Menebak Alasan Pengguna Twitter Tidak Memakai Nama & Foto Aslinya


Menebak Alasan Pengguna Twitter Tidak Memakai Nama & Foto Aslinya

Twitter adalah salah satu layanan jejaring sosial yang paling sering diakses oleh kaum milenial. Setiap hari pasti ada saja trending topic yang cukup menyita perhatian para netizen. Mulai dari yang penting sampai yang nggak ada faedahnya alias unfaedah. Dan saya pun sering dibuat heran dengan trending topic yang ada di Twitter karena banyak yang nggak masuk akalnya, wqwqwq.

Saya sendiri mulai mengenal twitter dan membuat akunnya yaitu sekitar pertengahan tahun 2012, tepatnya setelah Twitter 6 tahun berdiri. Setahu saya, Twitter mulai naik pamornya di Indonesia sekitar tahun 2009 sampai 2011an dan setelahnya sempat turun lagi karena dikalahkan oleh Facebook yang memang sudah menjadi jejaring sosial nomor satu. Dan beberapa tahun belakangan ini, twitter kembali mulai digemari masyarakat sehingga banyak anak muda yang berbondong-bondong membuat akun Twitter.

Ketika pertama kali membuat akun Twitter 8 tahun silam, foto profil pertama yang terpampang adalah foto telur, hahaha. Dan waktu itu saya masih menggunakan nama lengkap saya di Twitter. Fitur-fiturnya saat itu pun belum secanggih dan sebanyak saat ini. Dulu kalau ingin meretweet suatu tweet ya harus mengetik sendiri tidak seperti sekarang bisa langsung klik tanda atau icon retweet secara langsung.

Setelah beberapa tahun memakai Twitter, akhirnya saya memutuskan untuk mengganti nama dan foto profil karena beberapa alasan. Beberapa hari lalu saya mengupload satu foto di Twitter dan ada salah seorang orang yang sekampus dengan saya (terlihat dari following dan foto almamaternya meski wajah di crop) mengomentari unggahan saya. Sebenarnya saya tidak terlalu ambil pusing, tapi saya penasaran saja karena dia satu kampus dengan saya dan komentarnya pun nyambung dengan postingan saya (mengenai mata kuliah). Bisa aja kan dia teman satu kelas saya yang mencoba untuk membuat saya penasaran.

Ngomong-ngomong soal nama dan foto di akun Twitter, banyak para pengguna senior Twitter (terutama anak muda) yang ‘memalsukan’ identitasnya dengan menggunakan nama samaran dan foto yang abnormal, termasuk saya sendiri hehe. Kira-kira apa aja sih alasan saya dan barangkali mereka atau mungkin juga kalian yang seakan menutup diri aslinya di twitter? Nggak usah lama-lama mikir, ayo kita bahas alasannya satu-per-satu.

Pertama : Menjaga Privasi

Yap, alasan pertama saya tidak memasang foto muka saya dan menyamarkan nama akun Twitter saya karena masalah privasi. Bagi saya, Twitter itu adalah wadah bagi saya untuk curhat pada diri sendiri. Sedangkan di jejaring sosial lainnya seperti Facebook, WhatsApp, atau Instagram cukup sulit dan canggung juga jika harus mengeluarkan semua unek-unek saya karena sudah terlanjur lingkaran pertemanan akan mengetahuinya.

Sementara di Twitter, saya bisa mengeluarkan semua keluh kesah sehari-hari seperti menulis diary karena sebagian besar followers saya di Twitter (90% lebih) tidak mengenali saya di kehidupan nyata. Namun meskipun begitu, saya merasa nyaman dengan teman-teman di Twitter meskipun tidak pernah bertemu sebelumnya.

Kedua : Agar Tidak Ketahuan Teman/Someone

Masih berhubungan dengan poin pertama, alasan kedua saya dan barangkali teman yang lain memalsukan diri di Twitter adalah agar tidak ketahuan dengan teman atau seseorang (seperti doi atau siapa pun itu) bahwa sebenarnya kita serapuh atau segoblok itu kalau di Twitter. Di Twitter, saya hanya berteman dengan teman real life yang benar-benar dekat dengan saya, bisa dikatakan sahabat dekat saya lah. Sementara kalau untuk teman yang hanya sekadar teman biasa (teman kenal selewat doang atau nggak terlalu akrab) saya biasanya agak menghindari untuk memfollow.

Biarkan sahabat dekat saya saja yang mengetahui kebobrokan atau kelebayan saya ketika membuat unggahan di Twitter. Karena kalau sampai ada teman yang kenal dengan saya namun tidak terlalu dekat mengetahui postingan dan retweetan saya di Twitter bisa malu juga saya dibuatnya, hahaha. Apalagi kalau saya membuat status mengenai si dia, kalau ada yang tahu kan bisa berabe.

Ketiga : Ngikut yang Lain

Ada juga pengguna Twitter yang masang foto artis (seperti artis Korea atau idolanya yang lain) atau foto absurd karena ingin mengikuti pengguna yang lain biar asyik aja. Karena bagi saya, menggunakan foto dan nama samaran di Twitter itu amat menyenangkan sebab bisa bebas berekspresi tanpa ada yang tahu siapa sebenarnya kita atau siapa kita sebenarnya atau apalah itu.

Di twitter kita bisa sambat dan jujur apa adanya daripada harus berbohong dengan keadaan sendiri seperti membagi kesenangan di Instagram, padahal sebenarnya hati sedang biasa-biasa saja. Menggunakan Twitter ada sensasi tersendiri yang membuat diri nyaman ketimbang di sosial media lain yang terkadang kita bisa membohongi diri sendiri dan orang lain hanya karena ingin dilihat gaul atau kekinian.

Keempat : Bikin Orang Penasaran

Alasan lain yang mungkin terlintas di pikiran saya saat mengubah foto dan nama akun Twitter ya karena agar pengguna lain penasaran, sama penasarannya ketika beberapa hari lalu postingan saya dikomentari orang yang sebenarnya satu kampus dengan saya—namun saya tidak dapat mengenalinya. Karena kalau sudah bikin orang penasaran, rasanya ketagihan dan senang aja gitu kepengin terus ngejahilin mereka biar bego, awowkwk.

Lima : Iseng Aja

Pakai nama samaran dan foto abstrak bukan karena ingin menjaga privasi atau malu, tapi yaaa karena pengen aja, iseng gitu. Tipe pengguna yang satu ini sama sekali nggak akan peduli mau orang tahu atau nggak siapa dia sebenarnya karena biasanya tipe seperti ini nggak terlalu suka aja kalau harus pakai foto profil muka sendiri karena jarang foto juga. Ya karena malas pakai foto dan nama sendiri, jadinya yaaa pakai foto random saja yang ada di galeri hape.

Nah mungkin itu segelintir alasan-alasan para pengguna Twitter—termasuk diri saya sendiri—yang memilih jalan ninja untuk tidak menggunakan foto dan nama yang asli alias pakai topeng atau samaran agar tidak ada orang yang ngeuh. Ya apa pun foto dan namanya, semoga kita dapat tetap bijak menggunakan sosial media agar nggak gampang keciduk, hehehe.