Mengapa Indonesian Basketball League 2021 Patut Ditunggu?


Mengapa Indonesian Basketball League 2021 Patut Ditunggu? 1

Kompetisi kasta tertinggi bola basket nasional yaitu Indonesian Basketball League (IBL) musim 2021 akan segera bergulir dalam waktu dekat, ajang yang mempertemukan tim-tim terbaik di Indonesia ini akan memulai musimnya pada 15 Januari mendatang dengan sistem bubble dimana penonton tidak diperbolehkan untuk hadir di venue pertandingan.

Salah satu pertandingan Indonesian Basketball League 2020
Salah satu pertandingan Indonesian Basketball League 2020

Kembalinya IBL bisa dibilang menuntaskan dahaga pencinta basket Indonesia untuk kembali menyaksikan tim favoritnya bertanding, karena bisa dibilang IBL sudah sekitar 10 bulan tidak berlangsung sebagai imbas dari pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia dan juga dunia.

IBL sendiri terakhir melaksanakan pertandingan pada seri keenam yang berlangsung di DBL Arena, Surabaya pada 6-8 Maret 2020 lalu, dan kemudian diputuskan dihentikan tepat sebelum dimulainya seri ketujuh IBL di GOR Bimasakti, Malang pada 13 Maret 2020 tanpa menghasilkan juara.

Selain menuntaskan dahaga pencinta basket akan aksi pemain-pemainnterbaik Indonesia, berikut adalah beberapa alasan IBL 2021 ini cukup menarik dan patut untuk ditunggu oleh pencinta basket Indonesia.

Adopsi Sistem Bubble Layaknya NBA

Bagi pencinta NBA, kata-kata bubble sangat mahfum terdengar tahun 2020 lalu. Tentu saja, karena NBA musim lalu menggunakan sistem bubble untuk menyelesaikan musimnya yang sempat tertunda akibat pandemi COVID-19 yang melanda Amerika Serikat. Berpusat di Walt Disney World, Florida, Colorado yang terbilang memiliki fasilitas yang cukup mumpuni untuk menggelar laga-laga NBA, langkah tersebut nampaknya cukup berhasil menekan penyebaran virus COVID-19 dengan tercatat tidak ada kasus yang timbul dari bubble NBA.

Sistem bubble tersebut nampaknya juga akan digunakan oleh IBL pada musim ini, yang memang sudah direncanakan akan dilakukan untuk melanjutkan musim 2020 yang tertunda juga, namun akhirnya dibatalkan menjelang hari-hari terakhir. Mahaka Square Arena, Kelapa Gading, Jakarta Utara dipilih sebagai tempat pelaksanaan bubble IBL, fasilitas yang terbilang lengkap dengan hotel yang juga menyatu dengan kompleks lapangan membuat tempat tersebut dipilih. Simulasi dan protokol kesehatan telah disiapkan oleh IBL dan mendapat dukungan juga dari berbagai pihak, sehingga apabila IBL berhasil melaksanakan bubble tanpa timbul kasus COVID-19, maka bisa dibilang IBL dapat menjadi contoh bagi kompetisi lainnya di Indonesia.

Munculnya West Bandits dan Bali United

IBL musim ini membuka kesempatan untuk dua tim baru bergabung sebagai peserta IBL, dan setelah melalui proses verifikasi yang cukup ketat, didapatkanlah West Bandits Solo dan Bali United Basketball sebagai peserta baru IBL 2021. West Bandits Solo bisa dibilang membangun kekuatan yang cukup besar di musim debutnya, dengan mendatangkan pemain-pemain seperti Widyanta Putra Teja, Mei Joni, Cassiopeia Manuputty, hingga Andre Adrianno yang dipadukan dengan tangan dingin pelatih yang cukup berpengalaman di kompetisi pelajar Jap Ricky Lesmana. Bali United Basketball juga tidak bisa dipandang sebelah mata, nama besar di sepakbola membuat mereka berhasil menggaet pemain seperti Daniel Wenas, Surliyadin, Yerikho Tuasela, bahkan membawa pemain senior Ponsianus Nyoman Indrawan untuk kembali ke basket profesional. Melihat kekuatan kedua tim tersebut, bukan tidak mungkin mereka bisa mengacak-acak peta persaingan IBL musim ini.

Tidak Ada Pemain Asing (Lagi)

Imbas pandemi COVID-19, IBL tidak dapat menghadirkan pemain asing dalam kompetisi musim ini. Kita akan kembali melihat IBL bermain seperti layaknya sebelum musim 2017 yang menjadi musim pertama penggunaan pemain asing kembali di basket profesional Indonesia. Jika anda merindukan kompetisi tanpa pemain asing seperti di IBL (sebelum NBL Indonesia diadakan) atau NBL Indonesia bergulir, maka musim ini adalah saatnya. Sehingga kita akan melihat kemampuan dari pemain-pemain Indonesia yang akan berhadapan satu sama lain, tanpa “termakan” menit bermainnya oleh pemain asing. Kekuatan tim-tim dengan atau tanpa pemain asing juga bisa dibilang akan berubah kembali, namun dengan hilangnya pemain asing maka tim-tim yang punya banyak pemain lokal berkualitas seperti Satria Muda Pertamina, Prawira Bandung, dan Pelita Jaya Bakrie diprediksi akan mendominasi, tanpa mengesampingkan kejutan dari tim-tim lain yang berpotensi muncul.

Pemain Naturalisasi Akhirnya Boleh Bermain

Masalah pemain naturalisasi ini sempat ramai beberapa waktu kebelakang, dimana IBL awalnya merevisi definisi pemain naturalisasi sehingga bisa kembali bermain, namun belakangan aturan ini sedikit dimundurkan ke musim berikutnya setelah melakukan pertemuan dengan seluruh tim peserta, dimana mayoritas menginginkan bermain dengan hanya pemain asli Indonesia saja. Kontan hal tersebut membuat kekecewaanbagi sejumlah pihak, terutama bagi dua nama pemain naturalisasi yang telah memperkuat Indonesia di turnamen internasional yaitu Ebrahim Enguio Lopez atau Biboy dan Jamarr Andre Johnson serta pencinta basket nasional. Setelah Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PERBASI) turun tangan dan menyatakan kedua nama tersebut bisa bermain di IBL dan menyerahkan keputusan kepada IBL, akhirnya mereka mengizinkan Biboy dan Jamarr bermain. Keduanya pun sudah mendapat klub yang akan menggunakan jasa mereka, Biboy merapat ke tim NSHnMountain Gold Timika sedangkan Jamarr “bertahan” di Louvre Dewa United Surabaya yang memang sudah merekrutnya sejak awal, namun berstatus practice player karena masih memulihkan diri pasca cedera yang sempat membelitnya.

Pemain Senior “Turun Gunung”

Musim yang berlangsung singkat dengan hanya dua bulan serta tidak adanya pemain asing, membuat sejumlah nama yang sempat hilang dari kancah perbasketan nasional akan kembali bermain. Dua mantan pemain CLS Knights yang sempat berlaga di ASEAN Basketball League (ABL) dan Thailand Basketball Super League (TBSL) yaitu Rachmad Febri Utomo dan Sandy Febriansyakh akan kembali, dimana Febri akan berseragam Bank BPD DIY Bima Perkasa Jogjakarta dan Sandy bermain untuk Louvre Dewa United Surabaya bersama dengan mantan pemain Aspac yang juga kembali bermain yaitu Stefan Carsera. Selain itu ada dua pemain veteran yang bermain untuk West Bandits Solo yaitu Merio Ferdiansyah yang pernah bermain untuk Stadium Jakarta dan Pringgo Regowo yang juga mantan pemain Stadium dan Stapac dan pernah meraih Most Valuable Player (MVP) NBL Indonesia 2012/13, serta Ponsianus Nyoman Indrawan yang merupakan peraih MVP NBL Indonesia musim 2013/14 dan kini memperkuat Bali United Basketball.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Fariz Maghriza

   

Seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi yang juga saat ini bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio swasta di Kota Semarang, memiliki ketertarikan di bidang olahraga.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap