akan memunculkan kotak pilihan “Language”. Pilih bahasa yang dikehendaki lalu klik OK.

5. Membaca karya ilmiah kakak tingkat

Ini akan menjadi trik yang sangat efektif. Topik, alur berpikir, dan sistematika penulisan terpampang dengan jelas. Mungkin beberapa mahasiswa telah mengetahui cara ini. Namun perlu diingat membaca bukan berarti mencontek. Gunakan gaya bahasa sendiri untuk menghilangkan kesan menyalin. Kerancuan berpikir dan kurangnya pemahaman tentang penulisan karya ilmiah insyaAllah dapat diatasi dengan cara ini.

Demikianlah 5 dobrakan untuk 11 faktor kesulitan menulis karya ilmiah pada mahasiswa. Bisa jadi kamu memiliki gaya dan cara lain untuk mengatasi kesulitan menulis. Silakan tinggalkan komentar agar kita bisa sama-sama belajar. Semoga bermanfaat ya, Sukses selalu.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

M. Dian

   

Anak Sulung yang kakinya sempat takut melangkah setelah lulus kuliah. Pemuda setengah tua yang menggenggam kata-kata "Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat pada sesamanya".

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap