Mengenal Tenis Wanita dan Tradisi Para Bintangnya yang Tidak Pernah Konsisten

Mengenal Tenis Wanita dan Tradisi Para Bintangnya yang Tidak Pernah Konsisten

Melihat seorang tidak konsisten tentu saja adalah sesuatu yang wajar dan lumrah, tapi bagaimana kalau yang tidak konsisten itu seluruh atlet dari satu cabang olahraga? Terlebih, inkonsistensi itu terjadi terus-menerus.

Kedengarannya aneh dan hampir mustahil memang, tapi hal begini benar adanya. Adalah cabang olahraga tenis wanita dunia, atau yang biasa disebut WTA (Women’s Tennis Association), mana para atletnya selalu saja tak konsisten dari waktu ke waktu.

Sampai-sampai, para bintang tenis wanita se-berpengalaman apa pun saja dipastikan tak akan ketinggalan mengalami kondisi seperti ini.

Serena Williams
Serena Williams

Sebelum beranjak lebih jauh, kalau berbicara soal tenis wanita, nama yang kemungkinan besar bakal diketahui banyak orang adalah Serena Williams.

Ya, tidak heran, petenis asal Serikat ini adalah satu-satunya dari sekian banyak petenis wanita di era ini, yang bisa menjaga performanya di level paling tinggi selama kurang lebih terakhir.

Di usianya yang kini sudah menginjak 40 tahun, Williams bahkan belum pensiun, meskipun ia masih harus menepi dari pertandingan karena cedera berkepanjangan yang dideritanya.

Sejak mulai berkarir secara pada 1995 sampai saat ini, Williams sudah memenangkan total 96 , dengan 73 gelar diraihnya pada nomor tunggal, dan 23 gelar diraihnya pada nomor ganda.

Dari 73 gelar tersebut, 23 di antaranya Williams dapatkan setelah menjuarai turnamen Grand Slam, yaitu turnamen tingkat tertinggi dan paling bergengsi dunia tenis.

Pencapaian tersebut membuatnya kini memegang rekor sebagai petenis wanita dengan gelar Grand Slam terbanyak ke-dua sepanjang sejarah.

Williams hanya terpaut satu gelar Grand Slams dari pemegang rekor nomor satu, yaitu Margaret Court, petenis wanita asal yang berkarir pada era 1960 sampai 1970-an.

Baca juga  Sumber Daya Manusia yang Semakin Tergantikan
Maria Sharapova
Maria Sharapova

Satu-satunya petenis wanita lainnya yang masih bisa dikatakan punya cukup konsistensi selama karirnya adalah Maria Sharapova, nama yang kemungkinan besar juga masih tidak untuk kita dengar.

Sepanjang karirnya sejak 2001 hingga lalu, petenis asal Rusia ini “hanya” meraih 39 gelar, dengan 3 gelar pada nomor ganda dan 36 lainnya pada nomor tunggal, yang di mana 5 di antaranya merupakan gelar Grand Slam.

Dari pencapaian kedua nama besar ini saja, sudah terdapat jarak yang begitu signifikan. 

Kini, ketika baik Williams maupun Sharapova sudah tidak lagi aktif bermain, masih belum ada petenis lainnya yang bisa menjaga konsistensinya dalam waktu yang cukup lama.

Pemain yang penuh potensial memang terus bermunculan, tetapi acap kali tiba-tiba saja mereka akan tenggelam, lalu timbul kembali, dan tenggelam lagi.

Begitu pula dengan para petenis top sekarang-sekarang ini, sebut saja dari mulai Ashleigh Barty hingga Naomi .

Ashleigh Barty
Ashleigh Barty

Barty merupakan juara Wimbledon, salah satu turnamen Grand Slam, tahun lalu sekaligus petenis wanita no. 1 dunia untuk saat ini.

Pada gelaran Tokyo 2020, Barty yang tentu saja diunggulkan untuk membawa pulang medali ternyata langsung tersingkir di babak pertama setelah dikalahkan oleh petenis no. 48 dunia saat itu, Sara Sorribes Tormo dari Spanyol.

Petenis asal Australia ini bahkan dikalahkan 2 set langsung. Pun pada gelaran US Open tahun lalu, yang juga merupakan turnamen Grand Slam, Barty kembali dikalahkan non unggulan di babak ke-tiga, yakni Shelby Rogers, petenis no. 43 dunia asal Amerika Serikat saat itu.

Baca juga  Kejamnya Revolusi di Dunia Bisnis

Kekalahan ini ia ketika sudah berada di ‘atas angin’, di mana ia sudah unggul 3 game di set penentuan, dan hanya membutuhkan 1 game lagi untuk memenangkan pertandingan. Namun, ternyata pada akhirnya keadaan berbalik.

Naomi Osaka
Naomi Osaka

Situasi yang tak jauh pun dialami oleh mantan no. 1 dunia dan pemilik 4 gelar Grand Slam, Naomi Osaka. Pada Olimpiade Tokyo 2020 dan US Open tahun lalu, ia -sama tersingkir di babak ke-tiga, pun sama-sama disingkirkan oleh non unggulan.

Adalah petenis no. 42 dunia asal Republik Ceko, Marketa Vondrousova, yang mengalahkan Osaka dengan 2 set langsung pada Olimpiade Tokyo.

Sementara, di gelaran US Open, petenis asal ini ditaklukan oleh petenis muda berusia 19 tahun asal Kanada, Leylah Fernandez, yang ketika itu berada pada posisi 77 dunia. 

Leylah Fernandez dan Emma Raducanu pada US Open 2021
Leylah Fernandez dan Emma Raducanu pada US Open 2021

Tidak hanya mengalahkan Osaka, Fernandez kemudian berhasil mencapai final US Open dengan menaklukkan nama-nama besar seperti Angelique Kerber sang 3 kali juara Grand Slam, Elina Svitolina peraih medali perunggu Olimpiade Tokyo, hingga Aryna Sabalenka, petenis no. 2 dunia saat ini dari Belarusia.

Namun, di partai final Fernandez harus takluk dari petenis asal Inggris, Emma Raducanu, yang ketika itu bahkan berada di posisi 150 dunia.

Ranking tersebut membuat Raducanu tidak termasuk ke dalam list utama para pemain yang akan berlaga di turnamen Grand Slam satu ini, sehingga ia harus memulainya dari babak kualifikasi dan otomatis memainkan lebih banyak pertandingan. Namun pada akhirnya, remaja 18 tahun itu berhasil menjadi juara. 

Ketika menyaksikan peristiwa yang dijuluki bak dongeng oleh para media ini, saya dan kawan-kawan saya sesama penggemar tenis memiliki reaksi yang sama, yaitu ‘kaget tapi tidak heran’.

Baca juga  5 Atlit Paling Kaya Di Dunia

Tentu saja kami senang bukan main menyaksikan seorang qualifier bisa berakhir menjadi juara di turnamen paling bergengsi ini. Dari yang bukan siapa-siapa, Raducanu menjelma menjadi seseorang yang begitu istimewa.

Rasanya seperti melihat sesuatu yang tidak masuk akal dan mustahil terjadi, tapi nyatanya bisa terjadi. Seperti Jarvis Cocker dalam salah satu lagunya, ‘everybody loves the underdog!’.

Namun, di satu sisi, kami juga sadar, kalau apa yang sedang kami saksikan ini adalah WTA, di mana inkonsistensi seakan sudah mendarah daging di dalam setiap pemainnya.

Bahkan, para pemain terbaiknya saja, termasuk yang berada di ranking tertinggi, tidak luput dari hal ini. Kemenangan Raducanu dalam US Open ini seakan semakin menjadi bukti kuatnya. 

Kita akan sering menyaksikan juara-juara baru dalam berbagai turnamen, tapi di saat yang bersamaan kita juga akan sering menyaksikan sang juara-juara tersebut menghilang dalam sekejap.

Saya bahkan sudah berkali-kali dibuat patah hati karena petenis yang saya jagokan terhenti di babak awal. Di satu turnamen performanya bisa sangat bagus, eh, di turnamen selanjutnya tiba-tiba langsung nge-drop.

Kalau untuk tontonan, memang kemungkinan besar bisa memikat banyak orang, sih, mengingat WTA dapat dipastikan akan selalu memberikan kejutan.

Tapi, saya jadi heran, bagaimana bisa para petenis yang bahkan berasal dari negara-negara yang berbeda, cara pelatihan yang berbeda, hingga memiliki keunggulan maupun kelemahan yang berbeda ini, bisa sama-sama “kompak” dalam inkonsistensi berkepanjangan? Jangan-jangan, mereka memang janjian.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Tatiana Ramadhina