Menepis Stigma Negatif Terhadap Manusia Bugis

Menepis Stigma Negatif Terhadap Manusia Bugis 1

Suku Bugis merupakan salah satu suku yang mendiami Pulau Sulawesi. Jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri, Suku Bugis telah ada dan membentuk beberapa Kerajaan dengan Sistem Pemerintahan dan wilayah kekuasaan masing-masing. Seiring perkembangannya, Suku ini tersebar hingga ke Pulau Sumatera, Kalimantan, bahkan sampai ke Negeri Jiran Malaysia. Suku ini dikenal dengan watak keras dan tegas, serta menjunjung tinggi harga diri.

Terbukti dengan beberapa tradisi yang menggambarkan perwatakan dan cara bersikap seorang Manusia Bugis, salah satunya adalah tradisi sigajang laleng lipa (saling tikam dalam sarung), tradisi ini merupakan jalan terakhir penyelesaian antara dua pihak yang bertikai, setelah sebelumnya tidak dapat diselesaikan dengan ujung lidah atau lebih dikenal dengan mediasi.

Akan tetapi, tak dapat dipungkiri stigma negatif sebagian masyarakat secara luas menilai Manusia bugis dengan tradisi sigajang laleng lipa (saling tikam dalam sarung) berwatak kasar dan tak berprikemanusiaan. Maka dari pada itu perlu terlebih dahulu memaknai filosofi tellu cappa: cappa lila, cappa laso, cappa kawali. 

Dalam artian filosofi tiga ujung ini mengandung makna yang mendalam dan menjadi pegangan dalam bertindak, dan bertutur kata agar menjaga lisan dan perbuatan dengan Menjaga 3 ujung yaitu ujung lidah, ujung kemaluan, dan ujung kawali (badik), 3 ujung ini pula yang menjadi metode dalam penyelesaian masalah yaitu dengan cappa lila (Mediasi), Cappa laso (Perkawinan), dan Cappa kawali dengan pertarung dalam sarung menggunakan kawali, simbolik sarung sebagai media pertarungan bermakna persatuan bahwa kita berada dalam satu habitat yang sama.

Pertarungan dengan kawali ini diperuntukkan menyelesaikan masalah secara sportif dan professional dalam artian setelah pertarungan selesai baik kalah ataupun menang tidak dibenarkan lagi jika ada pihak yang memperpanjang masalah karena dengan selesainya pertarungan maka masalahpun dinyatakan selesai agar tidak berkepanjangan dan menimbulkan masalah yang lebih rumit setelah sebelumnya tidak menemui titik terang dengan jalan mediasi dan perkawinan.

Disamping itu, Manusia bugis memiliki sikap sipakatau yang berarti saling menghargai, mengedepankan adab dan etika dalam segala aspek baik dalam hubungan Manusia dengan Manusia, Manusia dengan Alam, dan yang utama antara Manusia dengan Sang Pencipta. Dibuktikan bagaimana Manusia bugis dahulu ketika memulai aktivitas maupun setelah panen raya misalnya dalam bidang pertanian ataupun aktivitas di laut seperti Nelayan memiliki prosesi khusus yang berisi harapan-harapan dengan tetap mengedepankan etika terhadap alam dan jiwa sosial yang tinggi terhadap Manusia lainnya serta diiringi doa harapan maupun rasa syukur yang mewujudkan bagamaina ketundukkan Manusia Bugis kepada Sang Pencipta.

Salah satunya, tradisi “mappadendang”, tradisi ini dilakukan secara berpasangan saling berhadapan dengan alu ditangan sambil memecahkan biji padi dalam lesung, sesekali memukul badan lesung mengikuti irama rebana. Tradisi ini memiliki nilai kearifan dan kebersamaan, dalam prosesi ini, strata antara Pemilik sawah dan Buruhnya, Petani yang memiliki sawah luas atau hanya sepetak pun memiliki kedudukan yang sama. Hal ini menggambarkan bagaimana hubungan sosial yang baik antara sesama.

Berdasarkan pembahasan Irwan Abbas, Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun Ternate dalam Studinya yang berjudul “Kearifan Lokal Manusia Bugis yang Terlupakan” setidaknya ada beberapa Pappaseng atau nilai-nilai falsafah Leluhur Bugis diantaranya adalah Nilai Religius, nilai kejujuran, disiplin, kerja keras, dan Kemandirian. Nilai religius berlandaskan pada kepercayaan Manusia Bugis kuno tentang konsep Dewata Seuwwae (Ketuhanan yang Maha Esa), Nilai kejujuran, disiplin, kerja keras, dan kemandirian.

Hal tersebut terinterpretasikan dalam falsafah Bugis yang berbunyi “Sadda mappabati ada, ada mappabati gau’, gau’ mappabati tau” yang berarti bunyi mewujudkan kata, kata mewujudkan perilaku, perilaku mewujudkan Manusia. Falsafah ini yang menjadi prinsip Manusia bugis dalam bertutur kata dan bertindak demi menjaga rasa malu (siri’), Siri’ ini memiliki makna luas diantaranya yang pertama yaitu siri’ kepada Sang Pencipta artinya rasa malu kepada Sang Pencipta ketika jauh dari ajaran-ajaran religius, Hal ini diwujudkan dalam ketakwaan seorang Hamba dengan penuh kepasrahan.

Kedua, Siri’ kepada sesama ciptaan artinya rasa malu terhadap sesama ciptaan ketika melanggar norma-norma sosial dan hukum adat yang berlaku, Seseorang dapat dikatakan Manusia apabila memiliki rasa malu (siri’) dapat menjaga lisan dan perbuatannya dari sesuatu yang buruk, hal itulah yang menandakan bahwa seseorang itu adalah manusia, bukan hanya sekedar jasad yang berjalan.

Oleh karenanya, stigma yang memandang bahwa Manusia Bugis berwatak kasar dan tak berprikemanusiaan tidaklah dapat dibenarkan. Setelah memaknai filosofi hidup beberapa falsafah yang telah dituangkan secara tulisan dalam lontarak (naskah kuno) atau sureq (tulisan berisi pesan) maupun secara lisan melalui tutur kata yang berkembang turun temurun didapatkan bahwa Manusia bugis sesungguhnya sangat menghargai dan menjunjung tinggi etika dan adab baik antara Manusia dengan sang Pencipta, Manusia dengan Manusia, dan Manusia dengan Alam

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ahmad Arfandi