Menyontek Pola Asuh Mamah Maudy Ayunda

Menyontek Pola Asuh Mamah Maudy Ayunda 1

Keberhasilan anak tak bisa dipisahkan dari pola asuh orang tuanya. Begitu pun sebaliknya, pelanggaran yang dilakukan anak sering dilihat sebagai kegagalan orang tua dalam mendidiknya. Anak yang terlahir bagaikan kertas putih polos tanpa noda, akan diisi dengan apa, dibentuk menjadi apa, kuncinya ada pada orang tuanya.

Akhir- akhir ini public sedang dihebohkan dengan euphoria wisudanya Maudy Ayunda. Ya, mendapat gelar MA dan MBA secara bersamaan dari kampus terbaik dunia memang sebuah prestasi yang patut diacungi jempol. Banyak yang iri dibuatnya. Tak sedikit pula yang penasaran dan mencari tahu “bagaimana cara jadi Maudy Ayunda”. Tapi, tapi itu udah telat, terutama bagi saya, hehe. Dari pada sibuk mencari tahu menjadi Maudy Ayunda, lebih baik mencari tahu bagaimana caranya jadi mamah Maudy.

Cuitan “udah telat cari tahu cara jadi Maudy Ayunda, cari tahu aja gimana caranya jadi mama Maudy Ayunda” cocok sekali bagi orang- orang yang iri dibuatnya. Yap, pencapaian dia sekarang merupakan proses panjang sejak ia lahir hingga sekarang yang tak bisa dilepaskan dari peran orang tua, terutama mamahnya. Bagaimana sih cara beliau mendidiknya?

Berdasarkan riset kecil- kecil an yang saya lakukan, saya menemukkan beberapa poin penting yang bisa dicontoh. Pertama, mamah Maudy hobi membaca, hobi itulah yang menurun ke anaknya. Sejak kecil Maudy sudah terbiasa disuguhkan dengan berbagai macam bacaan. Bahkan dia pernah bercerita kalau ayahnya sering bolak- balik Singapura hanya untuk membelikan buku. Wah, Indo- Singapura berasa beli cabai dari rumah ke pasar ya.

Kedua, Mamah Maudy membiasakan kemandirian dari kecil. Meskipun dirumah ada pembantu, tapi Maudy tak pernah diizinkan untuk menyuruh- nyuruh pembantu. Mamah selalu bilang pada Maudy “ini pembantu mamah, bukan pembantu kamu, kamu gak berhak ya nyuruh- nyuruh” begitu tegas mamahnya. Ya, secara tak langsung tidak hanya kemandirian yang diajarkan, tetapi juga tanggung jawab, menghargai, dan menghormati.

Ketiga, mamah sejak kecil mengajarkan Maudy untuk problem solving. Obrolan diantara mereka bukan hanya obrolan yang ringan seputar sekolah, tetapi obrolan yang perlu mikir. Dengan begitu, Maudy terbiasa dengan memahami masalah, analisis masalah, dan pemecahannya serta making decision. Ya, ini penting banget. Mengingat untuk menghadapi dunia yang penuh dengan ketidakjelasan, ini merupakan skill utama yang harus dikuasai oleh setiap orang dan ini harus diajarkan sejak kecil.

Keempat, Mamah Maudy tidak pernah mengekang untuk menjadi apa, beliau memberikan kebebasan pada Maudy melakukan apa yang dia minati. Beliau hanya mengarahkan dan membimbing, setelahnya keputusan ada ditangan Maudy. Namun dengan demikian, pencapaian Maudy yang sekarang dianggap sebagai bonus oleh Mamahnya.

Kelima, kebutuhan Maudy secara materi sudah sangat cukup, sehingga ia sejak kecil dibekali dengan fasilitas pendidikan yang memadai. Mulai dari sekolah, ia menyekolahkan di sekolah internasional dengan standar pendidikan yang bagus dan membuka peluang besar untuk menjangkau pendidikan diluar negeri. Ya, ini sangat berpengaruh pada kampus yang ia taklukan sekarang. Dan mungkin bukan suatu yang waw untuk ia masuk ke dalamnya. That’s privileges.

Keberhasilan Maudy Ayunda membawa netizen untuk menyontek pola asuh mamahnya. Memang patut untuk dicontoh. Tapi tentu tak mudah, perlu proses panjang. Mari berkaca pada diri sendiri dimulai dari kebiasaan, apakah kebiasaan kita sekarang nantinya mendukung untuk bisa seperti mamahnya Maudy yang hobi baca, wawasan luas, dan pikiran terbuka? Kalo iya, selamat! Kalo tidak ya mari kita bentuk mulai dari sekarang. Apapun hobinya tak perlu dipaksakan, tapi wawasan luas adalah kuncinya. Melalui wawasan, pikiran kita akan terbuka dan terhindar dari konservatif.

Pencapaian Maudy yang sekarang dipengaruhi oleh banyak sekali faktor, bukan hanya dari orang tuanya terutama mamah, tapi juga kerja keras Maudy dan privilege yang dia punya serta hal lainnya. Mencontoh pola asuh Mamah Maudy boleh saja, tapi bukan jadi patokan ya. Tetap lah menjadi diri sendiri dan perhatikan factor lainnya, seperti keadaan anak, kemampuan diri sendiri, keadaan ekonomi, dan faktor lingkungan yang selalu berubah. Intinya selalu kembangkan kapasitas diri dalam segala hal.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Diahir