Menelaah Thousand Friends Zero Enemy

Menelaah Thousand Friends Zero Enemy

Salah satu kebijakan luar negeri yang memilki arti kurang lebih Seribu Teman Nol Musuh ini diusung dan popular dimasa pemerintahan SBY – Kalla.

Kebijakan politik luar negeri sebuah negara mencermikan kebijakan dalam negeri negara tersebut dan tentu saja merepresentasikan kepentingan negaranya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi bernegara rasanya mustahil kebijakan Thousand Friends Zero Enemy bisa diterapkan.

Hidup bersama berdampingan dengan 193 negara, dimana ini artinya ke 193 negara ini memiliki kepentingannya masing- masing dan tentu saja ke 193 negara ini akan memperjuangkan kepentingan, rakyatnya.

Adanya perbedaan perbedaan kepentingan termasuk perbedaan tingkat kesejahteraan, perbedaan cuaca, perbedaan jumlah populasi dan perbedaan- perbedaan lainnya membuat masing- masing negara bukan tidak mungkin akan saling bersinggungan.

Bersinggungan dengan negara lain juga bukan berarti kita akan bermusuhan kemudian terjadi cold atau bahkan perang dengan negara tersebut.

Bukankah ini salah satu manfaat diplomasi? Memperjuangan kepentingan terutama kepentingan negara dengan tanpa ada pertumpahan darah? Namun diplomasi tentu saja bukan berarti mengalah, tanpa musuh.

Membela kepentingan nasional, kepentingan dalam negeri merupakan prinsip bernegara yang tidak bisa ditawar dan jargon Thousand Friends Zero Enemy bisa menghambat kepentingan nasional kita.

Baca juga  7 Negara yang Memiliki Kualitas Udara Terburuk di Dunia

Mengutip yang disampaikan Guru Besar UI Hikmahanto Juwana, Thousand Friends Zero Enemy menunjukkan dukungan yang lebih banyak untuk kepentingan internasional sehingga kepetingan nasional tergadaikan.

Thousand Friends Zero Enemy bisa membuat Indonesia terutama pemerintahan saat itu takut untuk bersinggungan dengan negara lain meskipun itu artinya bersinggungan untuk memenuhi kepentingan dalam negeri.

Jargon ini membuat kita takut, ragu untuk memperjuangkan kepentingan dalam negeri.

Takut, ragu untuk menyuarakan apa yang seharusnya kita suarakan dan ketakutan- ketakutan lainnya.

Padahal kepentingan dalam negeri sama dengan kepentingan rakyat dimana sesuai dengan UUD 1945 alinea 4, negara Indonesia dibentuk untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Bagaimana bisa melindungi segenap bangsa jika pemerintah ragu bahkan takut bersinggunggan dengan negara lain.

Bukankah tiap- tiap negara harus memperjuangankan kepentingan dalam negerinya? Maka apapun akan dilakukan, termasuk jika harus memiliki musuh demi kewajibannya itu.

Baca juga  Polemik Kenaikan PPN Di Tengah Masa Transisi Pandemi

Sebagai bangsa yang besar, dan sudah berusia lebih dari setengah abad pasti Indonesia bisa memilih negara mana yang layak dijadikan teman dan Indonesia harus bisa dengan tegas memilih lawan, teman namun tentu saja tidak bisa mengakomodir semua kepentingan negara lain sementara kita lupa akan kepentingan kita.

Seperti dalam dunia khayalan jika kita sama sekali tidak memiliki musuh, terlalu naïf rasanya jika semua bisa menjadi teman kita, kita jadi seperti negara (manusia) yang tidak ada pendirian karena ke kiri bisa namun ke kanan pun bisa. Seperti kapal tanpa nakhoda yang tidak tahu akan bersandar kemana.

Namun apakah Thousand Friends Zero Enemy pada saat itu benar- benar terlaksana atau hanya lip service? Dalam skala regional (ASEAN), Indonesia beberapa kali terlibat konflik dengan Malaysia terutama terkait batas negara dan imigran.

Betul…. Permasalahan batas negara memang masalah klasik dan sudah terjadi sejak Indonesia mulai berdiri.

Belum lagi kisah penyadapan yang dilakukan oleh Australia terhadap SBY dan beberapa menterinya termasuk Ibu Ani Yudhoyono hingga menyebabkan penarikan duta besar Indonesia di Australia.

Baca juga  5 Tanda Hubungan Pertemananmu Sudah Berada di Tahap Paling Nyaman Untuk Saling Terbuka Satu Sama Lainnya

Bukankah sikap menarik duta besar dari suatu negara merupakan salah satu sikap tegas dan balasan atas apa yang sudah dilakukan Australia? Penarikan duta besar ini dianggap akan bisa membuat Australia mau menjelaskan alasan penyadapan tersebut.

Namun meskipun Australia menyesalkan adanya penyadapan itu, permohonan maaf tetap tidak pernah disampaikan dan Australia tetap dengan percaya diri menegaskan bahwa hubungan kedua negara akan tetap dekat.

Hmmmm apakah ini artinya Australia mengganggap Indonesia sebagai negara yang begitu membutuhkan Australia? Australia merasa lebih superior? Atau khawatir konflik justru akan terus berlanjut?

Penting untuk merumuskan hingga akhirnya memutuskan suatu kebijakan untuk diterapkan karena kebijakan yang sudah diputuskan ini kelak yang akan menjadi landasan, acuan apa dan kemana negara akan berjalan.

Apalagi kebijakan luar negeri yang tentu saya akan bertemu dengan banyak kepentingan negara lainnya dan sebagai mana negara- negara itu, tentu kita akan melakukan apapun untuk menjalankan kebijakan itu.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

dina sahmin