Menulis: Bakat, Kemampuan dan Kesiapan Mental

Menulis: Bakat, Kemampuan dan Kesiapan Mental 1

Menulis adalah tahapan tertinggi dan terkompleks dalam ranah kemampuan berbahasa. Hal tersebut wajar saja karena menulis membutuhkan kerja tangan, mata dan otak secara bersamaan. Mata dapat menangkap kejadian atau fakta yang ada di sekitar kita. Kemudian otak akan mengolah, mengimajinasikan dan mulai memikirkan kata-kata seperti apa yang akan dituliskan, lalu tangan akan menuliskan rangkaian kata maupun kalimat menjadi sebuah tulisan yang utuh.

Bagi sebagian orang, menulis adalah hal yang sulit. Apalagi bagi penulis pemula yang seringkali terkendala ide sehingga bingung ingin menulis apa dan bagaimana memulai sebuah tulisan. Belum lagi pikiran-pikiran apakah tulisan ini bagus atau tidak, benar atau salah, dibaca orang atau tidak, turut menjadi momok yang membuat sebagian orang takut untuk menulis. Padahal tanpa pernah memulai dan mencoba, kita tidak akan pernah tahu seperti apa hasilnya.

Menulis Itu Bakat Atau Kemampuan?     

Bakat bisa diartikan sebagai potensi yang dibawa atau melekat pada diri seseorang sebagai anugerah dari Allah SWT. Bakat akan berkembang menjadi kemampuan melalui latihan yang konsisten dan kerja keras.

Misalnya, seseorang bisa saja memiliki bakat menyanyi sejak kecil. Akan tetapi karena bakatnya tidak pernah diasah dengan baik, ia bisa saja kalah dari orang yang sebenarnya kurang berbakat dalam menyanyi, namun tekun berlatih sehingga kemampuan menyanyinya menjadi lebih baik.

Hal yang sama juga berlaku dalam menulis maupun bidang-bidang yang lain. Seberbakat apapun kita dalam suatu hal, jika tidak pernah diasah, tidak akan membuat kita berkembang sehingga kita tidak benar-benar menguasainya.

Lalu apa yang membedakan antara orang yang berbakat dalam suatu hal dengan yang kurang berbakat?

Sebenarnya bakat hanya membantu seseorang dalam mempelajari dan menguasai suatu bidang dengan lebih cepat.

Misalnya dalam hal menyanyi tadi. Sebut saja si A dan si B, sama-sama mengikuti kursus vokal agar dapat menjadi penyanyi terkenal suatu saat nanti. Keduanya bisa saja sukses menjadi penyanyi terkenal, namun karena si A pada dasarnya memang memiliki bakat menyanyi sejak kecil, ia dapat menguasai teknik-teknik bernyanyi dengan lebih cepat daripada si B.

Seperti halnya jika kita ingin jadi penulis hebat, kita harus sering berlatih. Banyak membaca, berdiskusi dan bepergian dapat memperluas wawasan kita sehingga tulisan kita menjadi lebih kaya, hidup dan berbobot. Jangan pernah menunda-nunda untuk menulis. Jangan pula menunggu mood atau inspirasi datang. Karena inspirasi itu dicari bukan ditunggu.

Kesiapan Mental Seorang Penulis

Selain butuh latihan dan kerja keras, seseorang yang ingin menjadi penulis hebat harus memiliki mental yang tangguh. Menjadi penulis membutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam menjalani proses yang tidak instan. Salah satunya adalah harus siap apabila naskah ditolak oleh berbagai media.

Naskah yang ditolak bukan berarti jelek. Mungkin gaya penulisan kita tidak sesuai dengan gaya penulisan yang biasa dipakai di media tersebut. Mungkin naskah yang dikirim belum sesuai dengan ketentuan penulisan yang berlaku. Alasannya bisa bermacam-macam. Jadi, cobalah untuk dievaluasi kembali apa yang kira-kira menyebabkan naskah ditolak.

Kalau semua syarat dan ketentuan sudah dipatuhi, namun masih belum berhasil dimuat juga, tetaplah bersabar dan jangan berhenti mencoba. Mungkin belum rezeki.

Menjadi penulis juga menuntut kita untuk bersikap open minded dan berani dikritik. Tulisan yang kita buat tentu tidak sempurna. Begitu pula dengan tulisan ini. Hal yang wajar apabila terdapat banyak kekurangan dalam tulisan kita, apalagi penulis pemula.

Penulis senior sekalipun juga tidak terlepas dari kekurangan dan kekeliruan. Oleh karena itu, kita seharusnya berterimakasih pada orang yang mengkritik tulisan kita. Itu artinya tulisan kita diperhatikan. Kritikan itu bisa jadi bahan evaluasi agar tulisan kita lebih baik lagi. Bukan malah membuat kita berhenti menulis.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.