Mengenal kerapuhan dengan menunggangi Harapan


Mengenal kerapuhan dengan menunggangi Harapan 1

Dikutip dari salah satu bukunya, Mark Manson menjelaskan “Semakin baik keadaan yang kita dapat, semakin parah pula keputusasaan yang melanda kita. Itu adalah paradoks kemajuan”

Keadaan yang semakin baik adalah tempat yang berbahaya, sebab tidak adanya bahaya didalamnya. Maksudnya, keadaan yang baik membuat kita enggan untuk mengambil resiko, enggan untuk mencoba, enggan untuk berusaha, dan akhirnya kita termakan oleh rasa nyaman yang membuat kita menjadi makin rapuh.

Kemajuan zaman adalah kekeliruan atau mungkin kesengajaan, saya juga tidak tahu! Tapi yang jelas zaman yang semakin maju bisa dijadikan untuk pengalihkan penderitaan. Dan akibatnya manusia menjadi sangat kekanak-kanakan.  

Mereka membesar-besarkan hal yang remeh : Remot Tv rusak, Jaringan yang lemot, kualitas tayangan yang tidak seru, mantan upload story sama teman cowonya, seblak yang kurang pedas. Dan jika hal remeh ini tidak segera dipenuhi, mereka akan merengek, banting kursi, speak up diinsta story, komen-komen disosial media, merusak fasilitas umum, atau mungkin bunuh diri.

Yahh, kita terjebak dalam nyamannya keadaan yang memaksa kita tanpa harus memaksa kita untuk menjadi semakin rapuh.

Hal ini memperjelas bahwa zona nyaman seperti ini adalah parasit yang secara perlahan menghancurkan kita secara diam-diam. Parasit menempel dikulit, lalu masuk menemembus arteri, dibawa kembali ke aorta, hingga terus dipompa oleh jantung ke seluruh bagian tubuh. Akhirnya adalah kita hancur tanpa disadari.

Menjadi rapuh adalah evolusi keterpurukan yang didasari dengan rasa nyaman. Ketika hidup sudah tidak lagi memiliki ambisi, saat itu juga saklar menuju kerapuhan sudah ditekan. Ambisi adalah biang dari harapan, dan harapan adalah akar dari alasan kehidupan.

Dan salah satu jawaban dari pertanyaan mengapa semakin kaya dan aman wilayah yang kita tinggali, semakin mungkin kita melakukan bunuh diri.

Ini adalah efek dari kerapuhan yang sudah membusuk dan berakar dalam nadi kita. Ketika hidup berada dalam ketiadaan penderitaan, otomatis toleransi kita terhadap rintangan hari demi hari akan semakin menipis, menyusut, dan semakin mengecil. Karena susutnya permasalahan itu tadi, maka semakin sedikit pula perkara yang kita hadapin didunia.

Kita sudah tidak lagi memikirkan bagaimana bertahan hidup, tidak lagi mempermasalahkan babi ngepet di Depok, tidak lagi mempedulikan urusan rumah tangga kapten Vincent, juga tidak lagi menaruh harapan pada episode terbarunya vincenzo casano. Dan alasannya cuma satu “lost interst”.

Hilangnya ketertarikan mencerminkan ambisi yang sudah hilang entah kemana. Lalu harapan pun perlahan menghilang. So, apakah hidup kini masih berarti?

Harapan merupakan amunisi dari hidup kita sesungguhnya, ketiadaan harapan adalah mobil tanpa bensin. Dan Jika tidak segera mengisinya, kita akan mati. Karena pada dasarnya Hidup adalah persoalan harapan, Ketika harapan hilang manusia hanya akan merasakan kekosongan pada dirinya.

Kita bangun pagi, berangkat kerja, dan segala jenis tetek bengek rutinitas kerjaan lainnya adalah bagian dari proses pemenuhan harapan. Kita berharap memiliki uang yang banyak, maka saya harus berangkat kerja. Saya berharap memiliki pasangan yang cantik, maka saya harus merawat diri. Saya berharap memiliki badan yang bagus, maka saya harus rajin pergi ke pusat kebugaran.

Rumusnya adalah “ Saya berharap ini, maka saya harus melakukan itu.”

Jadi hiduplah dengan terus mengharapkan sesuatu, tapi jangan terlalu berharap kepada dia yang sudah tidak lagi mengharapkanmu. “sebuah closing yang absurd”.

Rapuh, ambisi, dan harapan
Rapuh, ambisi, dan harapan


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Andy Chandra

   

Dari Kelompok Minoritas yang mayoritas menolak untuk bersastra!

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap