Mereka yang sering dilupakan


Mereka yang sering dilupakan 1

Bandung selepas waktu siang, matahari menyapa dengan teriknya tepat   di tempat yang terkenal akan surga kecil bagi pemburu buku, Namanya  Palasari tempat dimana banyak buku buku berserakan di pelataran toko toko kecil sepanjang jalan  yang kebanyakan mereka menjual barang serupa berupa buku yang mana cetakannya selalu tidak resmi alias bajakan dengan harga lebih murah dibanding aslinya dan itulah justru yang menjadi daya tarik tempat ini sebagai  alternatif yang di cari pemburu buku kere tetapi ingin memenuhi hasrat sastranya seperti saya dan kebanyakan orang;

Hari itu saya menyesuluri Lorong toko di Palasari, mencari emas diantara tumpukan yang menjulang dengan tubuh kurus dibalut jaket denim belel dan sepatu kets lusuh mengiringi edaran pandangan bola mata mencari karya sastra yang mungkin bisa saya miliki

Panas matahari tetap membakar kota bandung, jalanan Nampak terlihat sangat berdebu saat ini, meski waktu sudah menunjukan pukul 14:30 dan saya masih belum menemukan karya sastra yang bisa menggugah hasrat kali ini

“Bagaimana ? Dapat buku yang kamu cari ?” sapa pria tua sang pemilik salah satu toko yang saya kunjungi yang biasa disebut koko ini

Koko merupakan pria perawakan tionghoa yang kurus, berambut putih dengan kulitnya berwarna putih pucat, dia membuka toko buku yang sekaligus rumahnya ini terbilang sudah lama, ia memulai usahanya sekitar 40 tahun yang lalu dan sampai sekarang tokonya tetap bertahan melawan jaman terus menjajakan buku bagi mereka yang mencarinya. Koko seakan memisahkan diri dari dunia disekitarnya dia lebih mencintai cara lama yang ia rintis berpuluh puluh tahun yang lalu, dan ia tetap menggunakan itu untuk melawan perkembangan jaman Meskipun tokonya selalu sepi dan terlihat kosong

“kayaknya belum pak, semua buku disini sepertinya belum ada yang menarik untuk saya baca ”  menjawab pertanyaan koko dengan tetap mengedarkan pandangan ke rak buku

“ah kamu ini, coba kamu tengok buku buku di ujung sana …” koko  menunjuk ke sudut ruangan dimana ada kardus yang berisi tumpukan buku berdebu

“buku buku itu baru datang kemarin, belum sempat dipajang dan barangkali kamu tertarik membeli dan membaca salah satu dari buku buku tersebut “ ujar koko melanjutkan

Saya bergegas menuju kardus yang ditunjuk oleh koko, dan memang buku tersebut masih berbalut plastik hitam dan nampak baru meski tahun terbitnya jelas bukan tahun saat ini

Tanganku mengangkat satu persatu buku, ada berbagai macam buku di kardus tersebut mulai dari buku buku konspirasi alam , cerita cerita misteri dan yang paling menarik perhatianku adalah beberapa buku novel yang salah satunya  berjudul Of Mice and Man karya Jhon Steinbeck

Buku yang kusebut terakhir memiliki kandungan histori bagiku tapi sejujurnya bukan cerita atau alurnya yang menjadi catatan saya tertarik terhadap buku ini  tetapi hanya karena ingatan fotografis didalam otak yang berhasil menampilkan visualisasi buku tersebut seolah menampilkan guratan bayangan sosok wanita yang saat ini memang sedang dirindukan yang pernah memiliki buku yang serupa

Iya ironi memang jika dengan melihat buku yang pernah dipegang oleh sang wanita saja ,  saraf saraf otak langsung memberikan tampilan kenangan akan masa indah bersama wanita  bahkan sepilas aromanya saja sudah membuat saya ingin memutar waktu

Ingatan itu nampak jelas bagaimana buku itu dipeluk  oleh sosok tersebut sosok yang menampilkan seseorang wanita yang memiliki wajah manis dengan geligi rapi yang tersirat di belakang senyumnya dan entah bagaimana ketika buku ini ku pandang, sosok wanita tersebut selalu muncul sebagai delusi yang sangat nyata

Menikmati delusi wanita tersebut, membuat waktu  seakan  berhenti sejenak menerbangkan khayalan menuju kenanganan Bersama sang pujaan tetapi hal itu tak bertahan lama karena suara koko menggagalkan misi penerbangan khayalan dan kembali mendaratkan nya ke toko yang berdebu, lenyap bersama juntaian sarang laba-laba di sudut  sudut ruangan .

“sedang apa kamu ….?? Jangan kau pandangi terus sampulnya… kau harus baca apa yang terkandung didalamnya … baru kau akan tau buku itu bisa membawamu ke dunia yang baru ….” Koko berceloteh keras kepada saya

“pak … buku ini bisa saya beli ….??” Ujarku mengangkat buku novel tersebut

“tentu saja bisa …. Bawa kemari biar kuhitung harganya” ujar koko singkat

Akhirnya saya tuntaskan urusan mahar buku ini dengan koko sang pemilik toko , tapi yang mengejutkan koko bertanya dan seolah ingin berbincang 

“ anak muda, kenapa kamu masih senang membaca ?” tanya datar sang pria setengah abad lebih tersebut

“saya membaca hanya untuk mengisi waktu pak “ jawabku singkat

“ah……waktu , sesuatu yang bisa menggantikanmu dan mengambil segala eksistensimu” ujar koko

“ toko ini dahulu penuh dengan orang orang sepertimu….. mereka sibuk mencari ilmu , mencari ketenangan , atau sekedar iseng mencari teman untuk waktu luang mereka … dahulu buku bisa memberikan beragam hal tersebut” koko bercerita

“dan waktu dahulu juga, saya amat Bahagia melihat banyak orang orang sibuk dengan buku buku ini, tapi lama kelamaan ….” Koko berhenti sejenak dan menghembuskan nafas Panjang

“lama kelamaan dunia dan waktu semakin maju, dan tak pernah terasa tugas saya untuk memberikan apa yang dahulu bisa saya berikan melalui buku buku ini pun perlahan di tinggalkan “ koko terlihat bersedih, matanya kosong melihat kedepan

“perlahan … buku buku ini ditinggalkan… mereka mendapatkan apa yang mereka cari dengan mudah bisa mereka dapat tanpa harus melalui buku buku ini …”

“anak muda, semenjak masuk nya internet ke dunia ini, orang orang berubah menjadi sangat lucu … dulu mereka amat membenci para penyembah berhala, akhirnya malah menjadi penyembah berhala baru. Segala sesuatu yang mereka minta semua ilmu ada di internet dan saya sepertinya terbuang karena itu …. Sekarang saya hanya sisa sisa yang menunggu waktu untuk hilang …” sambung koko dengan tatapan nanarnya

“dan itu yang membuat bapak sedih ?” tanysaya

“Tugas saya hanya memberikan ilmu melalui buku – buku yang saya  jual, jika mereka mengambilnya lewat internet tanpa buku buku yang saya jajakan, lalu saya makan apa nanti nya ….  apa iya saya makan kertas buku … dan apa orang orang diluar saya memperhatikan saya disini …..”  ucap koko agak sedikit emosi

“saya menjual buku – buku ini sejak dulu anak muda …. Bukan hanya tentang menjual tetapi buku buku ini menjadi tulang penghidupan saya saat ini …. Saya pun tidak mengerti apa yang seharusnya saya lakukan …. Sayapun tidak tahu apakah saya harus menghentikan apa yang saya lakukan puluhan tahun yang lalu … saya tidak tahu lagi jika nanti saya tersisihkan oleh waktu” ujar koko yang tak terasa meneteskan air mata

“oke, saya mengerti …. Maafkan saya pak, tapi ….  ehm menurut saya sepertinya internet itu sih gak salah juga, bukannya internet diciptakan hanya untuk kendaraan yang memudahkan penggunannya , dan seharusnya bapak tidak perlu khawatir … orang orang tak akan melupakan buku sebagai pedoman mereka dan saya yakin bapak tak akan ditinggalkan” saya  menanggapi obrolan koko dan mencoba menenangkannya

“saya tak pernah mengerti caranya menggunakan internet….” Ujar koko

“ yang saya tahu internet itu membuat semua orang menjadi gila, kamu tahu orang yang saling menggunjingkan lewat internet ? , atau kamu tahu orang orang yang banyak mempertontonkan kegalauannya kepada semua orang di planet ini lewat internet atau yang lebih gilanya lagi ada beberapa orang memamerkan ibadahnya di dunia maya padahal saya yakin itu hanya pencitraan “ koko melanjutkan sambil terkekeh

“internet … membuat kita tidak lagi menjadi manusia ….” Ujar koko setengah berbisik

“ iya sih… saya setuju dengan itu, tapi yang sering pamer amal di internet apa pahalanya di catat ya pak ?” saya iseng bertanya

“ sssstttt……kamu jangan tanya itu , nanti malaikat marah karena hak nya mereka untuk menjawab itu bukan saya …” koko menjawab dengan sedikit tersenyum

Hahahaha …. Semua tertawa

Saya mengambil bungkusan berisi buku yang tadi saya beli

“sudah akan pulang ?” tanya koko

“ iya pak, sepertinya saya masih ada sedikit urusan, sampai ketemu lain waktu pak” jawabku mengakhiri pembicaraan

“terima kasih ya …sudah mau mendengarkan… pria tua ini ” ucap koko sambil tersenyum

“ sama sama pak … senang mendapatkan inspirasi dari obrolan dengan bapak tadi” ujar ku

“lain kali kalau kamu mampir ke toko ini lagi  … dan ingin membeli beberapa buku lagi …. Jangan lupa untuk ajak saya berbincang … saya berjanji akan membawakan secangkir kopi untukmu” koko sedikit bersemangat

Saya hanya tersenyum mendengarnya dan lanjut beranjak melangkah pergi dari toko yang Nampak begitu tua dari kejauhan, dengan penuh sarang laba laba di plang penanda toko yang berdebu dan terdapat banyak  karat pada rolling door sisa – sisa perjuangan toko tersebut melawan waktu.

Toko tersebut berderet dengan puluhan toko yang mungkin nasibnya serupa, berjajar mesra dengan para pedagang asongan yang asik mengisi Teka teki silang di sudut sudut toko

saya sempat berhenti sejenak dan menengok beberapa kumpulan tukang becak yang sedang menatap kosong ke jalan raya , memandangi manusia manusia yang terkadang mempermasalahkan hal  hal yang tidak semestinya dipermasalahkan mungkin mereka juga mempertanyakan nasibnya kepada tuhan … apakah mereka akan tergantikan  

Saya kembali berjalan , berjalan terus Bersama waktu yang terkadang juga jauh dari orang orang yang tak mampu mengikuti waktu , dan waktu akan menjadi batas dari kemampuan orang orang untuk berbagi dan mencari tetapi waktu juga akan menjadi tujuan bagi orang orang yang berlomba mewujudkan impian

Demi senja yang memutar waktu …. Siang ini saya mendapatkan cerita baru yang tak akan berhenti di jejak toko berdebu ditempat ini

Detik jam terus berdetak, berselimut angin yang semakin kencang menyapu jalanan dan dedaunan yang kering karena udara yang enggan bersahabat seolah berhasil memotret suasana pilu orang orang yang terkadang begitu saja terlupakan

Tak lama satu unit angkutan umum berjenis carry 4.0 atau yang lebih dikenal dengan angkot datang menghampiri, mobil itu tampak Lelah di usianya yang diperkirakan telah mencapai 15 tahunan dengan karat dan bolong di hampir seluruh body nya

“ayo kang …  cicaheum … dago … caheum ..” teriak sang supir

Tanpa sedikitpun berpikir saya langsung menaiki angkot tersebut, Angkot yang ditumpangi terasa kosong saat itu. Hanya ada dua orang penumpang yang menduduki mobil tersebut, suasana yang sama hatiku yang juga masih terasa kosong.

Mata saya menatap keluar jendela, pemandangan Bandung yang menyapa hati dan terasa sungguh nggak enak. Angkot berjalan lambat sekali Matahari masih terasa panas, bau knalpot, bau karat besi, bau keringat. Saya memandang satu-satu penumpang di sekitarku.  Bapak tua dengan peci lusuh, dan ibu tua dengan makeup berlebihan yang membawa barang sembako cukup banyak, serta sang supir yang teriak-teriak nggak jelas,

Saya kembali melihat ke luar jendela , Nampak puluhan motor motor pengemudi online menggunakan baju serba hijau dengan sigap menjemput para penumpangnya, disampingnya terlihat kakek tua berbaju lusuh sedang melamun sendu Bersama kuda delmannya meratapi waktu yang seakan tak memihak dengannya .

Saya menatap juga jejeran warung warung kelontongan kecil yang bersandingan dengan  megahnya supermarket dengan kilauan warna, dan saya juga menatap sisa sisa bentuk fisik dari telepon umum yang nampaknya sudah rusak dan tidak digunakan berdempetan dengan halte yang berisi empat orang anak muda yang tersenyum dan tertawa Bersama handphone mereka

Akankah waktu telah menggantikan semuanya , dan akhirnya setiap yang tertinggal oleh sang waktu pun akan hanya menjadi catatan kenangan yang tak akan diketahui keberadaanya di masa depan

Saya masih menatap … dan berpikir …

Angkot yang saya tumpangi akhirnya mendekati tempat tujuan akhir ku , saya bersiap turun dan merogoh kocek di ssaya celana

“kiri …” ucapku pada pak supir

Menuruni angkot dengan mengakhiri segala cerita cerita hari ini yang mungkin akan terlupakan, bahkan jika waktu bertindak tegas bukan tidak mungkin esok atau lusa nanti saya tak akan pernah  melihat toko buku tua itu lagi, beserta angkot dan kakek tua dengan delmannya.

Demi Waktu 
Sesungguhnya manusia itu merugi 

Waktu akan terus bergerak meninggalkan mu

Maka bersandinglah dengan waktu meski itu akan mengubah dirimu

Wahai jiwa – jiwa dengan segala keterbatasannya 

Biarkan waktu yang akan membibingmu , dan jangan pernah sedikitpun dilawan

tanganmu itu rapuh, badanmu juga Lelah, dan pikiranmu masih lemah

teruslah beradaptasi seperti alam yang menyesuaikan ketamakan jagat insani

teruslah beradaptasi seperti matahari yang membakar api demi kehidupan di bumi

dan jangan menyerah karena cerita tentangmu bisa saja menjadi sejarah

untuk mereka yang mungkin kita lupakan


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Muhammad Faiz Sonjaya

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap