Menguak Ajaran Mpu Tantular dalam Kakawin Arjunawijaya

Menguak Ajaran Mpu Tantular dalam Kakawin Arjunawijaya 1

Pada era sastra pertengahan, kerajaan Wilwatikta disebut dengan Majapahit. Kerajaan yang didirikan oleh Dyah Wijaya ini berlangsung sejak runtuhnya Daha di bawah pemerinahan Jayakatwang pada tahun 1293 Masehi hingga masa serangan dari Demak di bawah komando Sultan Trenggana  pada tahun 1527.

Selama duaratus tigapuluh tiga tahun, kerajaan Wilwatika dipimpin secara berurutan oleh tigabelas raja: Dyah Wijaya, Jayanagara, Tribhuwana Wijayatunggadewi, Hayam Wuruk, Wikramawardhana, Sri Suhita, Kertawijaya, Rajasawardhana, Girishawardhana, Singhawardhana, Bhre Kertabhumi, dan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.

Bila dikaji sejarah perkembangannya, kerajaan Wilwatikta mengalami masa keemasan semasa pemerintahan Hayam Wuruk dari tahun 1350 hingga 1389. Masa keemasan Wilwatikta bukan hanya dapat ditunjukkan dengan luasnya wilayah kekuasaan; perkembangan ekonomi; keadilan di bidang hukum; toleransi antara pemeluk agama; pembangunan jembatan, bendungan, dan candi; namun pula perkembangan di bidang karya sastra.

Beberapa karya sastra yang digubah para mpu semasa pemerintahan Hayam Wuruk, di antaranya: Kakawin Nagarakretagama dan Kakawin Nirathaprakretha karya Pu Prapanca, Kakawin Lubdhaka dan Kakawin Wrttasancata karya Pu Tanakung, Kakawin Kunjarakarna Dhanakathana karya Pu Dusun, serta Kakawin Sotasoma dan Kakawin Arjunawijaya karya Pu Tantular.

Siapakah Pu Tantular?

Tidak diketahui banyak tentang siapakah Pu Tantular. Para ahli sejarah hanya menyebutkan bahwa Tantular bukan nama asli melainkan nama samaran dari salah seorang pujangga Wilwatikta yang tersohor namanya berkat karyanya yakni Kakawin Sotasoma, dan terutama Kakawin Arjunawijaya.

Pu Tantural sering disebut dengan Bratatmaja. Namun Bratatmaja tersebut bukan nama asli Tantular, melainkan mengidentifikasikan bahwa pu sastra tersebut masih merupakan saudara raja atau menantu dari adik raja. Beberapa sumber menyebutkan bahwa raja yang dimaksud adalah Hayam Wuruk.  

Bila ditelisik dari maknanya, nama Tantular yang terdiri dari dua suku kata, yakni: tan yang berarti tidak dan tular yang berarti terpengaruh tersebut menunjukkan bahwa sang pujangga memiliki sifat teguh. Tidak mudah terpengaruh dengan orang-orang yang berada di lingkungan kehidupannya.  

Selain memiliki sifat teguh, Pu Tantular memiliki sifat rendah hati. Kerendah-hatian Tantular tercermin pada bait penutup Kakawin Arjunawijaya yang tertulis: “Nda niûþanya titir winada cinacad ginuyu-guyu tëkap kawìúwara, nghing tan simpangike gatinyan akirim kakawin i dalaning pudak sumor, sangksiptan ri lësöhaningbhujaga puspa ri úikarani kàmangun langö, sang sukûmeng lepihan tanah juga panenggahanika pinakeûþining mango.” Dari bait tersebut tersuratlah pengakuan Tantular mengenai karyanya yang masih jauh dari sempurna. Sungguhpun dilecehkan oleh para pujangga tersohor, namun karyanya tersebut telah digubah dengan sebaik-baiknya.

Berkaitan dengan soal agama, Pu Tantular sangat toleran dengan agama lain. Sungguhpun Tantular menganut agama Buddha, namun sangat terbuka dengan agama Hindu Siwa. Spirit toleransi Tantular ditunjukkan dalam Kakawin Sotasoma yang menyebutkan tiga kata dalam seuntai yakni “Bhineka Tunggal Ika.” Tiga kata yang kemudian dijadikan semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia itu menunjukkan gagasan Tantular bahwa sungguhpun bangsa manusia berbeda suku, agama, dan ras; namun mereka tetap satu sebagai umat Tuhan.

Perkembangan Kakawin Arjunawijaya

Di bawah lindungan Sri Ranamanggala, Kakawin Arjunawijaya digubah oleh Pu Tantular pada tahun 1379 Masehi. Bila menilik pada judulnya, naskah gubahan Tantular yang mengagungkun kejayaan raja Arjuna Sasrabahu tersebut memuja raja Hayam Wuruk yang sanggup mengantarkan kejayaan Wilwatikta.

Dalam perkembangannya, Kakawin Arjunawijaya karya Pu Tantular tersebut kemudian tidak hanya ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa, namun pula bahasa Bali. Oleh Raden Ngabehi Sindusastra dari Surakarta, Kakawin Arjuna Wijaya tersebut mengilhami lahirnya karya sastra yang digubah dalam bentuk tembang bertajuk Lampahan Arjuna Sasrabahu. Oleh Balai Pustaka, naskah tersebut diterbitkan pada tahun 1930. Pada tahun 1971, naskah tersebut dijadikan sebagai bahan tesis oleh Dr. Supomo pada Universitas Nasional di Canberra, Australia.

Perbedaan Kakawin Arjunawijaya dan Kakawin Arjunawiwaha

Para pembaca karya sastra kuna terkadang menyamakan antara Kakawin Arjunawijaya dan Kakawin Arjunawiwaha. Padahal kedua naskah tersebut dicipta oleh dua pujangga yang hidup di zaman berbeda. Kakawin Arjunawijaya digubah oleh Pu Tantular yang hidup di masa pemerintahan Hayam Wuruk hingga Kertawardhana di Wilwatika. Sementara, Kakawin Arjunawiwaha digubah oleh Pu Kanwa yang hidup di masa pemerintahan Airlangga di Kahuripan.

Perbedaan lain berkaitan dengan isi cerita. Kakawin Arjunawijaya mengisahkan tentang Arjuna Sasrabahu dari Kerajaan Mahispati yang berhasil menaklukkan Dasamukha. Sementara, Kakawin Arjunawiwaha mengisahkan tentang Arjuna dari keluarga Pandawa yang berhasil menumpas kejahatan Raja Niwatakawaca dari kerajaan Himahimantaka. Disebut jahat, karena Niwatakawaca yang berwujud raksasa itu melanggar kodrat bobot bibit bebet yakni berhasrat menyunting seorang bidadari Kahyangan Jong Giri Saloka bernama Bathari Supraba.

Cerita dalam Kakawin Arjunawijaya

Dikisahkan tentang negeri Lengka atau Alengka. Kerajaan Lengka dikuasai oleh seorang raja raksasa bernama Mali Malyawan. Karena ditaklukkan oleh Bathara Wisnu, Mali Malyawan melarikan diri dari kerajaannya. Karena kerajaan Lengka mengalami kekosongan kepemimpinan, Wisrawana yang merupakan putra Wisrawa tersebut menjadi raja di kerajaan tersebut.

Sumali Malyawan sangat terkagum-kagum dengan Wisrawa yang melahirkan putra Wisrawana yang pandai dan sakti. Bermula dari kekaguman itulah, Sumali ingin mendapatkan keturunan yang sebanding dengan Wisrawana melalui Kakasi putrinya. Harapan Sumali menjadi kenyataan, ketika Kakasi menikah dengan Wisrawa. Dari perkawinannya dengan Wisrawa, Kakasi memiliki empat putra, tiga laki-laki dan satu perempuan. Ketiga putra laki-laki Kakasi, yakni: Dasamukha, Kumbhakarna, Wibisana. Sementara putri Kakasi adalah Sarpanaka.

Atas restu Wisrawa, ketiga putra laki-laki Kakasi itu melaksanakan tapa brata di Gunung Gokarna. Berbeda dengan Kumbhakarna dan Wibisana, Dasamukha di dalam melaksanakan tapa brata dengan cara memenggal kepalanya dan membaginya menjadi sepuluh potongan. Oleh Dasamuka, kesepuluh potongan kepala itu dilemparkan ke api korban. Anehnya, kesepuluh potongan kepala itu tidak hangus terbakar oleh api, melainkan pulih kembali berkat kekuasaan Bathara Brahma. Hingga kelak, Dasamukha memiliki kesaktian yakni bisa mengubah kepalanya yang satu menjadi sepuluh.

Karena kesaktian yang dimiliki, Dasamuka memiliki sifat sapa sira sapa ingsun. Karena merasa paling sakti sendiri itulah, Dasamuka membuat kerusuhan di mana-mana. Bagi siapa saja yang tidak menyetujui pendapatnya akan dihajar hingga mengalami celaka. Bagi siapa saja yang menentang perintahnya akan mendapat ganjaran kematian.

Mendengar berita bahwa Dasamuka selalu membuat huru-hara di lingkungan Kerajaan Lengka, Raja Wisrawana memerintahkan Gomuka untuk memeringatkan dan meredam perbuatan angkara yang dilakukan adik tirinya itu. Karena memiliki sifat merasa paling benar, Dasamukha tidak mau diperingatkan oleh Gomuka. Bahkan melalui sifat angkara murkanya, Dasamukha memenggal kepada Gomuka. Sebelum tewas, Gomuka mengutuk Dasamukha bahwa kelak kerajaannya akan dibakar oleh seorang utusan. Dalam naskah Ramayana, utusan yang dimaksud Gomuka adalah Hanoman, kera putih utusan Prabu Ramawijaya dari kerajaan Ayodia.

Bukan hanya kepada Gomuka, Dasamukha melampiaskan keangkaramurkaannya, manun pula kepada Wisrawana. Tidak terima diperingatkan oleh Wisrawana, Dasamukha menyerang kerajaan Lengka. Karena kesaktiannya, Dasamukha berhasil melumpuhkan pasukan Lengka. Bahkan Dasamukha menyiksa Wisrawana hingga sekujur tubuhnya berlumuran darah. Seandainya bukan demi Wisrawa ayahnya, Dasamukha telah membunuh Wisrawana. Karena Wisrawana berhasil ditaklukkannya, Dasamukha menobatkan diri sebagai raja Lengka.

Dari Lengka, Dasamukha melakukan pengembaraan menuju Gunung Kailasa. Sebelum sampai tujuan, Dasamukha mendapat peringatan dari Nandiswara agar tidak naik ke puncak Gunung Kailasa yang tengah digunakan sebagai tempat berpadu kasih antara Bathara Siwa dan Bathari Uma. Tidak terima dengan peringatan Nandiswara, Dasamukha mengejek Nandiswara dengan menyebut “Monyet!” Tidak terima dengan ejekan itu, Nandiswara mengutuk Dasamukha di mana kelak kerajaannya akan diserang oleh pasukan kera. Hingga banyak saudara dan anak-anak Dasamukha akan tewas di medan laga.

Telinga Dasamukha serasa disengat ribuan kalajengking saat mendengar kutukan Nandiswara. Karena kemarahannya pada Nandiswara, Dasamukha mengangkat dan menggoncang-goncang Gunung Kailasa. Menekan lubang puncak gunung itu hingga terjepit tangannya. Lantaran kesakitan, Dasamukha berteriak hingga gemanya memekakkan telinga seluruh orang di dunia. Dari teriakan itulah, Dasamukha mendapat nama Rahwana yang artinya berteriak.

Dalam pengembaraan selanjutnya Dasamukha bertemu dengan seorang pertapa perempuan bernama Wedawati. Kepada sang pertapa, Dasamukha jatuh cinta. Karena cintanya hanya kepada Bathara Wisnu, Wedawati menolak cinta Dasamukha. Berkat kesombongan Dasamukha yang menyatakan dirinya lebih unggul ketimbang Wisnu, Wedawati menjatuhkan kutukan. Di mana kelak, Dasamukha akan sirna di tangan Wisnu. Dalam Ramayana, Wisnu dalam membinasakan Dasamukha dengan cara menitis pada Ramawijaya. Sementara Wedawati yang kemudian menceburkan diri ke dalam kobaran api karena tidak bersedia dinikahi Dasamukha itu kelak menitis pada Dewi Shinta, istri Ramawijaya. 

Raja Banaputra dari Ayodia berbeda dengan Raja Maruta yang tunduk kepada Dasamukha. Banaputra bernyali untuk melawan Dasamukha saat akan menundukkan Ayodia. Namun, naas bagi Banaputra yang berakhir dibunuh oleh Dasamukha. Sebelum ajal menjemput, Banaputra mengutuk Dasamukha bahwa kelak akan lampus di tangan keturunannya. Dialah Ramawijaya, jelmaan Bathara Wisnu.

Dari Ayodia, Dasamukha melanjutkan pengembaraannya menuju hulu Sungai Narmada. Di sanalah, Dasamukha bertapa dengan menghadap lingga. Saat melakukan pemujaan, Dasamukha digenangi air sungai Narmada yang meluap karena Arjuna Sasrabahu tengah merentangkan tubuhnya hingga kandas di dasar sungai.

Merasa dihina oleh Arjuna Sasrabahu yang waktu itu sedang bercengkerama dengan Citrawati istrinya, Dasamukha berniat menyerang Kerajaan Mahispati. Namun berkat kedigdayaan-nya, Arjuna Sastrabahu berhasil membuat Dasamukha pingsan, mengikat tubuhnya dengan rantai baja, dan memasukkannya ke dalam kerangkeng baja.

Mendengar Dasamukha cucunya berhasil ditundukkan pada Arjuna Sasrabahu, Resi Pulastya datang ke Mahispati. Memohon kepada raja agar membebaskan Dasamukha Karena dikenal sebagai raja pengampun, Arjuna Sasrabahu membebaskan Dasamukha dari kerangkeng besi. Bersama Pulastya, Rahwana pulang ke Lengka.

Sewaktu Arjuna Sasrabahu dan Dasamukha berperang, Citrawati mendapat laporan dari abdi Mahispati bahwa suaminya gugur di medan laga. Tanpa berpikir jauh, Citrawati berbela pati dengan menceburkan diri ke dalam api. Melihat Citrawati meninggal, Arjuna Sasrabahu ingin melakukan bunuh diri.

Sebelum hasratnya untuk bunuh diri terpenuhi, Arjuna Sasrabahu melihat perwujudan seorang dewi penunggu Sungai Narmada. Dari sang dewi, Arjuna Sasrabahu menerima air kehidupan yang dapat menghidupkan kembali Citrawati dari kematiannya. Berbahagialah Arjuna Sasrabahu dan Citrawati sebagai pasangan hidup yang saling setia sehidup semati.

Ajaran yang Tersirat dalam Kakawin Arjunawijaya

Kakawin Arjunawijaya bukan sekadar karya sastra yang sangat tinggi kualitasnya, namun pula sangat dalam maknanya karena ajaran-ajaran yang tersirat di dalamnya. Beberapa ajaran yang bisa dipetik, antara lain: pertama, biji dendam melahirkan tanaman berbuah dendam. Pendapat ini mengacu pada dendam Mali Malyawan yang menyebabkan perkawinan Kakasi putrinya dengan Wisrawa itu melahirkan keangkaramurkaan Dasamukha. Dari angkara murka Dasamukha melahirkan dendam Gomuka, Nandiswara, Wedawati, dan Banaputra orang-orang yang dicelakainya. Dari dendam yang mereka ekspresikan dalam kutukan tersebut kelak menghancurkan hidup Dasamukha.

Ajaran kedua bahwa di atas langit ada langit. Sungguhpun Dasamukha yang bersifat jahat itu sakti mandraguna, masih bisa ditaklukkan oleh Arjuna Sastrabahu, raja Mahispati yang bersifat mulia.  Di tangan Arjuna Sastrabahu, Dasamukha yang berhasil ditaklukkannya itu kemudian dirantai dan dimasukkan di dalam kerangkeng baja. Ajaran tersebut sejalan dengan ajaran suradira jayaningrat lebur dening pangastuti. Sesakti apapun menusia jahat akan berhasil ditumpas oleh manusia berhati mulia dan pembela kebenaran.

Ajaran ketiga bahwa memaafkan seperti air yang dapat memadamkan api dendam. Berbeda dengan Dasamukha yang pendendam, Arjuna Sasrabahu merupakan seorang pemaaf. Berkat sifatnya yang mulia itu, Arjuna Sasrabahu tidak membunuh Dasamukha yang menyerang Mahispati. Sebaliknya, Arjuna Sasrabahu memaafkan Dasamukha dan membebaskannya dari kerangkeng baja. Dengan demikian, seorang pemaaf yang berhasil mengikis perasaan dendam tersebut telah membuka jalan menuju hamemayu hanyuning bawana. Menjaga perdamaian dunia tanpa perang.

Ajaran keempat bahwa air susu dibalas dengan air susu. Arjuna Sasrabahu yang memaafkan Dasamukha menunjukkan bahwa raja Mahispati itu berjiwa luhur. Karena keluhuran budinya, Arjuna Sasrabahu mendapat pertolongan dari dewi penunggu Sungai Narmada. Melalui air kehidupan dari sang dewi yang diterima oleh Arjuna Sasrabahu tersebut dapat menghidupkan kembali Citrawati istrinya yang telah mati.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sri Wintala Achmad