Mengenal “Whataboutism”, Kesesatan Berpikir yang Membuat Arah Diskusi Jadi Ambyar

Mengenal "Whataboutism", Kesesatan Berpikir yang Membuat Arah Diskusi Jadi Ambyar 1

Setelah dikeluarkannya Seruan Gubernur (sergub) DKI Jakarta No.8 tahun 2021 tentang Pembinaan Kawasan Merokok, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, meminta kepada bawahannya untuk menutup iklan dan display rokok yang ada di fasilitas publik. Kebijakan ini rupanya mengundang tubir warganet di Twitter. Warganet terbelah menjadi dua kubu, antara perokok vs anti rokok.

Salah seorang warganet mengomentari kebijakan tersebut dengan argumen, “Gula juga bahaya bikin diabetes. Kok enggak diatur?”

Perdebatan antara perokok vs anti rokok sebenarnya bukan kali ini saja terjadi. Perdebatannya pun pasti begitu-begitu saja. Ada yang menyuarakan bahaya rokok bagi kesehatan atau kekesalan mereka yang bukan perokok terhadap perokok yang kalau merokok suka nggak ngotak karena merokok bukan pada tempatnya dan keluhan lainnya, lalu akan dibalas dengan sikap ‘denial’ yang masih sama.

Di antara kaum ‘denial’ itu pasti ada yang kemudian membelokkan topik perdebatan ke topik lain. Misalnya, ketika ada yang menyuarakan bahaya rokok bagi kesehatan direspon balik dengan pertanyaan, “Bagaimana dengan gula? Gula lebih berbahaya karena menyebabkan diabetes.”

Nah, jika Anda menemukan Homo sapiens macam ini dalam sebuah perdebatan atau diskusi, itu namanya whataboutism.

Apa itu whataboutism?

Whataboutism berasal dari frasa “what about…” alias “bagaimana dengan…”.

Ada beberapa definisi mengenai whataboutism. Tapi intinya whataboutism adalah kesesatan berpikir di mana satu pihak membelokkan kritik atau tudingan dari pihak lain dengan menyangkal isu lainnya yang dianggap setara tetapi tidak relevan.

Gampangnya begini. Kelompok A mengkritik kelompok B. Alih-alih menerima, introspeksi atau menyanggah kritikan tersebut dengan argumen yang rasional, kelompok B malah balik menyerang kelompok A dengan mencari-cari kesalahan kelompok A dengan mengatakan, “Lalu bagaimana dengan kesalahan bla bla bla yang pernah kalian lakukan?”

Padahal apa yang balik dituduhkan oleh kelompok B tidak ada hubungannya dengan topik perbincangan mereka. Persis seperti tubir di atas yang malah menyandingkan antara rokok dengan gula. Seharusnya kan kalau bahas rokok ya rokok aja, kenapa jadi nyasar ke gula segala?

Whataboutism sebenarnya merupakan teknik retorika yang sering digunakan oleh komunis Uni Soviet terhadap negara Barat (terutama Amerika Serikat) ketika Perang Dingin. Ketika Uni Soviet dikritik mengenai pelanggaran HAM yang mereka lakukan, Uni Soviet akan membalas kritikan itu dengan argumen seperti, “Bagaimana dengan perlakuanmu terhadap warga keturunan Afrika-Amerika di negaramu?”

Ini maksudnya ketika Uni Soviet disinggung soal pelanggaran HAM yang mereka lakukan, mereka pasti akan mengelak dan menyerang AS dengan isu lain, seperti isu rasisme terhadap warga keturunan Afrika-Amerika.

Sampai nama Uni Soviet berubah jadi Rusia pun whataboutism masih digunakan oleh pemerintah di sana bahkan hingga hari ini.

Dalam diskusi atau debat politik (debat capres, misalnya), whataboutism dapat membuat arah diskusi jadi ambyar alias melenceng dari topik yang seharusnya.

Mantan presiden AS, Donald Trump, ketika masih berkuasa juga kerap menggunakan whataboutism untuk menyerang lawan-lawan politik dan pihak-pihak yang gemar mengkritiknya. Misalnya, ketika menyeruak kasus #BlackLivesMatter yang dipicu oleh kematian George Floyd, Trump justru mereduksi makna dari gerakan anti rasialisme dengan mengatakan All Lives Matter.

Whataboutism memang sering dipakai sebagai tameng oleh para politisi atau rezim pemerintah yang anti kritik untuk membela diri dan menghindar dari tanggung jawab.

Whataboutism juga biasa dipakai oleh para pemimpin populis (populist leaders) untuk menjaga agar ia tidak kehilangan dukungan dari pendukungnya. Sementara para simpatisan dari tokoh atau kelompok tertentu (termasuk buzzer), biasa menggunakan whataboutism untuk membela junjungannya dan menyerang simpatisan pihak lawan.

Wasana Kata

Membelokkan atau mengalihkan satu topik ke topik lain yang berbeda dan tidak relevan hanya akan mengaburkan fakta dan orang akan semakin abai pada kebenaran. Hal itu juga akan mengikis empati dan membuat seseorang jadi mudah menyepelekan sesuatu.

Ketika publik menyuarakan #BlackLivesMatter bukan berarti kekerasan rasial terhadap ras atau etnis lain (yang bukan kepada black people) menjadi boleh dilakukan. Esensi dari #BlackLivesMatter adalah untuk menyuarakan bahwa diskriminasi dan kekerasan rasial terhadap black people di AS sudah begitu mengakar dan sistemik sehingga wajar jika mereka menuntut keadilan.

Adapun isu pembantaian terhadap suku, ras atau etnis lain, tentu akan ada ruang diskusinya sendiri.

Begitu pula dengan tubir warganet soal rokok. Kalau memang Anda berniat mempertahankan argumen sekaligus membela sesama kaum perokok, carilah apa yang kurang atau keliru dari argumen si anti rokok. Jabarkan semua alasan Anda mengapa tidak setuju dengan argumen tersebut. Jangan malah dibelokkan ke topik lain, seperti “Tapi gula juga berbahaya karena menyebabkan diabetes.”

Benar, konsumsi gula berlebih itu berbahaya karena memicu diabetes. Tapi, sekali lagi, topik “bahaya gula” juga ada ruang diskusinya sendiri. 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.