Mengapa Aku Seperti Ini?

Mengapa Aku Seperti Ini? 1

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Kami sudah lama duduk di sini sambil menceritakan banyak hal mengenai kehidupan kami. Sudah sekian lama aku mengenal mereka. Mereka adalah teman-temanku mulai dari SMA dulu. Setiap malam minggu kami selalu begadang dan saling menceritakan keseluruhan hidup kami.

Dalam keadaan mengantuk, aku pun berpamitan pulang. Pulang kembali ke kos. Atau juga pulang kembali kehidupan pribadiku. Kembali bergulat dengan diriku. Kembali bertualang dengan hidup. Di atas motor bututku, suara batinku terus menganggu. Mengapa aku selalu mengingkari janji yang aku buat sendiri untuk berubah? Setiap kali aku menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna, pasti selalu ada penyesalan. Setiap kali menyesal aku berjanji untuk berubah. Sialnya, aku tidak pernah menepati janji itu. Aku jatuh pada kesalahan yang sama.

Masih  di atas motor, aku bertanya kepada diriku, mengapa aku selalu menjadi pemalu ketika berhadapan dengan banyak orang? Yah….aku belum mengenal diriku sendiri lebih baik. Aku frustrasi mengapa aku sepert ini? Aku kenal temanku dengan baik dan aku tidak kenal diriku dengan baik. Ah.. ironis sekali.

Sampai di kos aku langsung menghempaskan diriku di tempat tidur. Aku menghempaskan segala masalahku di tempat tidur. Setidaknya, aku  istirahat dulu sebelum memulai pencarian akan jati diriku.

Tepat pukul 09.00, aku bangun, tidak tahu mengapa, aku masih memikirkan tentang nasib dan perjalanan hidupku. Aku merasa bingung, mengapa aku mengambil jurusan ini dalam kuliahku selama ini. Padahal aku sudah berlangkah jauh dan aku bingung dengan diriku. “Ah…Tuhan ..mengapa aku seperti ini?  Mengapa aku belum mengenal diriku dengan lebih baik?  Dalam doaku aku selalu bertanya pada-Mu, namun aku tidak mendapat jawaban. Tuhan sekarang terserah diri-Mu saja. Dalam doaku ini, aku hanya mampu memohon agar aku dapat mengenal diriku dengan lebih baik agar aku dapat melangkah dengan pasti dalam penziarahan hidupku.”

Dengan langkah perlahan, aku menuju warung dekat kosku untuk sekedar minum kopi agar aku tidak mengantuk terus. Sampai di warung aku sengaja memilih tempat duduk paling pojok agar aku bisa nyaman dengan diriku sendiri. Semua tempat duduk sudah terisi penuh. Hanya ada satu tempat duduk dan bersebelahan dengan seorang bapak tua. “Ah…aku lebih baik duduk saja..toh ..warung ini kan bukan milik bapak tua ini. Aku tidak boleh malu. Aku punyak hak untuk duduk di warung ini.” Aku pun berlangkah menuju ke tempat duduk tersebut sambil menguatkan diriku agar tidak malu.

“Maaf pak..aku bisa duduk di sebelah bapak?” “Monggo nak”, jawab bapak tersebut. Aku merasa canggung sekali duduk dengan bapak ini. Aku meminum kopi sambil terdiam. Aku hanya melamun. Termangu dalam kesepian.

Ternyata sedari tadi, bapak itu memperhatikan saya. Dia pun membuyarkan lamunan saya, dengan berkata, “permisi nak, apakah gerangan yang engkau pikirkan dan gelisahkan?” Dalam hati, aku membuat pertimbangan akankah aku menceritakan pergumulan hidupku? Tapi aku juga berpikir, bapak ini sudah sangat tua pasti ia memiliki banyak pengalaman tentang bagaimana menjalani hidup ini. Semoga kalau aku menceritkan kisah dan masalah yang aku alami sekarang ini, ia akan membantuku. Aku memutuskan menceritakan pergumulan hidupku.

Ia hanya tersenyum mendengar semua pengakuanku. Bapak tua itu berkata “Nak, kamu setidaknya harus bersyukur karena kamu mempunyai pengalaman dan pergumulan seperti ini. Nak, aku mau bertanya, apakah kamu mengenal dengan baik karakter dan sifat dari teman-teman karibmu?” Aku hanya mengangguk. “Begini nak, setiap hari kamu bergaul dengan teman-temanmu. Kamu sering minum dan makan bersama mereka. Kamu kuliah dengan mereka. Singkatnya Sebagian besar waktu, kamu habiskan bersama mereka. Karena kamu bergaul maka kamu bisa mengenal mereka, mengenal semua karakter dan kecendrungan mereka.”

Sambil menghela napas ia kemudian melanjutkan, “Nak, kamu kurang bergaul dengan diri kamu sendiri. Kamu kurang mempunyai waktu sendiri untuk berdialog dengan diri kamu sendiri. Kamu kurang menghabiskan banyak waktu untuk diri kamu sendiri. Seperti kamu bergaul dengan teman-teman karibmu maka kamu mengenal mereka maka kamu perlu juga bergaul lebih dalam dengan diri kamu sendiri maka kamu akan mengenal diri kamu sendiri. mungkin virus corona yang ada saat ini membuat kita kembali ke dalam diri kita saat ini.”

Jawaban bapak tua ini benar-benar menghantam diriku. Benar, aku kurang memiliki waktu pribadi untuk berdialog dengan diri sendiri. Sesaat aku merenung. Dan jawaban bapak tua ini benar-benar menyadarkan diriku. Inilah jawaban yang aku tunggu-tunggu dan sungguh memuaskan pencarianku selama ini.

“Terimakasih atas jawabannya pak.” Sebenarnya, aku ingin cepat-cepat mempraktekkan hal ini. Aku berpamitan cepat-cepat dengan bapak tua itu. Ketika aku berdiri, ia berkata, “ Nak, ada satu hal lagi yang sekiranya perlu kamu tahu.” Aku pun kembali duduk dan karena penasaran aku berusaha mendengarkan dengan saksama. Ia hanya Kembali tersenyum dan berkata “ Nak jangan lupa untuk mengenal Tuhan. Seperti kamu mengenal teman kamu dengan baik karena pergaulan sehari-hari dengan mereka. Maka bergaulah juga dengan Tuhan setiap hari, berdialoglah dengan Dia setiap saat, sering-seringlah minum kopi dengan Dia. Kelak kamu akan mengenal Dia dan akan selalu menjadi Sahabat kamu selamanya.”

Lagi-lagi perkataan bapak ini  menyadarkan diriku. Sambil menunduk aku hanya berkata, terimakasih pak atas segala nasihatnya, aku akan selalu mengingat perkataan bapak. sekali lagi terimakasih pak.”  Bapak tua ini berkata, jangan berterimakasih kepadaku nak, tetapi berterimakasihlah kepada Ia yang menciptakan kamu nak.” “ia pak dan aku mohon pamit.” “silahkan nak.”

Aku Kembali ke kos dengan perasaan lega. Aku mengunci pintu. Aku kembali merebahkan diri di tempat tidur. Dalam keadaan rebahan, aku mengucapkan syukur. Dalam doa, aku dibawa pada kesadaran mungkin kehadiran bapak tua ini merupakan jawaban doaku sebelum aku pergi minum kopi tadi. Aku hanya mampu bersyukur untuk semua perjalanan hidupku hingga saat ini. Dari masa ke masa pasti akan ada yang berubah dalam hidupku. Seiring berjalannya usia, aku pasti bisa menemukan sesuatu dalam diri yang tidak diduga sebelumnya. Tidak selamanya aku akan menjadi seseorang dengan perilaku yang sama. Aku adalah seseorang yang tadinya suka berada di keramaian bisa jadi orang yang menikmati kesendirian.

Aku bangun dari tempat tidur dan melanjutkan hidupku dengan penuh semangat.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

kardi manfour