Menjawab Pertanyaan Siapa? Tidak Cukup dengan Nama

Menjawab Pertanyaan Siapa? Tidak Cukup dengan Nama

Wira-wiri saya dibeberapa daerah mulai Tulungagung, Malang, Jember untuk stay beberapa hari ternyata berdampak pada kebingungan menjawab pertanyaan orang setelah bertanya nama.

Dalam satu minggu, saya bisa berada di tiga daerah tersebut. Alhasil banyak terjadi pertemuan dengan orang-orang yang juga lalu lalang dari Tulungagung ke Malang juga dari Malang ke Jember begitu pula sebaliknya.

Pertemuan dengan lalu lalang orang-orang ini bisa terjadi dimana saja, mulai dari stasiun, jalur naik kereta, didalam kereta, di Indomaret, ngobrol dengan mas ojek online, dan tetangga rumah di Jember.

Selama kurang lebih 4 bulan, dengan setiap minggu singgah di tempat berbeda, bertemu orang berbeda, dan semua bisa teratasi ketika ditodong pertanyaan, seperti tujuan perjalanan.

 Tapi agak berbeda ketika sudah sampai di rumah kami, di Jember.

Sebagai penghuni baru disebuah perumahan kecil pinggiran kota, agaknya perlu berkenalan dengan tetangga yang sudah lebih dulu tinggal di sana.

Berjarak dua rumah, tetangga satu ini lebih sering menampakkan diri didepan rumah.

Ia sibuk menyusun bata ringan yang dioles adukan semen. Seorang diri tetangga kami ini merenovasi rumahnya dengan merubah space ruang halaman atau taman menjadi sebuah ruang tamu.

Baca juga  Destinasi Pantai Papuma Pasir Putih Yang Indah di Jember

Seorang diri. Tak usah ditanya bagaimana bentuk susunan bata berwarna putih itu, tentu banyak kurangnya, karena memang ia hanya meniru apa yang dilakukan seorang ahli pertukangan. Pagi itu, saya menghampiri tetangga yang tengah bergulat dengan adukan semen.

Saya memperkenalkan diri dengan mengajak mas Yudhi berjabat tangan. Percakapan dimulai dengan pertanyaan ringan seperti kapan datangnya, nama panggilannya siapa, asal dari mana.

Selebihnya, agak susah menjawab ketika ditanya lagi saya ini siapa. Sepertinya tidak cukup bagi mas Yudhi untuk sekedar mengetahui nama saya.

Ia membutuhkan keterangan lain seperti siapa saya…saya adalah….juru ketik misalkan.

Bagi saya memang agak susah untuk membuat penjelasan seperti itu, karena di Jember saya belum bekerja pada bidang tertentu.

Belum ada lembaga formal, non formal, atau kepikiran buka usaha apa begitu pindah domisili di Jember.

Ketika jawaban yang mas Yudhi harapkan tidak muncul, ia menampilkan wajah keheranan.

Baca juga  10 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Saat Wawancara Kerja

Barangkali, orang-orang seperti mas Yudhi ini merasa bahwa akan tidak logis ketika melihat orang usia produktif tampak tidak bekerja dilembaga manapun, atau tidak membuka usaha tertentu.

Hal tidak logis terletak pada pernyataan 1 orang usia produktif harus bekerja. Pernyataan 2 bekerja bisa menghasilkan uang yang berguna untuk mencukupi kebutuhan.

Pernyataan 3 kebutuhan hidup seseorang bisa dipenuhi dengan upaya bekerja untuk menghasilkan uang.

Sehingga ketika memandang saya yang tidak bekerja dilembaga manapun, itu bisa jadi sesuatu yang tidak logis karena saya masih berdiri di sekitar rumah mas Yudhi, dan tidak terlihat memiliki motivasi untuk mendapatkan pekerjaan.

Percakapan singkat yang berakhir dengan rasa aneh itu membuat saya memikirkan siapa saya?

Tepatnya memikirkan argument yang cocok untuk diberikan kepada orang yang ingin tahu pekerjaan saya sebagai apa dan dimana.

Pasalnya, saya mulai menyadari bahawa persepsi orang terhadap orang lain terbentuk bukan karena nama dan asal daerah atau bahkan ciri fisik, melainkan pekerjaan.

Ada kalanya, seseorang yang mengetahui orang lainnya bekerja pada bidang tertentu yang bisa dibilang kastanya lebih tinggi daripadanya, ia seolah ter-setting untuk menjaga ucapan dan pandangan ketika berpapasan dan berdialog.

Baca juga  5 Rekomendasi Kolam Renang Malang Yang Wajib Kamu Kunjungi, Dijamin Seru dan Gak Mau Pulang

Begitu pula sebaliknya, ketika seseorang menyadari bahwa kasta pekerjaanya atau gajinya lebih tinggi dari pada orang lainnya, seolah timbul persepsi bahwa orang lain harus segan kepadanya.

Kondisi ini entah sesuatu yang alamiah, atau sesuatu yang incidental, saya tidak terlalu menahu. Saya hanya merasakan saja.

Memiliki nama, sejarah asal usul, asal daerah, lahir diangkatan tahun berapa, kali ini tidak cukup mendeskripkan seseorang itu “siapa.” Apalagi frasa terkenal dari Rene Descartes, cogito ergo sum, yang familiar kita tahu dengan frasa aku berpikir maka aku ada.

Posisi berpikir saja yang tidak berimplikasi pada tindakan tertentu, terutama tindakan bekerja yang tampak mata dihadapan orang, tidak menggambarkan keberadaan seseorang.

Sebagaimana seorang youtuber asal Jawa Tengah yang dianggap terlibat dalam koalisi pesugihan, dan berujung kegaduhan warga. Pemilik channel youtube tersebut dianggap bukan siapa-siapa.

Lantaran logika yang dibangun orang sekitar malah berbanding terbalik. Pasalnya, pemilik channel tersebut bekerja sebagai montir bengkal yang tidak pernah ramai, sedangkan simbol kekayaan tampak pada aktivitas pemilik channel.

Situasi seperti ini dianggap berbanding terbalik atau tidak memenuhi kriteria logis, alhasil jawaban atas pertanyaan “siapa?” tidak sampai pada titik temu.

Ketika saya hanya memiliki keterangan nama, sejarah asal usul, asal daerah, lahir diangkatan tahun berapa seperti itu, pertanyaan dari orang tentang siapa saya masih belum terjawab.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

P. Nugroho