Meta, Nata dan Kamera

Meta, Nata dan Kamera 1

Tempat favorit Meta seusai pulang dari kursus piano pada sore hari adalah sebuah taman kecil di perumahannya. Tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang yang menghabiskan waktunya di sana meskipun hanya duduk seperti Meta, eum, tidak – ia sebenarnya menunggu senja.

Meta, Nata dan Kamera 3

Makanya, kamera itu selalu tersampir di lehernya.

Meta, Nata dan Kamera 4

Meta sangat menyukai langit dan memotretnya. Terlebih langit sore. Menurutnya, hidup di kota metropolitan sudah sangat bagus kalau masih bisa melihat pemandangan langit yang keunguan. Ia tidak berharap dapat melihat pemandangan sore sebagus di Eropa.

Di ujung taman, Meta dapat melihat perempuan berambut pirang yang sudah ia lihat selama sebulan ini. Entah siapa ia, Meta harap ia dapat mengetahui namanya; nama perempuan yang sudah sering ia potret diam-diam. Perempuan itu selalu dikuncir tengah, senyumnya  manis dan kalau Meta perhatikan, perempuan itu sering membawa buku sketsa. Meta menilai kalau perempuan itu suka menggambar. Mereka pernah saling melempar pandangan dan mungkin masing-masing dari mereka merasa terlalu canggung untuk menyapa. Oh tidak, Meta yang tidak berani.

Tapi, hari ini berbeda.

“Nata,” tiba-tiba perempuan itu memperkenalkan diri. “Kamu?”

Meta sedikit tersentak, oh namanya Nata. Akhirnya ia tahu nama perempuan itu.  “Meta.”

“Kamu suka memotret?”

“Iya,” Meta tersenyum kemudian matanya melirik buku sketsa yang ada di tangan kanan gadis itu. “Kamu suka gambar ya, pasti?”

Perempuan itu mengangguk seraya tersenyum. Yah, orang-orang pun tahu tanpa diberi tahu kalau gadis itu suka menggambar, buku sketsa itu sudah menjadi jawaban. “Apa yang kamu potret?”

“Langit sore, senja.”

Laki-laki itu menjawab singkat kemudian mengarahkan kameranya ke atas dan menekan tombol shutter. Kemudian ia tersenyum setelah melihat hasil jepretannya itu. Sangat cantik, langit sore selalu menjadi favoritnya.

“Kamu mau ku potret?” tawar Meta kepada Nata. Yah, walaupun sudah sering ia lakukan berkali-kali.

Nata mengangguk. “Oke.”

Meta memotret perempuan itu dengan sangat senang. Akhirnya Meta tidak perlu memotret perempuan itu diam-diam.

“Bagus ya hasil jepretan kamu, Ta,” puji Nata sambil melihat hasil jepretan yang ada di kamera Meta.

Andai, Meta bisa berkata kalau yang membuat jepretan itu bagus adalah dirinya, Nata. Perempuan yang ia kagumi selama sebulan ini. Tapi, yang terucap hanyalah, “Oh, ya? Makasih, Nat.”

Kemudian hening, masing-masing dari mereka terdiam. Meta sibuk dengan pikirannya – pikiran Meta penuh dengan pertanyaan; apakah Nata besok akan kembali ke sini? Apakah ia akan melihat Nata dengan buku sketsa nya lagi?

Entah, Meta seperti ingin memulai langkahnya.

“Eum Ta,” akhirnya perempuan pirang itu kembali bersuara. “Ini sudah sore, aku akan pulang.”

Meta, Nata dan Kamera 5

Bahkan Meta tidak sadar kalau sore akan berganti malam. Ah, apakah langit sore tidak ingin menahannya dahulu? Meta ingin agak lebih lama disini dengan Nata, tentunya.

“Aku senang akhirnya aku tahu namamu,” ucap Nata sambil tersenyum. “itu salah satu hal yang aku inginkan sebelum aku kembali ke Kalimantan.”

Deg.

Meta terdiam, jadi, besok ia tak akan melihat Nata lagi?

“Besok dan hari selanjutnya aku tidak akan duduk di ujung taman itu lagi. Tidak bisa menggambarmu diam-diam atau memperhatikanmu dari jauh.” sambung Nata.

Laki-laki itu tersenyum, ternyata Nata juga memperlakukan dirinya hal yang sama dengan cara yang berbeda. Tapi, kenapa? Semesta memperlakukan mereka berbeda. Mereka tidak diberi kesempatan untuk bisa mengenal masing-masing lebih jauh lagi. Bukan sekedar nama yang mereka inginkan; lebih dari itu.

“Jaga dirimu baik-baik, ya.” ucap Meta sebelum perempuan itu benar-benar pergi. “Semoga kita bisa punya kesempatan untuk bertemu lagi.”

Nata hanya mengangguk, kemudian perempuan itu benar-benar memulai langkahnya untuk meninggalkan Meta yang masih menatapnya di belakang dengan penuh harap agar mereka benar-benar bisa bertemu lagi.

Dan, di sini Meta akhirnya kembali sendiri.

Nata dan langit sore kesukaannya, sudah pergi.

Yah, setidaknya selama satu bulan ini memotret Nata adalah hal yang paling menyenangkan untuk ia lakukan. Walaupun gadis itu mungkin akan benar-benar menghilang dari hidupnya, tapi – isi galeri Meta; tidak akan berubah.

Gadis itu sangat cantik, sama seperti langit sore favoritnya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rahma Yulia