Mengapa Kita Membenci Mantan?


Mengapa Kita Membenci Mantan? 1

Cinta adalah misteri. Cinta merupakan salah satu misteri paling kuno, dan mungkin yang paling abadi. Dan salah satu bagian dari misteri tersebut adalah bagaimana bisa seseorang dari mencintai dengan cepat membencinya, atau sebaliknya. Ketika melihat orang yang kita sukai, jantung rasanya ingin meledak karena berdetak dengan kencang, tetapi setelah putus, saat melihat mantan rasanya ingin sekali membakar dunia, ada juga yang ingin mantannya mengilang ditelan bumi

Mengapa Kita Membenci Mantan? 3

Memang terlihat seperti cerita-cerita novel pada umumnya, tetapi hal ini memang benar-benar bahkan normal terjadi, tapi bagaimana bisa?

Mengapa kita membenci mantan?

Mengapa Kita Membenci Mantan? 4

Menurut sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan oleh Wellcome Laboratory of Neurobiology menyatakan bahwa rasa benci dan mencintai berasal dari bagian otak yang sama. Ilmuwan mencari suarelawan dan memberinya gambar orang paling dibenci dan orang yang paling dikagumi atau dicintai, dan hasilnya mereka yang melihat gambar orang yang paling dibencinya menemukan bahwa kebencian mencakup 2 bagian di otak, yaitu putamen dan insula.

Putamen adalah bagian dari otak yang berkaitan dengan penghinaan atau rasa jijik, dan juga mungkin termasuk dalam sistem motorik (bagian otak yang mengontrol tindakan atau gerakan). Sedangkan insula merupakan bagian di otak yang terlibat terhadap repons yang mengganggu. Cinta juga mengaktifkan putamen dan insula yang hampir identik dengan yang diaktifkan saat benci. Dengan kata lain, kebencian dan cinta berkaitan satu sama lain di otak.

Ada penjelasan atau fase-fase mengapa kita bisa mengubah cinta menjadi kebencian. Begini, saat awal-awal mencintai atau biasa disebut kasmaran, kita akan mengidealkan pasangan kita (mengabaikan kekurangannya dan memperhatikan yang bagus-bagus saja). “Dengan kata lain, kita melihat atau mengasosiasikan orang yang kita cintai tersebut dengan kepositifan”. Pada titik ini, orang akan melepaskan hormon bahagia, yaitu oksitosin, dopamin, dan serotonin. Dopamin adalah neurotransmitter (senyawa organik yang membawa sinyal di antara neuron) utamalah yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Pada saat fase membangun kepercayaan, cenderung terjadi perkelahian dan perpisahan, karena oksitosin mulai menghilang dan kita akan memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak terlihat dan tidak kita sadari, sampai disiniah muncul ungkapan bahwa “cinta itu buta” (mungkin).

Ketika hubungan putus, sangat jarang sekali kedua belah pihak yang senang dengan putusnya hubungan tersebut, kebanyakan putus cinta diiringi dengan amarah, penyesalan, dendam, kecemburuan, dll. Dan dopamin jugalah yang memainkan peran penting dalam semua emosi ini. Dopamin mendorong perasaan yang membuat orang melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada dan meyebabkan orang memiliki keyakinan yang tidak berdasarkan bukti.

Sebuah penelitian yang dilakukan di University Hospital di Zurich, Swiss, memeriksa 20 orang yang percaya pada hal-hal berbau paranormal dan 20 orang lagi yang tidak percaya. Ketika para peserta diminta untuk mengungkapkan wajah mana yang diacak di antara gambar yang di-flash, secara singkat, orang-orang yang percaya pada paranormal lebih mungkin daripada yang tidak percaya untuk memilih wajah yang acak-acakan sebagai nyata.

Para peneliti memberikan obat yang mengandung L-dopa, efek dari L-dopa sama seperti efek yang diberikan dopamin. Setelah meminum obat tersebut, peserta yang kurang percaya membuat lebih banyak kesalahan saat mencari kata atau wajah yang sebenarnya.

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dopamin dapat membuat kita melihat hal-hal yang tidak ada dan membentuk keyakinan tanpa dukungan bukti yang kuat (atau yang kita sebut sebagai pola pikir delusi). Dengan kata lain, kita akan memaknai hal-hal kecil dan kebetulan yang dia buat, dengan salah.

Saat hubungan berakhir, pola pikir delusi ini akan kembali kuat, terutama jika bukan keputusan kita untuk mengakhiri hubungan tersebut. Keinginan untuk mengobati dopamin yang hanya bisa diberikan oleh mantan membuat kita sedikit delusi, dan membuat kita marah dan benci terhadap orang tersebut, “mantan”.

Kesimpulan:

Jangan mengandalkan pikiran kita untuk membuat sebuah keputusan yang tepat, mintalah saran kepada teman atau keluarga. Karena otak tidak dapat berpikir dengan jernih dan kritis.

Artikel diatas menjawab beberapa pertanyaan kita sekaligus, mulai dari mengapa kita bisa mengetahui hal-hal yang detail saat benci, GR (gede rasa) saat jatuh cinta, dan mengapa kita benci mantan.

Sumber Referensi:

1. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-mysteries-love…
2. https://swipelife.tinder.com/post/i-hate-my-ex
3. https://www.inc.com/melanie-curtin/ever-hated-someone-you-used…


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Fathurrahman Al-Rasyid

   

Bukan siapa-siapa

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments