Mengapa Ayah? – Segalanya Tentang Ayah dan Ibu

Mengapa Ayah? – Segalanya Tentang Ayah dan Ibu 1

“Aku menyimpan sedikit rasa penasaran. Dalam hadist dikatakan bahwa Rasul menyebutkan nama ibu sebanyak tiga kali, sementara nama ayah hanya satu kali. Namun, mengapa segala tentang ayah justru terekam rapi dalam memoriku?”

***

Tia, salah satu sahabatku yang bisa menjadi tempatku melepas perisai kelemahan. Beberapa sifat kami menemui kesamaan, membuat kami bersahabat dan sering berbincang tentang segala hal.

Seperti hari itu, kami duduk bersama di deretan kursi usang teras depan sebuah kantor pos. Di sela istirahat kegiatan yang berlangsung di sana, kami memilih tema pembicaraan mengenai orang tua—dua orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kami sejak lahir.

Kami sama-sama kehilangan ayah. Aku sejak usia 11 tahun dan dia pada usia 20 tahun. Meskipun begitu rasanya sama, menyakitkan dan tanpa persiapan. Bagiku, ayah adalah sosok yang sangat menginspirasi. Beliau memiliki berjuta pepatah kehidupan untuk menyikapi segala sesuatu di dunia ini yang tidak berjalan seirama dengan kehendak kita. Bak penyair memang, dan butuh kesadaran ekstra untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan karena harus mengerti maksud kalimatnya terlebih dulu.

Bagi Tia, ayahnya adalah pahlawan tanpa jubah. Banyak hal yang bisa ia tiru dari kebiasaan ayahnya semasa hidup. Ia menyesal baru menyadari kebiasaan itu baik untuknya setelah ayahnya tiada.

“Dulu, ayahku selalu membaca setiap pagi. Beberapa kali beliau memintaku untuk melakukan kebiasaan yang sama, namun aku selalu mengelaknya. Entah dengan jawaban bukan keturunan yang suka membaca atau yang paling sering adalah tak punya waktu. Dan kali ini aku sadar, mengapa beliau memintaku membiasakan membaca.”

“Apa yang kamu sadari?” tanyaku.

“Membaca di pagi hari akan memengaruhi kesegaran otak dan dapat lebih mudah menyerap ilmu baru yang mungkin jika pada waktu lain kita sulit menerimanya,” jawab Tia.

Aku sepenuhnya menyadari, keterbukaan pikiran kami berdua tak terlepas dari peran ayah kami pada masa lampau. Tentunya, dengan cara masing-masing.

“Aku menyimpan sedikit rasa penasaran,” kata Tia secara tiba-tiba.

“Apa itu?” tanyaku.

“Dalam hadist dikatakan bahwa Rasul menyebutkan nama ibu sebanyak tiga kali, sementara nama ayah hanya satu kali. Namun, mengapa segala tentang ayah justru terekam rapi dalam memoriku?” tanyanya sambil terkekeh. Aku juga ikut tertawa.

“Aku pun merasakan hal yang sama. Bukan berarti ibu memiliki peran yang tidak penting dalam keluarga, hanya saja pelajaran dari ayah lebih mampu untuk masuk ke dalam hati dan pikiranku,” jawabku.

“Ya, aku setuju denganmu. Mungkin, karena naluri kita sama dengan seorang Ibu yang lebih mementingkan rasa. Seperti magnet, cara kerja naluri kita mungkin akan saling menolak karena kutub kita semua sama.” Kata-kata Tia memang seperti bercanda, tapi ada benarnya juga.

“Tapi, aku punya sebuah cerita untukmu tentang hubungan temanku dan ayahnya.”

“Seperti apa itu?” tanya Tia.

“Temanku seorang laki-laki, dan ia sangat menghargai keberadaan ayahnya. Semasa hidup, ayahnya selalu mendukung apa yang temanku lakukan dan memberikan saran ketika terdapat kekurangan dalam pekerjaan anaknya. Seperti yang kukatakan tadi, bukan ia menghilangkan peran ibunya dalam keluarga, hanya saja ia merasa lebih terisi saat mendapat dukungan ayahnya.”

“Memang, karakter seorang ayah sangat berpengaruh dalam kehidupan berkeluarga, baik untuk mengimbangi istri maupun membentuk pola pikir anak-anaknya.”

“Satu hal yang kuingat bahwa temanku pernah berkata, ‘Mungkin aku tak boleh bersikap seperti ini, tapi aku sungguh menyesali bagaimana dulu ayah berjuang sendiri dalam diamnya. Beliau tak pernah mengeluh di hadapanku, semuanya beliau simpan rapi dalam dirinya sendiri. Jadi, jika dalam hadist nama Ibu ditempatkan pada posisi pertama, kedua, dan ketiga dalam hal yang wajib kita perlakukan dengan baik, maka aku akan menempatkan ayahku pada posisi keempat, kelima, dan keenam. Memang tak memiliki pengaruh apapun, tapi semata aku hanya ingin memuliakannya sama dengan seorang ibu.’

Satu hal yang dapat kupelajari, bahwa setiap anak memiliki apresiasi masing-masing kepada orang tua. Tanpa membedakan keduanya, ayah dan ibu memiliki peran yang sama-sama penting dalam kehidupan kita. Karena sejatinya, kehilangan salah satu dari mereka akan membuat jalan hidup kita tidak lagi seirama. Memang hidup kita akan terus berjalan, meskipun istimewanya tak lagi sama.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Annisa Istika