Menguak Sejarah Perang Kesultanan Demak

Menguak Sejarah Perang Kesultanan Demak 1

KESULTANAN Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478 M. Menurut Babad Tanah Jawa, Kesultanan Demak dengan ibukota di Bintara tersebut berdiri sesudah meninggalnya Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V. Apa yang diungkapkan di dalam Babad Tanah Jawa tersebut bertentangan dengan pernyataan dalam Serat Darmagandhul. Dimana menurut karya sastra yang tidak diketahui siapa penulisnya itu menyebutkan bahwa Raden Patah menjadi raja di Kesultanan Demak Bintara sewaktu Brawijaya masih hidup dan menjabat sebagai raja di Majapahit.

Semenjak berdirinya Kesultanan Demak, ajaran agama Islam yang didakwahkan oleh seluruh anggota Dewan Walisanga mulai diterima oleh masyarakat Jawa. Sekalipun upaya membangun kualitas spiritual bagi masyarakat Jawa senantiasa dilakukan oleh para wali atau da’i semenjak pemerintahan Raden Patah (1478-1518 M) hingga pemerintahan Sunan Prawoto (1546-1549 M); namun perang baik untuk mencaplok (mempertahankan) wilayah kekuasaan maupun balas dendam tetap berlangsung. Barangkali hal ini sekadar menunjukkan, bahwa sempurnanya kehidupan bila di balik yang putih tersirat yang hitam.

Dalam catatan sejarah, Kesultanan Demak yang berlangsung selama 71 tahun itu mengalami 4 perang besar dan 1 perang kecil, yakni:

  1. Perang besar antara Kesultanan Demak dengan Majapahit semasa pemerintahan Raden Patah.
  2. Perang besar antara Kesultanan Demak dengan Portugis (Ekspedisi I) semasa pemerintahan Raden Patah.
  3. Perang besar antara Kesultanan Demak dengan Portugis (Ekspedisi II) semasa pemerintahan Patiunus.
  4. Perang besarantara Kesultanan Demak dengan Majapahit semasa pemerintahan Sultan Tranggana.
  5. Perang kecil antara Pangeran Kalinyamat dengan Arya Penangsang pasca pemerintahan Sunan Prawoto.

Perang Demak dengan Majapahit di Masa Raden Patah

Terdapat dua versi pendapat mengenai perang antara Kesultanan Demak dengan Majapahit. Versi pertama telah sekilas disinggung di bagian sub-bab terakhir pada Bab 5, dimana meletusnya perang antara Kesultanan Demak dan Majapahit dikarenakan Raden Patah (putra Bhre Kertabhumi) ingin merebut legitimasi sebagai pewaris Majapahit dari Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.

Akibat perang dari perebutan legitimasi sebagai pewaris Majapahit itu, Sunan Ngudung (ayah Sunan Kudus) dari kubu pasukan Kesultanan Demak gugur di tangan Raden Kusen (Arya Damar) yang menjabat sebagai adipati di Terung. Siapakah Raden Kusen? Raden Kusen adalah putra Arya Dilah dengan putri China yang merupakan bekas istri Bhre Kertabhumi. Dengan demikian, Raden Kusen masih merupakan saudara tiri (saudara seibu lain ayah) dengan Raden Patah.

Dalam perang antara Kesultanan Demak dengan Majapahit tersebut dimenangkan oleh Raden Patah. Sekalipun demikian, Girindrawardhana Dyah Ranawijaya tidak dibunuh oleh Raden Patah pada waktu itu. Mengingat raja Majapahit tersebut masih saudara ipar dari Raden Patah. Sementara orang-orang Majapahit yang tidak bersedia hidup di bawah pemerintahan Demak tersebut kemudian melarikan diri ke Bali.

Sementara perang Kesultanan Demak dengan Majapahit dijelaskan dalam Babad Tanah Jawa dan Serat Darmagandhu. Menurut Babad Tanah Jawa, perang antara Kesultanan Demak dengan Majapahit tersebut dipicu oleh keinginan Raden Patah untuk mengkudeta kekuasaan Bhre Kertabhumi (Prabu Brawijaya V) ayahnya. Perang akibat kudeta Raden Patah terhadap kekuasaan Bhre Kertabhumi di Majapahit yang mendapatkan dukungan dari Sunan Bonang dan Sunan Giri tersebut kemudian dikenal dengan Perang Sudarma-Wisuta (perang ayah dan putra).

Pandangan dalam Babad Tanah Jawa mengenai Perang Sudarma-Wisuta antara Bhre Kertabhumi dengan Raden Patah tersebut sejalan dengan apa yang disebutkan secara gamblang di dalam Serat Darmagandhul. Sekalipun demikian, kedua sumber tersebut disanksikan kebenaran historiknya oleh beberapa ahli sejarah. Mereka menduga, bahwa Perang Sudarma-Wisuta tersebut merupakan rekayasa politis dari para penulis kitab babad untuk membangun image negatif terhadap kehidupan Islam di era awal Kesultanan Demak.

Ekspedisi I di Masa Raden Patah

Semasa menjabat sebagai raja, Raden Patah tidak hanya ingin menggulingkan Majapahit, namun pula ingin merebut wilayah Malaka dari cengkeraman Portugis. Karenanya, Raden Patah mengirim pasukan Kesultanan Demak untuk menyerbu pasukan Portugis di Malaka pada tahun 1513 M. Pengiriman pasukan Kesultanan Demak yang dikenal dengan Ekspedisi I tersebut dipimpin oleh Raden Surya. Putra sulung Raden Patah yang lahir dari rahim permaisuri Gedhe Maloka (Ratu Asyikah binti Sunan Ampel).

Di dalam Ekspedisi I tersebut, pasukan Kesultanan Demak mengalami kegagalan. Bahkan Raden Surya yang diharapkan oleh Raden Patah sebagai pewaris tahta Kesultanan Demak gugur di medan laga. Karenanya, Raden Surya kelak dikenal dengan Pangeran Sabrang Lor. Pangeran yang gugur di laut utara.

Ekspedisi II di Masa Patiunus

Pada tahun 1518 M, Raden Patah mangkat. Pengganti kedudukan Raden Patah sebagai sultan di Demak adalah Patiunus yang merupakan menantunya. Tiga tahun sesudah menjabat sebagai sultan Demak atau tepatnya pada tahun 1521 M, Patiunus bertekad untuk merebut wilayah Malaka dari cengkeraman Portugis. Karenanya dengan armada perang yang sangat besar, Patiunus bertolak ke Malaka. 

Sebagaimana pasukan dari Kesultanan Demak, pasukan Portugis sendiri telah melakukan persiapan dengan matang. Dengan meriam-meriam berukuran besar, pasukan Portugis menangkal serangan yang digencarkan oleh pasukan Demak. Pertempuran dahsyat antara ke dua pasukan terebut tidak dapat dihindari lagi.

Dari pertempuran antara pasukan Portugis dan Demak tersebut menelan banyak korban jiwa. Tidak hanya para prajurit, namun Patiunus beserta putra pertama dan ke tiganya turut gugur dalam pertempuran itu. Sementara Raden Abdullah (putra ke dua dari Patiunus) yang selamat dari pertempuran itu berhasil pulang ke tanah Jawa. Sepeninggal Patiunus, Raden Tranggana (putra ke dua Raden Patah dari permaisuri Gedhe Maloka atau Ratu Asyikah binti Sunan Ampel) naik tahtas sebagai raja ke tiga di Kesultanan Demak.

Perang Demak-Majapahit di Masa Sultan Tranggana

Hanya selama 3 tahun (1518-1621 M), Patiunus memerintah di Kesultanan Demak. Sesudah Patiunus gugur saat memimpin Ekspedisi II, Raden Tranggana (putra ke dua Raden Patah dan Gedhe Maloka) dinobatkan sebagai raja ke-3 di Kesultanan Demak pada tahun 1521 M. Semasa pemerintahan Sultan Tranggana, Demak tidak melanjutkan program ekspedisi untuk merebut Malaka dari kekuasaan Portugis. Sekalipun demikian, Sultan Tranggana tetap dihadapkan pada pasukan Portugis yang mendukung Majapahit untuk menyerang Demak.

Puncak dari kemelut perang antara Kesultanan Demak dengan Majapahit terjadi pada tahun 1527 M. Dalam perang yang dipimpin oleh Sunan Kudus itu, Kesultanan Demak dapat menaklukkan Majapahit. Girindrawardhana Dyah Ranawijaya tewas. Arya Damar (Adipati Terung) yang merupakan mertua dari Sunan Kudus tersebut ditawan secara hormat.

Sesudah Majapahit yang beribukota Daha itu dapat ditaklukkan, Sultan Tranggana melakukan ekspansi wilayah kekuasaan ke timur. Usaha Sultan Tranggana membawa hasil. Terbukti beberapa wilayah, antara lain: Tuban, Wirasari (Madiun), Medangkungan (Blora), Surabaya, Pasuruhan, Lamongan, Blitar, Wirasaba (Mojoagung/Jombang), Gunung Pananggunggan yang merupakan pusat sisa-sisa pelarian orang-orang Majapahit, dan Sengguruh di Malang dapat ditaklukkan.

Sepeninggal Sultan Tranggana yang menurut cacatan Fernandez Mendez Pinto dibunuh oleh putra bupati Surabaya yang masih berusia 10 tahun itu, Raden Prawoto naik tahta sebagai raja ke-4 di Kesultanan Demak. Adapun catatan Fernandez Mendez Pinto mengenai kasus pembunuhan terhadap Sultan Tranggana tersebut adalah sebagai berikut:

Pada tahun 1546 M, Sultan Tranggana menyerang Panarukan (Situbondo) ang berada di bawah kekuasaan Blambangan. Dalam peperangan itu, Sunan Gunungjati membantu pengiriman 7.000 pasukan gabungan prajurit Cirebon, Banten, dan Jayakarta yang dipimpin oleh Fatahilah. Fernandez Mendez Pinto bersama 40 orang temannya terlibat sebagai anggota pasukan Banten.

Pasukan Demak sudah mengepung Panarukan selama 3 bulan, namun belum berhasil merebut kota itu. Suatu ketika, Sultan Tranggana bermusyawarah bersama para adipati untuk melancarkan serangan selanjutnya.

Putra bupati Surabaya yang masih berusia 10 tahun dan bertugas sebagai pelayan itu sangat tertarik dengan jalannya rapat hingga tidak mendengar perintah Sultan Tranggana untuk menyingkir. Akibatnya Sultan Tranggana murka. Sesudah mendapatkan pukulan dari Sultan Tranggana, anak itu sontak membalas menusukkan pisau ke dada penguasa Demak itu. Akibatnya Sultan Tranggana tewas. Jenazahnya dibawa pulang ke Demak.

Perang Kecil Pasca Pemerintahan Sunan Prawoto

Semasa pemerintahan Sunan Prawoto (Raden Mukmin), ibukota Kesultanan Demak dipindahkan dari Bintara ke bukit Prawoto (Desa Prawoto, Sukojilo, Pati). Dalam mengemban tugas pemerintahan di Kasultanan Demak, Sunan Prawoto dianggap lemah, terutama yang berkaitan dengan persoalan politik. Salah satu bukti yang tidak dapat ditolak, Sunan Prawoto lebih memilih jalan hidup sebagai ulama ketimbang sebagai raja.

Ungkapan di muka adalah sejalan dengan catatan Manuel Pinto dari Portugis. Menurut catatan Pinto, Sunan Prawoto berencana untuk meng-Islam-kan seluruh Jawa dan ingin berkuasa seperti Sultan Turki. Namun kenyataannya, rencana Sunan Prawoto hanya terhenti pada rencana. Bahkan sewaktu Sunan Prawoto semakin sibuk dengan urusan agama, banyak wilayah bawahan seperti Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik melepaskan diri dari Demak.

Diakui bahwa Sunan Prawoto berniat untuk menaklukkan Makasar dan menutup jalur beras ke Malaka. Namun berkat bujukan Pinto, niat itu pupus. Dari sini dapat dikatakan bahwa Sunan Prawoto adalah seorang raja yang lemah. Mudah terpengaruh dengan pihak lain.

Berdasarkan Babad Tanah Jawa, Sunan Kudus menjadi iri atas perilaku Sunan Prawoto yang lebih berkiblat kepada wejangan Sunan Kalijaga ketimbang dirinya. Karena keiriannya itu, Sunan Kudus membongkar rahasia tentang kematian Raden Kikin pada Arya Penangsang. Mendengar kisah Raden Kikin ayahnya yang dibunuh oleh Ki Surayata atas perintah Sunan Prawoto, Arya Penangsang memerintahkan pada Rangkud untuk membunuh penguasa Demak itu.

Setiba di bukit Prawoto, Rangkut memasuki ruang peraduan Sunan Prawoto. Menikamkan Kyai Bethok ke tubuh Sunan Prawoto hingga tembus ke tubuh istrinya yang tengah pulas tertidur. Sebelum menghembuskan napas terakhir bersama istrinya, Sunan Prawoto melemparkan Kyai Bethok yang ditarik dari tubuhnya ke arah Rangkud. Suruhan Arya Penangsang itu tewas.

Beberapa hari sepeninggal Sunan Prawoto, Pangeran Kalinyamat dan Ratu Kalinyamat datang ke Kasunanan Kudus. Tak ada tujuan selain meminta penjelasan dari Sunan Kudus tentang Arya Penangsang yang menyuruh Rangkud untuk membunuh Sunan Prawoto kakaknya. Tidak ada penjelasan yang diberikan oleh Sunan Kudus pada mereka selain perkataan, “Hutang nyawa telah dibalas dengan nyawa!”

Dengan perasaan kecewa, Pangeran Kalinyamat dan Ratu Kalinyamat meninggalkan Kasunanan Kudus. Di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh Arya Penangsang. Dengan mata gelap, Arya Penangsang dapat menikamkan kerisnya ke tubuh Pangeran Kalinyamat sesudah bertanding sekian lama.

Sepeninggal Pangeran Kalinyamat, Ratu Kalinyamat yang kemudian pergi ke Gunung Danaraja untuk melakukan tapa wuda apinjung rikma itu bersumpah, “Aku akan mengenakan pinjung kembali sesudah Arya Penangsang tewas. Maka bagi siapa yang dapat membunuh Arya Penangsang, aku akan mengabdi.” Telah menjadi suratan takdir, bahwa seorang yang bakal memenuhi harapan Ratu Kalinyamat adalah Pemanahan beserta Penjawi, Juru Mrentani, dan Raden Bagus (Danang Sutawijaya). Karenanya kelak, Jepara yang merupakan wilayah kekuasaan Ratu Kalinyamat itu menjadi bawahan Mataram Islam (Mataram Baru).

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.