Merasa “I’m Fine”, Yuk Kenali Pembentukan Mental Illness Mu

Merasa “I’m Fine”, Yuk Kenali Pembentukan Mental Illness Mu

Pernah gak sih kalian merasa bahwa diri kita itu baik-baik saja. Atau kadang suka merasa “I’m fine” kok. Tapi kenyataannya, sebenarnya tidak.

Anehnya, saat kalian merasa I’m fine, tapi setiap kali kumpul-kumpul ngerasa hampa aja gitu. Padahal ada banyak teman-teman kamu nih.

Atau, pas kalian lagi menyaksikan stand up comedy yang emang lucu banget. Tapi, kalian susah ketawa aja gitu, berasa kayak terpaksa aja deh ketawanya. Pernah gak sih kalian di posisi itu.

Jika kalian pernah merasakan I’m fine, tapi faktanya tidak.

Berarti diri kalian ada masalah nih sama kesehatan mentalnya. Bisa jadi juga ada mental illnes di dalam diri kalian yang tidak disadari.

Memang, mental illness itu apa sih? Dan apa pengaruhnya sama diri kita yang fine-fine aja.

Well, ada banyak pengaruhnya sih kalau kalian merasa baik-baik saja tapi hati dan pikiran kalian sebenarnya tidak dalam kondisi yang baik.

Oke, sedikit dibahas nih arti dari mental illness itu sendiri. Secara garis besar, mental illness sama dengan adanya penyakit kejiwaan.

Mental illness bisa disebut juga sebagai gangguan kesehatan mental, yang mengacu pada berbagai kondisi yang memengaruhi pikiran, perasaan, suasana hati atau perilaku seseorang.  

Nah, dari sini, setidaknya kita cari tahu dulu ada atau tidaknya mental illness di dalam diri kita.

Kira-kira, ada tidak ya penyakit kejiwaan di diri kita? Atau kalian masih juga berpikir, “Ah, masa sih diri gue yang fine-fine aja kok bisa kena masalah mental?”

Eits, jangan salah. Justru banyak dari kita yang merasa dirinya I’m fine, tapi nyatanya malah mengalami gangguan kesehatan mental.

Contoh kasus begini, di saat kita lagi sendirian. Eh tiba-tiba perasaan langsung sedih gitu aja.

Padahal pikiran kalian mengatakan baik-baik aja kok. Nah, berarti hati dan pikiran kalian tidak sinkron dong.

Berarti ada sesuatu dong sama diri kalian. Atau ada juga yang seperti ini, si A merasa hidupnya oke-oke aja tuh.

Tapi, setiap harinya dia ngeluuuhh aja, ada aja emosi tidak terduga yang keluar dari dirinya entah itu marah, cemas, moodyan, bahkan bingung aja gitu.

“Kenapa sih gue?” saat ditegur sama si B, “Mending lo banyak-banyak healing deh.” Eh taunya si A hanya jawab, “Gue baik-baik aja kok, gak usah sok tahu.” Nah lho jadi salahkan.

Menurut kalian, apa benar si A ini baik-baik aja? Tapi kok, perilakunya tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya.

Pernyataan si A ini, sebenarnya bisa jadi sedang mengalami fase pembentukan mental illness nya. Kok fase pembentukan?

Ya, karena ada beberapa fase pembentukan seseorang yang akan membawa dirinya menjadi sosok pribadi yang mengalami mental illness.

Oleh sebab itu, ketahuilah fase pembentukan mental illness kita. Ada 5 fase pembentukan menuju mental illness pada seseorang, yaitu sebagai berikut:

1. Suka Memendam Emosi/Masalah

Merasa “I’m Fine”, Yuk Kenali Pembentukan Mental Illness Mu

Jika kalian suka memendam sesuatu, terutama memendam emosi dan masalah kalian. Mulai dari sekarang, stop memendam itu semua.

Baca juga  Bisa Meningkatkan Imunitas, 7 Tips Sederhana Untuk Menjaga Kesehatan Mental

Sifat kalian yang suka memendam itu, akan membawa dampak tidak sehat untuk mental kalian bahkan akan merujuk pada mental illness kalian ke depannya nanti.

Orang yang merasa dirinya baik-baik saja. Akan lebih banyak memendam emosi perasaannya, seperti marah atau pun sedih.

Misalnya gini, hari ini kita dibuat emosi oleh seseorang. Kita sebenarnya ingin marah, tapi karena muncul perasaan tidak enak, bingung, dan tidak tahu harus marah seperti apa.

Akhirnya, emosi itu dipendam, semakin lama, semakin lama dan semakin dalam. Memang tidak musti diluapkan secara  langsung kepada orang yang membuat kita marah.

Ada banyak opsi untuk meluapkan emosi kalian, atau perlu kalian proses emosi di dalam diri kalian. Tanya pada diri sendiri, apa sih yang membuat kita marah tadi?

Berbeda hal jika kalian pendam. Hal yang kita pendam, awalnya memang sedikit.

Bayangkan dalam satu bulan kalian mendapatkan banyak perasaan emosi negatif, dan semuanya kalian pendam di dalam diri kalian selama 30 hari.

Kelak, semua emosi yang terpendam itu sudah tidak muat lagi di dalam diri anda.

Bahkan, sewaktu-waktu akan seperti bom waktu yang akan meletup tidak karuan. Apa yang terjadi? Kalian akan mengalami mental illness.

Gangguan secara umum dari mental illness sendiri, kalian bisa mengalami gejala panic attack atau kecemasan berlebihan.

Alih-alih memendam perasaan emosi negatif kalian, luapkanlah. Tidak usah membalas dengan fisik ataupun makian kepada orang yang membuat kalian emosi.

Seperti yang sudah saya katakan tadi, ada banyak opsi untuk meluapkannya. Menangis, berteriak, menulis, atau bercerita kepada orang yang kalian percaya.

Itulah beberapa opsi yang bisa kalian pakai. So, stop memendam.  

2. Tidak Mengakui dirinya “Not Fine”

Merasa “I’m Fine”, Yuk Kenali Pembentukan Mental Illness Mu

Tidak mengakui diri ini lebih ke arah menolak untuk mengatakan “tidak baik-baik saja.” Alih-alih mengatakan “Not fine”, kalian selalu bersikeras untuk mengatakan “I’m fine”, padahal tidak.

Banyak yang seperti ini. Ada banyak alasan bagi mereka yang mengatakan fine-fine aja, tapi kenyataannya tidak.

Salah satunya ialah malu untuk mengakui dirinya “tidak baik-baik saja” dan ini juga masih berkaitan dengan poin pertama tadi yaitu memendam emosinya.

Mereka yang malu untuk mengakui dirinya tidak baik-baik saja. Akan memendam sebisa mungkin semua perasaan negatifnya, agar orang lain tidak tahu apa yang dirasakannya, apa yang ada di dalam dirinya, bahkan tidak ingin orang lain tahu kelemahannya.

Hal ini pun sebenarnya membawa kurang sehat untuk mental kita. Jujur pada diri sendiri itu penting.

Salah satu jujur pada diri sendiri ialah mengakui bahwa kamu memang sedang tidak baik-baik saja.

Tidak apa orang lain tahu kelemahan kita. Jika kita pendam sendirian, tidak mengakuinya, yang ada kita akan membandingkan diri kita dengan orang lain.

Jatuhnya tidak percaya diri, insecure, menutup diri dan lain sebagainya. Lagi-lagi membawa pada diri kita, ke arah mental illness.

Baca juga  Korupsi: Antara Etika Profesi & Kesehatan Mental

Seseorang tidak akan tahu apa yang tengah kita rasakan, jika kita tidak memberitahunya.

Meminta bantuan dengan bercerita, mentoring atau berdiskusi kepada seseorang itu tidak ada salahnya.

Jika orang yang kalian beritahu akan kondisi kalian yang sesungguhnya, lalu ia menjatuhkan atau bahkan mengabaikan.

Tinggalkan saja orang yang seperti itu. Atau carilah orang yang bisa kalian percayai, entah itu orang terdekat, orang tua, sahabat, atau siapa pun.

Ungkapkan dan akui bahwa kalian sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya ada satu beban yang perlahan terlepas dari diri anda.

3. Kebingungan

Merasa “I’m Fine”, Yuk Kenali Pembentukan Mental Illness Mu

Fase kebingungan ini merujuk pada kebimbangan jati diri seseorang. Maksudnya, seseorang yang akan mengarah pada pembentukan mental illness, sulit mengenali jati dirinya sendiri.

Mereka cenderung menghindar dari semua emosinya dan mempertanyakan banyak hal akan jati dirinya.

Seperti kenapa saya bisa seperti ini?

Kenapa hati saya merasa tidak tenang?

Apa yang sebenarnya saya inginkan dalam kehidupan ini?

Kenapa saya berbeda dengan orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang untuk mencoba mengkritisi dirinya sendiri, namun tidak ada satu pun jawaban yang bisa mereka temukan tentang jati diri mereka.

Akibat kebingungan itu pulalah, mereka cenderung menghindari diri dengan bersikap baik-baik saja, yang berkaitan pula dengan menolaknya ia akan dirinya yang sedang tidak baik-baik saja.

Itulah mengapa, penting untuk menyelami diri sendiri. Mengetahui apa kelebihan yang kita miliki, apa kekurangannya dan menerima itu semua dengan cara yang positif.

Kebingungan dan kebimbangan ini, nantinya akan membawa mental illness kita pada gangguan depresi, overthinking berlebihan, dan kegamangan perilaku yang akan membawa pada gangguan mental lebih parah ke depannya.

Fase kebingungan ini pun bisa mengarah pada tidak mengenalinya emosi yang sedang dirasakan. Yang nantinya muncullah kebingungan dalam benaknya.

Kenapa dengan saya?

Ada apa dengan saya?

Lagi-lagi pada fase kebingungan ini, masih berkaitan dengan poin satu dan dua yaitu suka memendam emosi dan menolak dirinya yang sedang tidak baik-baik saja. Jika poin satu dan dua sudah bisa terlewati dengan positif.

Maka, mereka tidak akan ada di fase kebingungan ini.

Mereka yang cenderung menyelami dirinya sendiri, akan terbiasa untuk introspeksi akan dirinya dari kesalahan yang dibuatnya, menerima semua masalah dan emosi yang ada pada dirinya serta bersyukur atas hidup yang sudah dilaluinya.

Catatan, introspeksi ini tidak juga mengkritik secara berlebihan kepada diri sendiri. Jika lagi-lagi mengalami kesulitan karena seseorang, carilah orang yang bisa kalian percaya.

4. Mudah Stress

Merasa “I’m Fine”, Yuk Kenali Pembentukan Mental Illness Mu

Kenapa mudah stress?

Karena ini berkaitan dengan poin ketiga sebelumnya yaitu kebingungan dan kebimbangan.

Seseorang yang sudah mengalami kebuntuan, kebingungan, dan kebimbangan akan jati diri atau emosinya.

Akan memikirkan banyak hal yang membuatnya mudah stress dengan segala emosi yang muncul seperti sedih tiba-tiba, marah yang sulit dikendalikan dan mudah khawatir akan sesuatu hal yang sangat remeh.

Baca juga  Kesehatan Mental Dikalangan Orang Tua

Seseorang yang mudah stress, akan berdampak pada mental illness yang akan terjadi pada dirinya.

Lagi-lagi akan adanya gangguan depresi, bipolar, atau mungkin melakukan self harm yaitu menyakiti dirinya sendiri.

Akibat meluapnya emosi yang membuat mereka stress dan tidak menemukan jalan keluarnya.

Jika kalian sudah ada di fase ini, lebih baik minta seorang ahli untuk mendiagnosanya. Jangan sekali-kali mendiagnosa diri sendiri dengan mencari teori dari Google, untuk membenarkan kondisi kalian sendiri.

Harus kalian ketahui, berawal dari stress ringan yang tidak terselesaikan akan membawa pada tingkat stress yang lebih tinggi.

Tingkat stress yang sudah tinggi dan tidak terselesaikan lagi, akan membawa kalian pada mental illness.

So, jangan takut untuk speak up dengan orang yang bisa dipercaya atau ahlinya.

5. Tidak ada Minat

Merasa “I’m Fine”, Yuk Kenali Pembentukan Mental Illness Mu

Saat seseorang mudah mengalami stress, mereka cenderung malas untuk melakukan apa pun.

Seolah-olah sudah tidak ada minat lagi dalam hidupnya. Orang lain yang melihatnya, mungkin masih terlihat melakukan aktivitas seperti biasanya.

Tapi, pribadi  yang menjalankannya hanya melakukan aktivitas itu sebatas kebutuhan dan pekerjaan biasa.

Tanpa adanya keinginan dibalik aktivitas yang mereka lakukan.

Misalnya begini, si A bekerja di sebuah pabrik, setiap pagi sampai sore ia akan bekerja seperti biasanya. Menjadi pekerja operator produksi.

Tapi orang-orang disekelilingnya akan melihat dia seolah berbeda, seolah sosok si A tidak hidup seutuhnya.

Akan tetapi, saat ditegur oleh teman-temannya, ternyata si A mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak ada masalah apa pun.

Saat si A pulang dan berada di rumah, dirinya akan mengalihkan perhatiannya dengan bermalas-malasan, tidak bergaul dengan tetangganya, lebih fokus pada satu hal instans seperti memainkan gadget.

Seperti itu terus dan terus, namun sebenarnya si A tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dia lakukan.

Baginya, semua yang dilakukannya terasa hampa dan membosankan. Hingga tanpa sadar muncullah rasa tidak adanya minat itu.

Apa yang terjadi pada si A ini, tentunya masih berkaitan dengan poin dari satu sampai empat.

Ada sesuatu hal di dalam dirinya, yang tidak ia ketahui, yang ia pendam, lalu pusing sendiri dan stress sendiri.

Sehingga sulit menentukan arahnya dan emosinya. Jika perasaan tidak ada minatnya ini terus berlangsung, akan merujuk pada mental illness yang lebih parah.

Salah satunya gangguan makan, gangguan tidur, self harm atau menyakiti dirinya sendiri, atau bahkan melakukan tindakan bunuh diri jika sudah terjadi pada fase yang sangat-sangat parah.

Itulah beberapa 5 fase pembentukan mental illness kita, sebelum kita mengalami mental illness, mulai saat ini juga koreksi diri kalian.

Apakah ada ciri-ciri dari lima hal itu. Jika ciri pertama saja sudah ada di diri kalian yaitu memendam emosi, maka stop lakukan memendam itu semua.

Mental illness akan terjadi jika suka memendam emosi saja sudah ada pada diri kalian. Jika poin pertama di atas sudah ada pada diri kalian.

Akui saja jika kalian memang sedang tidak baik-baik saja. Saat diri sudah merasa tidak baik-baik saja, carilah seseorang untuk membantu kalian.

Ungkapkan dan ceritakan semuanya, apa yang kalian inginkan dari orang ini. Membutuhkan solusikah, atau hanya ingin didengarkan saja, mencurahkan semua keluh kesah kalian, membutuhkan pertolongan atau apa pun.

Jika kondisi kalian sudah semakin parah hingga poin ketiga dan keempat. Carilah seorang ahli untuk membantu kalian, entah itu psikolog, ataupun psikiater.

Jangan malu ataupun ragu untuk menemui mereka. Kesehatan mental itu sangat mahal harganya, sudah tergores sedikit saja mental kalian.

Maka dampaknya akan lebih parah ke depannya. So, ungkapkanlah, kalian tidak sendirian dan kalian adalah orang-orang yang luar biasa.

Orang-orang yang begitu hebatnya dan orang-orang kuat yang diciptakan Tuhan untuk menjadi pembeda yang luar biasa.

Salam untuk kita semua, menuju kesehatan mental yang lebih baik.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

dn Niana