Mengajari Anak Menghidupkan Sebuah Dongeng


Mengajari Anak Menghidupkan Sebuah Dongeng 1

Anak perempuanku tahun ini berumur 7 tahun, masa transisi dari Balita menjadi Anak-Anak. Banyak perubahan yang terjadi padanya menjelang memasuki umur 7 tahun: tubuhnya berangsur-angsur meninggi, wajah makin tirus, setiap 3 bulan sekali peri gigi mengambil satu persatu gigi susunya, dan masih banyak lagi. Tapi satu hal sangat terasa adalah prilakunya berubah, ia mulai mengkhianati tokoh kartun Doraemon dan Spongebob  yang sudah menemani hari-harinya selama kurang lebih 6 tahun, hatinya sudah beralih pada tokoh kartu putri-putri dari Disney Club. 

Ia bisa duduk berjam-jam memelototi Bella dan Beast berdansa di ballroom, atau Si Cinderella yang selalu kehilangan salah satu sepatunya, bahkan Moana yang pergi berlayar dan gak pulang-pulang. Bukan hanya itu saja, seperangkat lipstik dan bedak milikku pun jadi korban untuk praktek berdandan ala Snow White. “Sudah mirip Bella kan Bun?” tanyanya dengan bibir coreng moreng lipstik pink. Kujawab dengan tepokan keras di jidatku, “Alamak!”  

Kurenung-renungkan segala perubahan yang terjadi sepertinya masih dalam batas kewajaran, normal untuk anak seusianya dalam rangka mencari jati diri. Mungkin dulu sewaktu kukecil juga begitu, bermimpi menjadi seorang putri dengan gaun indah dan sepatu kaca, hanya pencarian jati diriku waktu itu berhenti di jalan. Penyebabnya di jaman itu rata-rata orang tua mempersiapkan anaknya untuk menjadi pegawai kantor bukan entertainer profesional, faktor terbatasnya akses informasi dan minimnya kesempatan kerja menjadi kreator seni.  

Tapi di jaman sekarang segalanya mungkin bukan? Setelah berselancar mencari informasi di Google, maka berhasil terkumpul langkah-langkah yang bisa membuat mimpi anak perempuanku menjadi kenyataan. 

  1. Aku biarkan dia bolak-balik melihat tokoh kartun princes kesukaannya, dengan tujuan supaya ia mempelajari karakter tokoh utama dan para pemain pendukung, menghafal jalan cerita dan qoutes yang sering muncul dalam dongeng anak. 
  2. Langkah selanjutnya memintanya menulis kembali jalan cerita, biarkan dia mengerjakan sendiri sehingga kita bisa tahu sejauh mana kemampuan pemahamannya pada sebuah kejadian. Terkadang cerita yang ditulis bisa ada tambahan-tambahan imajinasi liar versi anak kecil, atau malah melenceng dari kisah sebenarnya, biarkan saja. Itu tandanya anak kita kreatif dan mampu melampaui kebiasaan anak-anak lain. 
  3. Cerita yang sudah ia buat mulai diubah menjadi dialog percakapan, buat sesingkat mungkin, atau hanya dialog adegan tertentu. Di tahap ini memang agak susah dan membutuhkan kesabaran kita untuk membimbingnya. Orang dewasa saja belum tentu bisa membuat dialog, apalagi anak kecil. Cara yang bisa ditempuh adalah dengan mendengarkan beberapa adegan percakapan dalam film favoritnya, lalu ubah percakapan lisan tadi ke bentuk tulisan. 
  4. Setelah dialog selesai maka kini saatnya menghidupkan tulisan tadi menjadi kenyataan, caranya minta anak untuk menggambar tokoh dalam dialog tadi, misalnya tokoh Mulan dengan Ayahnya, atau Bella dengan Beast. Minta ia gambar dan warnai seindah mungkin. Biarkan ia berkreasi, mungkin ia ingin tokohnya memakai kostum bentuk lain, bisa juga bentuk rambutnya dibuat beda, atau senjata tokoh utamanya diubah lebih modern, misalnya Mulan pakai senapan, bahkan biarkan saja ketika ia menggambar Cinderella memakai sneakers. Potong gambar-gambar tadi dan beri tangkai di belakangnya seperti wayang. 
  5. Sekarang saatnya Show! Sebelumnya persiapkan dulu gadget untuk merekam pertunjukan kecil yang akan dibuat. Mungkin bisa dibuat panggung mini, atau bila tidak ada juga gak papa. Kita bisa berbagi tugas memainkan peran, lakukan drama singkat sesuai dengan dialog yang sudah dibuat. Ingat untuk merekam kegiatan menyenangkan ini, setelah itu upload drama tadi ke media sosial anak kita.  
  6. Sekarang saatnya Show! Sebelumnya persiapkan dulu gadget untuk merekam pertunjukan kecil yang akan dibuat. Mungkin bisa dibuat panggung mini, atau bila tidak ada juga gak papa. Kita bisa berbagi tugas memainkan peran, lakukan drama singkat sesuai dengan dialog yang sudah dibuat. Ingat untuk merekam kegiatan menyenangkan ini, setelah itu upload drama tadi ke media sosial anak kita.  

Panggung Boneka

Tentu saja project  kecil ini membutuhkan beberapa hari untuk selesai, kesabaran tingkat tinggi dan perhatian ekstra dari kita. Namun kegiatan ini sangat membantu anak mengenal banyak kemampuan atau skill 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nana Hadinata

   

Setiap detik kehidupan untuk menghidupi hidup.

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap