Menguak Misteri Gunung Merapi dan Ratu Adil

Menguak Misteri Gunung Merapi dan Ratu Adil 1

Gunung Merapi yang berada di wilayah Kabupaten Klaten, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali (Jawa Tengah) dan Kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta) masih memuntahkan lava pijar.

Berkaitan dengan Gunung Merapi, terdapat mitos yang berkembang di masyarakat. Di mana bila Merapi meletus selalu dimaknai sebagai tanda munculnya tiga tokoh yang saling berhubungan. Ketiga tokoh tersebut yakni Sabdo Palon, Satrio Piningit, dan Ratu Adil. Di lingkup masyarakat Jawa, tokoh Sabdo Palon tersebut sering diidentikkan dengan Noyogenggong dan Kiai Semar. Satrio Piningit yang tidak selalu sama dengan Ratu Adil tersebut sering disamakan dengan tokoh A Man from the East versi Nostradamus, Budak Angon versi Uga Wangsit, atau Imam Mahdi. Adapun tokoh Ratu Adil sering disamakan dengan Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu versi Raden Ngabehi Ronggo Warsito

Tokoh Sabdo Palon yang menurut Serat Sabdo Palon dan Serta Darmogandul disebutkan sebagai pamomong raja-raja Majapahit sejak pemerintahan Prabu Brawijaya I. Tokoh tersebut moksa semasa Majapahit  yang berada di bawah kekuasaan Prabu Brawijaya V tersebut jatuh di tangan Raden Patah, seorang sultan dari Demak Bintoro di mana menurut naskah Darmogandul sebagai putra dari sang prabu. Sabdo Palon berjanji akan muncul kembali sebagai Panakawan Ratu Adil bersama meletusnya Gunung Merapi pada limaratus tahun sesudah kemoksaannya.

Menurut Nostradamus sang peramal dari Perancis pula menyebutkan bahwa Satrio Piningit akan muncul pada tahun 2021. Kemunculan beliau di negeri yang kaya gunung berapi tersebut ditandai dengan timbulnya banyak bencana. Salah satu dari bencana tersebut adalah banyak gunung yang meletus. Namun Nostradamus tidak menyebutkan dengan tegas bahwa kedatangan Satrio Piningit bersama dengan meletusnya Gunung Merapi yang merupakan pusering tanah Jawa tersebut.

Pendapat masyarakat pula menyebutkan bila Gunung Merapi meletus, maka Sang Ratu Adil akan datang. Seorang raja adil para marta yang diidentikkan dengan Prabu Yudistira dari Indraprasta atau Amarta. Karena identik dengan Prabu Yudistira, Ratu Adil yang menjadi seorang pemimpin suatu negeri niscaya memiliki tiga pusaka andalan yakni tombak Kiai Karawelang, payung Kiai Tunggulnaga, dan Jamus Kalimasada. Tetapi oleh para winasis, ketiga pusaka Ratu Adil tersebut tidak bermakna harfiah melainkan bermakna simbolik. Pengertian lain, ketiga pusaka tersebut sesungguhnya melambangkan tiga sifat atau ciri yang melekat pada Ratu Adil.

Pusaka tombak Karawelang melambangkan bahwa Ratu Adil memiliki rasa dan cipta yang tajam serta karsanya tetapa teguh hingga tidak mudah terpengaruh oleh pihak. Pusaka payung Tunggulnaga melambangkan bahwa Ratu Adil dapat menjadi pengayom seluruh kawula. Sehingga Ratu Adil bukan sekadar melindungi keluarga, sanak saudara, kelompok, dan golongannya.

Sementara pusaka Jamus Kalimasada melambangkan bahwa Ratu Adil di dalam menjalankan pemerintahannya selalu berpedoman pada wahyu Ilahi atau petunjuk Tuhan dengan menghindari empat Ka yakni Kadonyan, Kahewanan, Karobanan, dan Kasetanan serta mengamalkan satu Ka yakni Katuhanan.

Kadonyan, artinya Ratu Adil dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai pemimpinan suatu negeri tidak mengutamakan kebutuhan duniawi. Dengan demikian, beliau selama menjabat sebagai pemimpin negeri tidak mengutamakan derajat, pangkat, jabatan tinggi, upah, dan pujian; melainkan  pengabdiannya yang tulus kepada seluruh rakyat.

Kahewanan, artinya Ratu Adil tidak memiliki sifat binatang. Dengan demikian, beliau bukan manusia yang amoral. Beliau selalu menerapkan sikap sopan santun, berjiwa rendah hati, dan memiliki cinta kasih kepada sesamanya. Beliau selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Karoban, artinya Ratu Adil tidak menjadi budak nafsu. Sebagaimana Bathara Kresna, beliau dapat mengendalikan empat kuda yang menarik kereta Kiai Jaladara. Empat kuda di sini dimaknai sebagai empat nafsu yakni aluamah, mutmainah, amarah, dan supiyah. Sehingga dengan begitu, setiap tujuan dan cita-citanya di dalam merealisasikan kejayaan negerinya akan tercapai.

Kasetanan, artinya Ratu Adil tidak sombong, dengki, iri, gengsi, licik, atau suka berbohong. Sebaliknya, beliau memiliki sifat rendah hati, jujur, dan memiliki rasa cinta kasih yang tulus kepada seluruh punggawa dan kawula. Sehingga tindakan dan perbuatannya dapat dijadikan tauladan.

Katuhanan, artinya Ratu Adil senantiasa patuh dan mentaati perintah Tuhan. Setiap petunjuk Tuhan yang tertera di dalam kitab suci selalu dijalaninya. Sehingga beliau yang selalu mendapatkan pencerahan dari Tuhan akan mampu membawa negerinya pada citra terbaik di mata dunia.

Sampai di sini bisa disimpulkan bahwa meletusnya Gunung Merapi bukan berhenti dimaknai sebagai bencana oleh sebagian masyarakat, melainkan lebih diartikan sebagai ambang perubahan zaman yakni dari zaman kalabendu menuju zaman kalasuba. Suatu zaman kemakmuran dan keadilan yang didambakan oleh seluruh kawula.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sri Wintala Achmad