Mereka yang Alih Profesi: Dari Penerbang Jadi F&B


Mereka yang Alih Profesi: Dari Penerbang Jadi F&B 1

Industri penerbangan di seluruh dunia sedang terkena pukulan berat. Gara-gara pandemi entah berapa tenaga kerja di industri ini telah di-PHK. Garuda Indonesia saja sudah mem-PHK lebih dari 700 karyawannya. Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association atau INACA Bayu Sutanto menyebut bahwa industri ini baru akan pulih di 2024, karena pandemi telah mengubah tren mobilisasi manusia.

Tulisan ini ingin memberikan semangat pada seluruh profesi penerbang yang sedang dirumahkan atau bahkan kehilangan pekerjaan: Anda tidak sendirian. Pantang Menyerah, terbangkan imajinasi dan energimu menuju hidup yang baru seperti teman-teman kita dari seluruh dunia ini.

 

Dari MAS jadi SMASHED

Smashed Burgers
Smashed Burgers

Muhammad Naeem Md Nassir sempat menerbangkan pesawat Malaysian Airlines (MAS) dan Oman Air. Setelah tidak bisa ke Oman lagi karena dirumahkan sejak pandemi, pilot ganteng ini ternyata kangen dengan burger yang dia rasakan di Oman. Gara-gara itu, ia dan istrinya bereksperimen untuk mencari resep yang rasanya mirip dengan burger di Oman. Dan jadilah Smashed Burger, yang dibuat dari 100% daging sapi Australia dan dijual dengan harga terjangkau.

Ia mengaku bahwa perubahannya sungguh drastis dari dahulu makanan diantarkan kepadanya di dalam kokpit, menjadi pengantar makanan kepada para konsumen setianya. Tapi ia bersyukur kedai yang berlokasi di dalam restoran Nasi Kandar Zubair Bistro, Jelutong, Shah Alam itu jarang sepi.

 

Kokpit Kini Jadi Korner

Mereka yang Alih Profesi: Dari Penerbang Jadi F&B 3
kapten corner

Kokpit adalah tempat kapten bercokol di pesawat. Tapi bagaimana kalau sekarang Kaptennya pindah ke Kapten Corner? Yang dihadapinya bukanlah tombol dan monitor canggih melainkan mee curry hun sup, laksa utara dan rujak buah. Ya, itulah Azrin Mohammad Zawawi, seorang pilot Malindo Air yang terkena PHK setelah 20 tahun terbang.

Uniknya adalah sang Kapten tetap menggunakan seragam pilotnya ketika berjualan. Dengan celemek merah untuk mencegah seragamnya jadi kotor, ia memulai hari dengan meja kecil di Boom Town, Subang, Malaysia.

 

Pancake Ala 2 Pilot

Steven Goh (42), seorang kapten pilot dan Ken Chew (46) yang merupakan pilot perwira senior yang biasa menerbangkan pesawat Juneyao Air, China dengan rute Jepang dan Thailand. Sejak awal 2020 mereka diberhentikan. Ketika makan bersama, ide cemerlang muncul setelah melihat Granny’s Pancake yang dimiliki Billy Ng selalu laris diserbu pembeli. Maka dengan program pemerintah untuk membantu UMKM, maka mereka pun magang dari Billy Ng.

Mereka berharap untuk memiliki lebih dari satu kios serta untuk bisa menerbangkan pesawat kembali apabila pandemi sudah berlalu nanti.

 

Dulu Penguasa Udara, Kini Penguasa Jalanan

Dua pilot di dua negara yang berbeda ini alih profesi jadi pengantar makanan. Dengan cepat mereka me-‘nerbang’-kan makanan yang dipercayakan kepada mereka ke tangan pembeli. Inilah Khairul Anwar Ajid, Malaysia dan Nakarin Inta, Thailand. Para pilot ini menggunakan keterampilan mereka untuk menyusuri jalan-jalan di kota, menghalau tantangan, demi mengantar kehidupan bagi pembeli dan bagi keluarganya sendiri.  Kini lebih dari 200 pilot di Thailand kini beralih profesi menjadi penguasa jalanan.

Khairul menggunakan proses SOP (Standard Operating Procedure) yang sudah tertanam dalam dirinya, untuk mencari pekerjaan baru. Ia mencari pekerjaan yang memberikan fleksibilitas dan uang cepat. Maka ia memilih jadi pengantar makanan demi alasan yang lebih besar daripada dirinya sendiri: Keluarganya.

Tak hanya di Asia. Pilot British Airways, Peter Login, memiliki pengalaman serupa. Sebelumnya ia masih mengemudikan Boeing 747s. Kini ia menjadi sopir pengiriman supermarket di Inggris, Tesco, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya karena gajinya dipangkas 50%.

 

Dulu Dilayani, Kini Keliling Melayani

Inilah kehidupan Megah Putra Perkasa sekarang. Sejak dirumahkan, Megah mencoba berjualan baju secara online tapi belum dapat mencukupi kehidupannya. Ia melihat status temannya sesama pilot menjual ikan laut keliling menggunakan boks. Akhirnya dia mencoba berjualan mie ayam. Untungnya ia bertemu dengan pemilik foodcourt Majelis di Ruko Granada Square BSD yang menawarkan buka lapak.

Lain lagi dengan Denny Jigiblaom yang terkena PHK oleh Trigana Air Service. Ia memutuskan untuk berjualan kopi keliling di alun-alun kota Wamena dengan mengendarai mobil Landcruiser antik miliknya. Kopinya diberi merek Tyom dan memiliki sejumlah varian rasa khas Pegunungan Tengah Papua.

 

Melayani Konsumen Memang Sudah Biasa, Tapi….

Beda.. itulah curcol Martha Putri dalam medsosnya. Ia sebelumnya ada pramugrari. Memang belum lama ia jadi pramugari sebelum diberhentikan karena pandemi. Namun pengalamannya yang belum lama tidak membuat dia berkurang syoknya dan gagal move on untuk waktu yang cukup lama.

Pramugari Jual Sate
Pramugari Jual Sate

Untung temannya mengajak membuka bisnis tahu crispy. Ajakan ini mengingatkannya akan pengalamannya berjualan sate taichan sebelum ia jadi pramugari. Kini keduanya ia kembangkan, walau cita-citanya tetap: “Kalaupun buka (pendaftaran jadi pramugari) aku mau coba daftar lagi, kalaupun aku keterima aku akan jalanin pramugari lagi.”

Teman seprofesinya yang berbeda belahan dunia, Sara Haider, kini beralih profesi jadi penata barang di supermarket. Sebelumya ia adalah pramugari Virgin Atlantic ke AS, Karibia, Timur Jauh atau Afrika Selatan. Kenapa ia memilih profesi ini? Karena ia mengaku sangat menyukai berhubungan dengan orang-orang secara aktif, sehingga peran ini cocok untuknya.

 

Bukan Cuma Pilot & Pramugari, Maskapai Pun Kini Dagang Makanan…

Thai Airways Patong Go
Thai Airways Patong Go

 

Ya betul. Thai Airways sejak tidak beroperasi lagi kini menjajakan roti goreng Patong Go dengan merek Thai Catering. Yang spesial dari makanan khas Thailand ini adalah sausnya yang terbuat dari ubi ungu dan puding telur.

Kini sudah ada 7 gerai cabang Thai Catering ini. Jangan heran kalau lewat dekat gerainya saat sarapan, akan ada sebarisan orang menunggu dilayani. Soalnya enak dan harganya pun tidak mahal, hanya 50 Baht atau Rp23.500 untuk 3 potong. Hasil penjualan patong-go sudah sekitar 10 juta baht atau Rp4,67 miliar sejak beberapa bulan dijajakan. Padahal sebelumnya maskapai ini telah mengajukan pailit dengan total utang 332,2 miliar Baht.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Rowena Suryobroto

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments