Menjadi Modern dan Menjadi Jawa itu Bukan Jalan yang Berbeda

Menjadi Modern dan Menjadi Jawa itu Bukan Jalan yang Berbeda 1

Menjadi golongan orang yang modern ternyata tidak berbeda dengan menjadi orang Jawa. Awalnya saya menganggap bahwa orang-orang muda perkotaan dengan style nya yang sangat kontras dengan orang tua perkotaan itu menandakan bahwa dia adalah bagian dari modernitas. Pada bagian ini saya menempatkan kaum modern tadi sebagai komponen yang terlepas dari ikatan mitos-mitos tradisional. Ternyata anggapan saya salah, setelah membaca buku dari Risa Permanadeli yang berjudul “Dadi Wong Wadon: Representasi Perempuan Jawa.” Kemudian anggapan saya terasa benar-benar salah setelah mendengar pernyataan dari seorang ibu muda yang masuk pada kategori milenial. Ternyata modern itu tidak berbeda dengan menjadi Jawa.

Jawa yang dimaskud dalam artikel ini akan mengarahkan geografi imajinasi kita ke arah pulau Jawa. Kemudian bisa juga mengarah pada suku yang mendiami pulau Jawa yaitu suku Jawa. Jika terbatas pada objek fisik tersebut maka istilah “wong jowo lali jawane” (orang Jawa lupa nilai ke-Jawa-annya) bukan lagi menjadi nasihat yang berarti bagi orang Jawa. Lebih jauh lagi, berbicara tentang “Jawa” itu berarti berbicara tentang identitas yang melekat pada diri seseorang. Mulai dari asal daerahnya, ciri fisik dan kekuatan fisik, karakteristik pemikirannya, dan sikap yang dipengaruhi oleh nasihat-nasihat khas orang Jawa. Atribut identitas secara fisik maupun abstrak seperti inilah menjadikan seseorang disebut Jawa dan gak Jowo (tidak jawa).

Sekalipun seseorang itu lahir dan tumbuh besar di pulau Jawa lantas orang itu serta merta disebut Jawa? Tidak demikian. Bahkan ada beberapa orang yang menganggap bahwa dirinya bukan bagian dari orang Jawa, meskipun ia lahir di pulau Jawa. Yap benar sekali, mereka yang lahir di Jawa Barat, Banten dan Jakarta tidak bisa kita sebut orang Jawa. Bahkan mereka bisa membedakan mana orang Jawa dan mana orang Metropolitan sekalipun itu masih di pulau Jawa. Barangkali persepsi itu hadir lantaran dipengaruhi oleh pengetahuan orang-orang terkait mitos-mitos ke-jawa-an yang selalu dibawa bahkan melekat pada diri orang Jawa. Akhirnya membawa orang Jawa menempati posisi sebagai orang tradisional.

Persepsi yang menempatkan orang Jawa dengan identitas ke-Jawa-an yang melekat itu lah menjadi hal yang mengherankan bagi Risa Permanadeli. Ketika beliau sudah bisa menempuh pendidikan tinggi di kota, kemudian mendapat kesempatan untuk mengakses atribut dunia modern menjadikan beliau merasa sebagai orang modern pada satu sisi. Namun pada sisi yang lain, ketika hendak melakukan sesuatu beliau teringat pesan orang tua (baik itu ayah-ibu maupun kakek-nenek). Pesan ini berisi nasihat ke-Jawa-an, yang jika di-ikuti akan membawanya ke posisi tradisional. Sebut saja larangan untuk tidak keluar rumah pada waktu Maghrib tiba. Juga anjuran untuk sowan (meminta restu orang yang lebih tua) sebelum memulai aktivitas besar nan berat, supaya terhindar dari kesulitan dan marabahaya, yang intinya supaya memperoleh kelancaran menyelesaikan kegiatan tersebut lantaran memperoleh restu orang yang di tuakan.

Hal ini berbeda dengan kebiasaan orang modern yang disebut Risa Permanadeli sebagai representasi budaya barat. Misalnya saja ketika anak memasuki usia dewasa, maka lebih sering tanggung jawab moral berada pada diri anak tersebut. Tentu juga moril dan materiil menjadi komponen yang tak bisa ditinggal begitu saja. Akhirnya mereka survive hingga tidak menyadari jasa orang-orang yang membesarkannya. Lalu, para orang tua ini lebih sering terlihat sebatang kara karena anaknya masih berada diluar jangkauan nya. Oke, situasi ini bisa kita kaitkan dengan dihadirkannya hari ibu sedunia. Sebuah hari yang mampu mendorong anak muda perkotaan untuk sekedar mengingat orang rumah yang tengah renta, sembari mengucapkan selamat hari ibu. 

Jika hal tersebut dilakukan oleh orang Jawa, maka orang tersebut dikatakan telah lali jawane (lupa ke-Jawa-annya). Pada bagian ini, kita akan mengganggap modern dan Jawa adalah sesuatu yang benar-benar berbeda. Sampai akhirnya Risa Permanadeli menyampaikan bahwa orang Jawa bisa hidup ditempat modern dan bisa hidup ditempat yang lebih mundur dari kemunduran. Pasalnya narasi-narasi jalan hidup orang Jawa, mengarahkan orang Jawa itu pada diri individu yang berdaya. Yah sebut saja orang modern. Misalnya saja, dalam objek penelitian Risa Permanadeli soal slametan (syukuran), dimana kaum perempuan mendapat ujian berat terkait identitas perempuan-nya. 

Legitimasi atau pengakuan jati diri perempuan bagi orang Jawa salah satu sarananya adalah bisa mengikuti instruksi-instruksi dalam mempersiapkan slametan (syukuran). Serta mampu menyadari posisi yang sesuai dengan karakteristik fisiknya. Pada tahap ini, kaum perempuan Jawa akan menunjukan kepiwaiannya dalam mengerjakan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu bersamaan. Ditambah tekanan mengenai pencapaian target waktu dan hasil pengerjaan. Selain itu, kaum perempuan Jawa juga dituntut untuk bisa dan terampil berinteraksi dengan orang lain, sekalipun tidak pernah akrab. Keterampilan berinteraksi ini memiliki banyak tuntutan, lantaran karakteristik berinteraksi dengan orang seumuran berbeda dengan berinteraksi dengan orang yang lebih tua, terlebih disebut sesepuh. Terakhir adalah kemampuan menempatkan diri pada posisi dan situasi yang sesuai dengan kemampuannya. Ini cukup sulit, karena tidak semua orang menyadari batas kemampuannya.

Konsep yang sering dilontarkan terkait keharusan perempuan Jawa dalam berkontribusi pada acara slametan adalah srawung dan siji gawe loro gawe. Istilah srawung menandakan kondisi seorang Jawa harus bisa berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja. Bahkan ada pernyataan yang sedikit menohok kaum intelektual kita, yaitu orang disebut pintar itu ketika dia bisa berinteraksi dengan orang yang tidak pintar. Menohok lantaran, kaum intelek kita lebih sering berada di atas awan, dan menggunakan kepintarannya untuk diri mereka sendiri atau ornag yang sama posisi nya di atas awan.

Konsep kedua yaitu siji gawe loro gawe. Saya rasa peribahasa yang cocok untuk menggambarkan konsep tersebut adalah “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Intinya, seorang Jawa haruslah bisa dan terampil menyelasaikan pekerjaan dengan baik dan banyak. Dari kondisi inilah Risa Permanadeli mempertegas, bahwa jika orang Jawa melaksanakan ke-Jawa-annya maka tidak ada batas antara modern dan tradisional. 

Nah, berkaitan dengan ibu muda yang saya sebut diawal, beliau bisa kita tempatkan di posisi orang modern dan orang kota. Namun, hal ini berbeda ketika beliau memberikan susu kepada anaknya. Waktu itu anaknya berumur 5 bulan tengah minum susu formula. Proses minum susu ini diluar kebiasaan, pasalnya anak berumur 5 bulan ini memiliki kebiasaan baru yaitu menyembur. Alhasil ketika ujung dot  menyentuh bibir anak berumur 5 bulan ini, otomatis merespun dengan manyun dan menyemburkan tetesan susu yang sudah jatuh dimulutnya. Seketika ibu muda itu menggerutu dengan mengatakan kepada anaknya untuk tidak menyembur, karena itu bisa berefek pada kerontokan rambut ibu muda tersebut. Sepintas tidak ada hubungan sama sekali antara kebiasaan anak menyembur dengan kerontokan rambut yang dialami ibunya.

Sampai disini, tidak ada batas antara modern dan tradisional bagi orang Jawa yang meng-amini ke-Jawa-annya adalah keniscayaan.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

P. Nugroho