Mengapa Orang Mudah Percaya Pada Teori Konspirasi?


Masih ingatkah ketika awal pandemi COVID-19, teori konspirasi merajalela. Entah pemikiran dari mana bahwa virus corona disebarkan oleh teknologi 5G.

Ada pula yang berpendapat bahwa saat kita diberi vaksin sebenarnya ada chip yang ditanam pada tubuh kita, sehingga koin dapat menempel di tempat bekas vaksin. 

Bahkan, hingga saat ini masih ada yang beranggapan bahwa virus corona itu tidak ada.

Sebagian kita menganggap pemikiran semacam itu tampak aneh dan konyol. Kita tidak habis pikir mengapa ada orang yang mempercayainya.

Namun, para peneliti di  bidang psikologi telah menemukan berbagai faktor penjelas, dari proses persepsi dasar hingga masalah emosional.

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Vrije Universiteit Amsterdam menunjukkan bahwa orang yang memiliki kecenderungan pola ilusi yang tinggi, ia adalah orang yang percaya pada teori konspirasi.

Mereka cenderung melihat hubungan nyata pada sesuatu yang mustahil.

Faktor lain, orang yang mudah percaya pada teori konspirasi adalah mereka yang tidak memiliki ilmu di bidangnya.

Bahkan, ia juga tidak memiliki keterampilan berprikir kritis yang dapat membantu mereka menemukan bahwa teori liar mereka itu tidaklah nyata.

Lebih buruk lagi, pada orang-orang yang percaya pada teori konspirasi, sering kali menjadi begitu percaya diri bahwa mereka memiliki pengetahuan yang tinggi.

Hal ini membuat mereka tidak tergoyahkan akan kepercayaannya. Mereka tidak akan mudah dibantah oleh orang lain.

Bahkan, ketika mereka memiliki pemikiran yang sama, mereka akan membentuk sebuah komunitas yang tidak tergoyahkan.

Akanlah sulit bagi kita untuk meyakinkan bahwa pemikiran mereka tidaklah benar.

Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa orang yang percaya terhadap teori konspirasi lebih rentan terhadap kecemasan.

Mereka juga cenderung tidak dapat mengendalikan diri atas perasaan dan keyakinannya. Semoga kita tidak tergolong ke dalamnya.