Merajut Takdir dari Perspektif Anak Tunggal

Merajut Takdir dari Perspektif Anak Tunggal 1

Menjalani harapan orang tua di tengah situasi yang selalu memaksa terkadang membuat saya berpikir dua kali untuk memilih keputusan dalam hidup saya. Menjadi seorang anak tunggal pun tidak mudah, orang beranggapan menjadi seorang anak tunggal selalu dimanjakan dengan diberikan yang kita inginkan. Saya pun membantah argumen tersebut karena itu hanyalah sebuah alasan untuk iri. Tidak mudah menjadi seorang anak tunggal yang menghadapi realita dunia yang kejam. 

Sempat terbesit di kepala saya mengenai kebebasan dalam memilih takdir kehidupan, namun saya rasa dunia pun penuh dengan hal yang tidak terduga sama halnya dengan takdir. Lingkungan hanya bisa melihat dari kulit terluar kita, namun tidak bisa melihat sisi dalam diri kita. Standar manusia membuat saya seperti terpenjara dalam sebuah kotak moral. Semua berperan layaknya hakim sebab saya selalu merasa terpidana di tengah penghakiman. Saya meyakini setiap manusia ditakdirkan menjadi emas di tengah lumpur (memiliki keunikan yang membuat dirinya menjadi spesial). 

Alasan saya melawan takdir tersebut adalah mengubah paradigma masyarakat mengenai pilihan hidup seseorang atau keyakinan seseorang. Awalnya saya berasal dari keluarga yang menengah, ayah saya bergerak dibidang kesehatan yang cukup dikenal oleh masyarakat dan ibu saya merupakan seorang ibu rumah tangga. Dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, mereka pun bisa mencukupi perekonomian di rumah dan dapur pun tetap mengepul, setidaknya penghasilan mereka bisa mencukupi biaya pendidikan saya. 

12 tahun merupakan waktu yang tidak sebentar untuk saya bisa menempuh pendidikan di sekolah, dari beragam cerita dan kenangan yang saya dapatkan, saya pun mendapatkan pelajaran kehidupan dari masa perkuliahan saya. Berawal dari migrasinya pandemi dari sebuah negeri yang jauh membuat masa sekolah saya berakhir lebih awal dan terpaksa harus berpisah lebih cepat dengan kawan lama. Saya pun sudah memfokuskan diri untuk memasuki perguruan tinggi dengan mempelajari hal-hal yang akan diujikan nantinya, tentu saja saya membutuhkan teman saya yang menguasai hal ini untuk membantu saya melewatinya. 

Terkadang kehidupan penuh dengan misteri yang tidak bisa terprediksi oleh logika manusia sebab kehidupan ini merupakan sebuah sistem yang sudah terbentuk dari masa penciptaan. Misteri kehidupan membawa saya ke tempat yang tidak pernah terbayangkan dengan kehadiran saya bisa menjadi bermakna. Tentunya, jika dibandingkan dengan diri saya di masa-masa sekolah pun saya hanya bisa mengatakan “Mana mungkin” atau “Mustahil sekali bisa berada disini”. Bahkan kejutan ini membawa peruntungan bagi hidup saya, namun bagi orang lain membawa rasa kedengkian. 

Setiap keluarga selalu mewariskan kebudayaan yang sudah diterapkan dari generasi turun-temurun, seakan-akan lahirnya generasi baru harus memikul warisan tersebut demi eksistensi keluarga mereka di mata masyarakat. Bahkan, beberapa kisruh keluarga yang terjadi merupakan akibat dari warisan ini. Terkadang saya merasa warisan dan takdir merupakan dua hal yang berlawanan dan untuk diargumentasikan pun tidak akan ada ujungnya. Mungkin adanya tekanan di dalam lingkungan keluarga membuat saya menjadi tidak nyaman sehingga saya pun memilih untuk melawan kebiasaan tersebut. 

“Mungkinkah takdir membawa saya keluar dari zona nyaman?”, inilah pertanyaan yang saya sering temukan di dalam pergaulan. Kala di masa sekolah tidak pernah terpikirkan, apalagi mewariskan sesuatu. Mungkin di dalam diri saya memiliki rasa keingintahuan terhadap sesuatu sehingga apabila ditanya “Saat besar nanti, mau jadi apa?”, saya pun tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Saya pun meyakini untuk melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati sehingga tidak mengecewakan orang lain. 

Labilnya diri saya pun secara perlahan mulai terkikis sebab kedewasaan yang saya dapatkan dari realita dan problematika kehidupan menghampiri saya. Mungkin di masa sekolah saya pun tidak bisa mendapatkan hal yang saya mau, berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Di masa SMA saya pun menemukan suasana yang membuat saya selalu untuk berusaha sekuat mungkin demi membanggakan kedua orang tua saya. Kedewasaan yang saya temukan selalu berasal dari pergaulan. 

Kerdilnya pemahaman manusia terkadang menutup kesempatan untuk mengalami kemajuan dalam hidupnya. Begitu banyak jalan yang terbuka lebar dalam hidup ini sehingga kita pun dapat memilih mana yang tepat untuk diri kita. Penghalang kesempatan seringkali dibentuk oleh keluarga sebab “keluarga mengetahui mana yang terbaik untuk kita”. Terkadang lingkungan keluarga menghalangi saya untuk melakukan hal yang saya suka. Sepertinya tidak hanya saya saja yang merasakan hal yang sama, beberapa orang yang pernah saya temui pun menganggap hal yang sama. 

Tembok tersebut memicu saya untuk berusaha dengan keras demi membanggakan kedua orang tua saya. Mungkin langkah saya membawa pro dan kontra bagi mereka tapi jika itu merupakan hal yang suka tentu saja tetap saya akan lakukan. “Apabila sumber kebahagiaan itu berada di sekitar kita, maka sumber kekecewaan pun juga berada di sekitar kita.”, inilah pernyataan yang saya lihat selama 19 tahun ada di dunia ini. Melihat permasalahan yang sering terjadi bersama keluarga pun membuat saya lebih memilih untuk menyendiri saja. 

Racun kehidupan membuat saya sempat mengalami kehilangan arah dalam menjalani kesibukan saya. Anggapan sebelah mata yang saya rasakan pun sudah jadi makanan sehari-hari dalam hidup saya. Beberapa hal yang saya jalani, termasuk takdir saya, tidak pernah dianggap dengan positif. Saya pun tidak pernah kesal dan berpikir untuk marah karena saya menganggap hanya membuang waktu saja. Memang pemahaman antar generasi begitu terlihat berbeda. 

Keyakinan saya atas takdir yang saya hadapi pun membuka peluang baru bagi karir saya dan juga membantu memperluas relasi di tengah situasi yang sulit seperti ini. Saran saya jika kita ingin hidup lebih berkembang dari sekarang mulai tinggalkan lingkungan yang menghambat kita untuk berkembang. Karena hidup ini kita yang jalani, bukan mereka. Jangan biarkan opini mereka menghancurkan segala hal yang kita inginkan. Saya pun membuang segala energi negatif yang saya terima dari lingkungan saya demi membantu mood saya terjaga. 

Setiap manusia ditakdirkan untuk melakukan hal yang luar biasa, dari aspek yang terkecil hingga yang terbesar. Meski, terdapat latar belakang yang menghalangi, namun hidup ini akan berputar dari waktu ke waktu. Jangan takut untuk menghadapi semua tantangan sebab mental kita akan terbentuk dari tantangan tersebut. Di dalam kesendirian saya terkadang muncul sebuah pemikiran bahwa kita hanya bisa menguatkan diri sendiri tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Jadi, disaat kita merasa kesepian dan hampa, janganlah takut sebab di dalam kesendirian kita terdapat begitu banyak pikiran yang segar untuk diterapkan dalam kehidupan ini.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ivano