Mengenal Pengertian, Tujuan, dan Ciri Berita Bohong

Mengenal Pengertian, Tujuan, dan Ciri Berita Bohong 1

Keberadaan media sosial saat ini memiliki pengaruh yang besar bagi tatanan kehidupan masyarakat. Media sosial memungkinkan para penggunanya untuk mengetahui segala informasi yang ingin diketahuinya. Sayangnya, keberadaan media sosial yang massif digunakan oleh masyarakat ini tidak diseratai dengan filter, baik itu dari penyedia layanan maupun kesadaran para pengguna media sosial itu sendiri. Akibatnya, informasi yang datang kepada para pengguna media sosial ini bercampur aduk. Ada informasi yang merupakan fakta dan tidak sedikit pula informasi tersebut berupa informasi palsu atau berita bohong yang diyakini oleh pengguna media sosial sebagai sebuah kebenaran.

Media sosial menjadi sarana yang paling berpengaruh dalam proses penyebaran berita bohong ini. Hanya dengan satu kali klik, sepersekian detik kemudian berita bohong tersebut langsung tersebar dan dapat diakses oleh para pengguna media sosial lain. Memanfaatkan judul yang mengandung unsur clickbait, berita bohong ini akan sangat mudah untuk ditemukan para pengguna media sosial dan para pengguna media sosial ini pun akan tergugah untuk membuka berita bohong tersebut kemudian menyebarkannya. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan tidak membaca isi dari berita tersebut. Mereka menyebarkan berita bohong tersebut hanya berdasarkan judul yang mereka baca.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai berita bohong, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu berita bohong. Berita bohong atau hoaks yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan hoax merupakan informasi yang tidak berdasar atau tidak memiliki sumber yang jelas dan tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Berita bohong ini berisi informasi yang tidak benar tapi dibuat seolah-olah benar adanya dengan menutupi informasi yang sebenarnya. Tujuan adanya berita bohong ini ialah untuk membuat masyarakat menjadi merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan. Dalam situasi yang demikian, masyarakat cenderung akan membuat keputusan yang serba cepat tanpa memikirkan dampak-dampaknya. Hal inilah yang akan dimanfaatkan oleh para pembuat berita bohong tersebut.

Selain itu, Marwan (dalam Mayaza, 2019) berpendapat bahwa berita bohong memiliki beragam tujuan seperti berikut.

  1. Berita bohong dibuat sebagai hiburan belaka tetapi kemudian dapat dianggap sebagai kebenaran oleh para pembaca.
  2. Berita bohong dibuat sebagai sarana mencari sensasi.
  3. Tidak sedikit berita bohong dibuat karena tuntutan pekerjaan untuk mendapatkan pemasukan yang lebih banyak.
  4. Berita bohong dibuat dan disebarluaskan untuk menarik para pembaca agar mengikut tren tertentu yang diharapkan oleh pembuat berita bohong tersebut.
  5. Berita bohong dibuat untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu atau yang biasa dikenal dengan black campaign. Berita bohong dalam bentuk black campaign ini sangat mudah kita temukan saat musim pemilu.
  6. Beberapa berita bohong juga sengaja diciptakan untuk mengadu domba.

Berdasarkan pengertian dan tujuan dari berita bohong yang telah diuraikan tersebut, dapat disimpulkan bahwa berita bohong tidak memiliki dampak yang posistif untuk masyarakat. Keberadaan berita bohong justru dapat membuat bencana berupa bom waktu yang tidak dapat dipastikan kapan akan meledak. Beberapa ciri berita bohong menurut Aditiawarman (2019) berikut dapat kamu pahamai agar kamu tidak terjebak dalam berita bohong atau bahkan ikut menyebarkan berita bohong, sehingga berita bohong akan dapat kita perangi.

  1. Terdapat banyak tanda panah atau lingkaran berwarna merah pada foto atau video yang dilampirkan dalam berita bohong tersebut.
  2. Menggunakan judul berita yang bombastis, luar biasa, atau mengandung unsur-unsur clickbait.
  3.  erita bohong dipublikasikan dalam situs yang menggunakan alamat website yang dibuat mirip dengan media-media besar.
  4. Merahasiakan nama penulis konten.

Melengkapi pendapat sebelumnya, ciri berita bohong yang dirumuskan oleh Dewan Pers (dalam Simarmata, dkk., 2019) adalah sebagai berikut.

  1. Menimbulkan kecemasan, kebencian, dan permusuhan bagi pembaca.
  2. Sumber berita tidak jelas, tidak berimbang, menyudutkan pihak tertentu, dan kebenarannya tidak dapat diverifikasi.
  3. Bermuatan fanatisme, provokatif, dan mengandung penghukuman.

Referensi:

  • Aditiawarman, M., dkk. (2019). Hoax dan Hate Speech di Dunia Maya. Lembaga Kajian Aset dan Budaya Indonesia Tonggak Tuo.
  • Mazaya, V. (2019). Cyberdakwah sebagai Filter Penyebaran Hoax. Islamic Communication Journal, 4(1).
  • Simarmata, J., dkk. (2019). Hoaks dan Media Sosial: Saring Sebelum Sharing. Medan: Yayasan Kita Menulis.

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.