Mengapa Sulit Menerima Gagasan Orang Lain?


Mengapa Sulit Menerima Gagasan Orang Lain? 1

Di sebuah pos kamling (keamanan lingkungan) di pinggir pantai desa saya, Pulau Mandangin, beberapa orang berdiskusi perihal sembarang soal. Mereka yang terlibat terdiri dari beragam latar belakang, mayoritas dari mereka berprofesi sebagai nelayan dan berusia lanjut. Biasanya mereka hanya sekedar “nyangkruk” (ngobrol ringan) perihal pekerjaan atau saking asyiknya sampai pada agenda rasan-rasan. Dan nyaris nyangkruk semacam ini saban hari terjadi di pos kamling tersebut. Namun, kali ini berbeda. Mereka diskusi serius.

Salah seorang dari mereka, memberikan banyak gagasan terkait problematika yang mendera desa saya. Nalar argumentasinya cukup memuaskan akal saya. Beberapa yang lain yang terlibat di sana acuh tak acuh dan malah menertawakannya. Saya yang menyaksikan dari awal, menyetujui gagasan yang cukup brilian itu. Karena saya terbilang muda, saya membiarkannya dan sama sekali tidak turut menimpali. Gagasan-gagasan brilian tersebut datang dari para genius lokal yang tidak satupun dari mereka tamat Sekolah Dasar. Namun, di situlah masalahnya. Lantaran gagasan tersebut lahir darinya, maka dianggap hal tersebut tidak punya pengaruh dan bahkan menguap menjadi bahan candaan.

Bangsa kita, terkadang untuk menerima sesuatu perlu memandang dari “siapa yang memberi” sesuatu tersebut, bukan memandang “apa yang diberikan”. Kultur semacam ini rupa-rupanya menjadi gejala yang menasional, tak hanya mewabah masyarakat di desa saya. Menerima sebuah gagasan, sulitnya minta ampun.

Gagasan, dalam bahasa Widyamartaya (1990) adalah kesan dalam dunia batin seseorang yang hendak disampaikan kepada orang lain. Lalu, apa jadinya suara-suara batin yang lahir dari pemikiran cemerlang itu tidak termuntahkan, atau terabjad membentuk kata namun tertolak mentah dan nyaris seperti tidak berharga? Mutlak, perubahan selamanya akan menjadi makhluk mati. Presiden pertama kita, Ir. Soekarno berkata, “Saya lebih menyukai pemuda-pemuda yang nongkrong minum kopi sambil berdiskusi memberi gagasan memikirkan nasib bangsa, daripada pemuda kutu buku yang hanya memikirkan nasibnya sendiri…”

Akhir-akhir ini, bangsa kita –baik individual maupun kelompok– banyak mencurigai ruang diskusi. Ruang diskusi sebagai manifestasi lahirnya sebuah gagasan, mereka anggap sebagai ancaman. Mengeksplorasi pendapat sebagai hak yang dijamin konstitusi ditekan dan dimatai-matai. Adegan pembubaran forum diskusi yang banyak terjadi, semacam mendapatkan tempat pembenaran.

Spirit memberikan gagasan terkadang membuat orang-orang yang tidak sependapat mendengarnya bersikap paranoid. Alih-alih menghargai, mereka memutilasi secara paksa tanpa perlu mengklarifikasi. Tumbuh kembang gagasan seperti racun yang mematikan sepihak. Gagasan dinilai laksana belati, kadang seperti jeruji besi. Banyak kita jumpai, anak bangsa “memenggal” lidah kritis bangsa sendiri. Budaya tutup telinga, bahkan dengan jumawa melempar tawa padanya yang dengan cemerlang berargumentasi.

Tidak puas dengan mempersekusi sebuah forum diskusi, mereka juga menghanguskan buku yang di dalamnya tertuang aneka konsep dan gagasan. Pada akhirnya, menuangkan gagasan seperti harus sembunyi-sembunyi dan tak boleh satu orangpun tahu. Berargumentasi dengan nada mengkritisi, kemudian dikriminalisasi. Menuangkan gagasan dianggap penghinaan. Menelorkan ide tak lagi sebagai mode. Ancamannya adalah ditertawakan atau yang paling ekstrem dianggap antimainstream.

Kita berada di alam demokrasi seperti dihadapkan pada suguhan buah simalakama. Satu sisi kita diberi hak konstitusi untuk berbicara, namun di sisi yang berbeda kita berada dalam tekanan hukum jalanan yang semena-mena. Berpendapat di ruang ini laksana berjalan di atas sepetak jembatan gantung. Terpeleset sedikit saja, kita terperosok dan jatuh sulit untuk kembali.

Ada yang tak beres dari pola pikir bangsa kita. Ini bukan soal tidak menyetujui, namun lebih pada menolak dan terkadang memusuhi. harusnya membuat agitasi berupa pemikiran dilawan dengan pemikiran (ghazwu al-fikr). Kalau meyakini bahwa gagasan tersebut tidak sesuai, maka hadirkan gagasan yang pas melawan gagasan yang dianggap tidak sesuai itu. Selain dari itu, perlunya sebuah kultur menerima dari siapa saja datangnya, sebagaimana kata Nabi, “Undlur ma qala wala tandlur man qala” (pandanglah apa yang terkata, bukan siapa yang berkata). Bahkan, ada satu kalam mutiara Arab yang berbunyi begini, “Khud al-hikmata walaw mindzuburi al-khinziri.” (ambillah kata-kata kebajikan walau ia keluar dari pantat babi). Hanya dengan itu, budaya diskusi kita berlangsung seru, hangat dan bersahabat. Implikasinya, segala problematika yang membentang di depan mata dapat dengan mudah menemukan jalan yang lapang.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments