Menyoal Dikotomi Antara ‘Budaya Barat’ dan ‘Budaya Timur’

Menyoal Dikotomi Antara 'Budaya Barat' dan 'Budaya Timur' 1

Adakah yang masih ingat mengenai patung putri duyung di depan resort Ancol, Jakarta Utara, yang dadanya ditutupi kain berwarna emas, di mana aslinya patung tersebut bertelanjang dada? 

Hal tersebut lantas mengundang reaksi warganet yang diekspresikan melalui sejumlah meme. Ketika ditanya alasan mengapa patung telanjang dada harus ditutup kain, jawabannya adalah agar lebih sesuai dengan budaya ketimuran.

ilustrasi dua orang berbeda bangsa makan dengan sumpit | photo by digital sennin from unsplash
ilustrasi dua orang berbeda bangsa makan dengan sumpit | photo by digital sennin from unsplash

Agnez Mo, penyanyi yang kini mulai go international, beberapa kali memperoleh cibiran dan hujatan dari masyarakat Indonesia mengenai penampilannya yang kerap berpakaian seksi. Mereka menganggap bahwa cara berpakaiannya tidak sesuai dengan budaya ketimuran.

Pada akhir tahun 2017 lalu, sejumlah ormas meminta kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, untuk membatalkan atau menghentikan penyelenggaran Djakarta Warehouse Project (DWP). Sebagai respon dari tuntutan tersebut, Pemprov DKI menyatakan bahwa DWP tetap bisa dilaksanakan asalkan tetap menjunjung norma ketimuran.

Ada pula pelaksanaan ajang kecantikan dunia, Miss World 2013, yang pernah ditolak pelaksanaannya di Indonesia karena dalam salah satu sesinya menampilkan para kontestan dalam balutan pakaian renang atau bikini. Alasannya tentu saja tidak jauh beda dengan tiga peristiwa yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

Sejujurnya, saya bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan budaya ketimuran? Mengapa ada pemisahan antara budaya timur dan budaya barat?

Sebenarnya dikotomi antara Timur dan Barat telah berlangsung sejak zaman Romawi Kuno. Namun kepopulerannya lebih berkembang setelah adanya studi postkolonialisme dan orientalisme pada abad ke-20.

Dikotomi ini bukan hanya diartikan sebagai letak geografis melainkan lebih kepada persaingan kekuatan besar saat itu. Jepang dan Cina muncul sebagai pelopor yang membentuk kekuatan negara-negara Timur untuk dapat menandingi kekuatan negara-negara Barat.

Kajian soal dikotomi Timur dan Barat ini juga dibahas oleh Samuel P. Huntington dalam buku The Clash of Civilizations. Huntington berpendapat dalam bukunya bahwa benturan peradaban dunia bukan hanya ada diantara masyarakat Timur dan Barat namun juga Muslim dan Non Muslim.

Huntington bahkan membagi peradaban dalam tujuh atau delapan peradaban utama. Ia menamai peradabannya dengan Western Civilizations, sedangkan peradaban lainnya ia namakan dengan sebutan agama, seperti Confucian, Japanese, Islamic, Hindu, Slavic-Orthodox, Latin American dan African.  

Selama ini kita cukup familiar dengan pernyataan “harus sesuai dengan budaya ketimuran atau jangan kebarat-baratan” yang biasa dipakai untuk mengatur dan mengurusi moral masyarakat.

Budaya timur umumnya digambarkan sebagai budaya yang religius, menjunjung tinggi nilai sopan santun, mengedepankan nilai kekeluargaan dan mengutamakan nilai tradisi. Sementara budaya Barat sering digambarkan sebagai budaya yang jauh dari nilai-nilai agama bahkan cenderung tidak percaya Tuhan, individualis, materialistis, menganut gaya hidup bebas dan cenderung mengedepankan rasionalitas.

Namun ada pula yang menganggap bahwa budaya barat itu modern dan maju sedangkan budaya timur itu tradisional , kaku dan terbelakang.

Definisi budaya ketimuran di Indonesia kini sering pula dikait-kaitkan dengan sesuatu yang berasal dari nilai-nilai agama tertentu. Akibatnya mereka yang mengatasnamakan agama tertentu kerap memaksakan konsep atau nilai-nilai agama yang dianutnya kepada orang lain yang berbeda agama.

Selain itu, kaum konservatif dan moralis sering menggunakan istilah budaya ketimuran untuk menentang segala hal yang berasal dari budaya barat. Anggapan bahwa budaya barat selalu buruk dan hanya akan merusak moral masyarakat Indonesia tidak sepenuhnya benar. Budaya barat mana dulu yang dimaksud?

Padahal ada juga budaya barat yang baik untuk dicontoh, seperti menghargai waktu, berpikiran maju dan terbuka, kesadaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan masih banyak lagi.

Frasa ‘budaya ketimuran’ juga sering digunakan untuk mengekang kebebasan berpikir dan berekspresi.

Polemik RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), misalnya.

Para penentang RUU ini berdalih bahwa RUU PKS melegalkan perzinahan dan LGBT sehingga bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan budaya ketimuran. Mereka juga menuding bahwa orang-orang yang mendukung RUU PKS sebagai kaum liberal yang pemikirannya telah terdoktrin oleh pemikiran barat.

Padahal yang hendak diperjuangkan dan dicapai melalui RUU PKS adalah keadilan bagi para korban kekerasan seksual. Apalagi penanganan kasus kekerasan seksual selama ini masih belum dilakukan secara serius di mana korban lebih banyak dirugikan bahkan bisa dikriminalisasi. Sudahlah mengalami kekerasan seksual, ketika melaporkan kasusnya ke pihak berwajib malah dilaporkan balik oleh pelaku dengan tuduhan pencemaran nama baik. Nah, itu sebabnya kita butuh regulasi yang mengatur dengan tegas masalah ini.

Sebenarnya budaya itu cair dan dinamis. Budaya bisa bergeser atau berubah sejalan dengan perkembangan zaman. Budaya juga bisa bercampur dan saling mempengaruhi (biasa kita kenal sebagai akulturasi budaya) satu sama lain.

Dikotomi antara budaya timur dan budaya barat pun tidak begitu jelas di mana batas pemisah atau pembedanya. Kalau pembedanya hanya masalah baik-buruk, bermoral-amoral, tradisional-modern, saya merasa ini kurang tepat. Karena biasanya sesuatu yang berbeda dengan sikap dan pandangan mayoritas akan dianggap bukan bagian dari budaya mereka. Dan akhirnya malah mengkambinghitamkan budaya lain sebagai perusak moral.

Padahal nilai-nilai budaya luar yang mereka bawa dan terapkan tidak semuanya buruk. Bisa jadi sesuatu yang selama ini telah menjadi kebiasaan dan membudaya di masyarakat malah kurang baik atau sudah using sehingga perlu ada perubahan. Sayangnya, penolakan seringkali keburu datang duluan dengan dalih “bukan budaya kita”.

Alih-alih mengkambinghitamkan budaya barat sebagai perusak moral, saya lebih sepakat kalau orang itu sendiri yang sebenarnya bermasalah. Entah pikiran, hati, ucapan atau sikapnya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.