Mimpi di Balik Tikar


Mimpi di Balik Tikar 1

Bintang berkelip indah ditemani bulan yang tersenyum bahagia. Bintang terlihat cerah ditemani bulan di sisinya, begitu juga bulan yang selalu tersenyum melihat kerlipan bintang yang begitu manja. Bintang dan bulan terlihat menertawakan nasib gadis kecil yang sedang memperhatikan mereka.  Gadis kecil itu duduk sendiri dengan di temani kesunyian dan air mata.

Dari kejauhan terlihat seorang gadis kecil yang sedang meratapi nasib malangnya. Ia memperhatikan bintang dan bulan yang terlihat bahagia. Ada rasa sakit saat ia melihat kebahagiaan bintang bulan itu, entah apa yang ia rasakan air matanya mulai menetes di pipinya. “ kenapa aku harus merasakan kecewa, derita, dan tersiksa sementara bulan dan bintang tersenyum bahagia. Kenapa bukan aku yang merasakan kebahagiaan itu? Kenapa aku harus merasakan rasa sakit ini?” bisikan hati kecil seakan menjerit.

Semenjak ayahnya menikah lagi, kehidupannya berubah drastis. Kejadian itu mampu merubah semuanya. Eva yang dulunya adalah seorang siswa yang berprestasi sekarang menjadi siswa yang frustasi dalam menjalani kehidupannya. Tidak ada lagi semangat belajar dalam dirinya, yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya ia membiayai kehidupan mama dan adik-adiknya.

“ Nak, masuklah nak, sudah malam, di luar dingin.” Bujuk mamanya.

“ibu masuklah dulu, nanti juga Eva bakalan masuk kok”

“baiklah nak” kata mamanya sambil mengelus kepala Eva     .

Keesokan harinya, Eva bangun lebih awal dari biasanya. Ia mempersiapkan semua keperluannya untuk jualan nanti.

“Eva, kamu ngapain nak masak sebanyak itu?”

“Eva mau jualan ma”

“tapi hari ini kamu harus sekolah nak”

“tidak ma, Eva gak mau sekolah lagi ma”

“tidak Eva, kamu harus tetap sekolah, harus tetap semangat mengejar impianmu untuk menjadi Dosen”

“Eva tetap mau jualan ma, Eva tidak mau sekolah lagi, ini sudah keputusan Eva.”

“kalau kamu gak sekolah lagi, bagaimana caranya kamu capai impian itu nak?”

“Eva gak peduli ma, Eva gak peduli dengan impian itu. Mimpi itu sudah Eva simpan di balik tikar ma. Sudah ya ma, Eva berangkat dulu, Assalamualaikum” katanya sambil mencium tangan mamanya.

“waalaikumsalam” jawab mama Eva dengan air mata yang menetes di pipinya.

Eva memang memiliki watak yang sangat keras, ia tidak mau mengubah keputusan yang sudah di rancangnya.

Ketika Eva berjualan, tanpa di sengaja ia bertemu dengan bu Laras, beliau adalah gurunya di sekolah.

“Eva, kamu bolos sekolah?”

“tidak bu.”

“kalau kamu gak bolos sekolah, trus ngapain di sini?”

“Eva lagi jualan bu.”

“tapi inikan jam sekolah Eva”

“Eva tidak sekolah lagi bu”

“kenapa Eva, kamu siswa berprestasi, sayang sekali kalau kamu tidak melanjutkan sekolah. Orang tuamu pasti akan kecewa.”

“lebih sayang lagi mama kalau saya melanjutkan sekolah bu, mama pasti kewalahan membiayai kehidupan kami”

“masih banyak cara lain nak, kamu tidak harus berhenti sekolah.”

“ini sudah menjadi keputusan saya bu, maaf saya duluan bu.” Katanya meninggalkan gurunya yang terlihat kebingungan dengan keputusan siswinya tersebut.

Seperti malam-malam sebelumnya, Eva tak pernah jenuh memperhatikan keindahan bulan dan bintang. Ia duduk termenung sambil meratapi nasibnya yang malang.

“nak, boleh mama duduk di sini?” mama Eva mencoba membujuk anaknya.

“boleh ma” jawabnya singkat dengan senyuman tipis di bibirnya.

“Eva, kamu tidak boleh begini terus nak. Kamu harus ingat, kamu adalah panutan buat adik-adikmu. Kalau kamu sudah tidak melanjutkan sekolah lagi, mereka pasti ikut-ikutan tidak sekolah lagi nak.”

“tapi ma, dari mana biaya sekolah Eva nantinya. Belum lagi adik-adik masih kecil, mereka lebih membutuhkan pendidikan yang lebih ma.”

“masih banyak jalan lain yang tidak merugikan siapa pun nak. Kamu pantas untuk sukses, kamu pantas untuk bahagia. Nak, kamu masih ingat impianmu untuk menjadi dosen, kamu harus memperjuangkan mimpimu itu nak.”

“ma, Eva sudah pernah bilang, Eva sudah kubur semua impian itu. Eva sudah menyimpannya di balik tikar.”

“nak, jangan hanya karena satu masalah membuatmu jatuh ke dalam keterpurukan yang sangat jauh. Wajar kalau kamu kecewa, wajar kalau kamu sedih. Tapi kamu tidak boleh begini terus, kamu harus bangkit dari keterpurukan ini. Buktikan kalau kamu pantas untuk bahagia nak.” Mamanya mencoba membujuk Eva.

“tapi Eva tidak bisa ma”

“kamu bukannya tidak bisa nak. Kamu tidak berusaha untuk melupakan masalah itu. Kamu terlalu membencinya. Nak, kalau kamu punya masalah, jangan anggap itu sebagai sebuah penghalang, tapi jadikan itu sebagai penyemangatmu untuk sukses. Buktikan pada semua orang kalau kamu bisa bangkit dari lubang derita itu.”

“ma, bagaimana Eva bisa bersemangat, sementara sebagian hidup kita tidak lagi di sini. Bagaimana Eva bisa melupakan semua masalah itu, sementara Eva selalu melihat ayah bahagia dengan istri mudanya. Eva tidak sanggup ma.”  Katanya dengan sendu dan air mata menetes di pipinya.

“Eva, kamu terlalu membenci keadaan ini nak. Cobalah untuk menerima keadaan ini, cobalah untuk berteman dengan masalah ini.” kata mama Eva sambil berlalu meninggalkan anaknya yang sedang meratapi nasibnya.

Eva setiap hari berjualan seperti biasanya, ia bahkan berjualan sampai sore. hari ini ia kembali melihat sosok yang membuat hidupnya berantakan itu. Ya, Eva melihat ayahnya yang sedang menjemput istri mudanya di kantor. Hatinya terasa sesak, ia tidak sanggup melihatnya. Terlintas wajah mamanya saat itu, terlintas keiginannya untuk membahagiakan mamanya. Ia berjanji pada dirinya akan membahagiakan mamanya, dan menciptakan kebahagiaan dalam hidupnya. Cahaya langit yang kekuningan menandakan malam hampir tiba, Eva bergegas pulang ke rumahnya. Waktu sudah malam ketika Eva sampai ke rumah.

~~~

 “Eva, kamu lihat bintang dan bulan itu? Mereka tetap bersinar walau dalam kegelapan.  Harusnya Eva bisa seperti bulan dan bintang, mereka tetap bersinar walau dalam kegelapan malam. Begitu juga Eva harus bangkit dari lumpur keterpurukan. Eva harus tetap berprestasi walau berbagai rintangan menghampiri.”

“ma, maafkan Eva ma, Eva sudah banyak salah sama mama. Eva janji Eva akan membahagiakan mama. Eva akan membuktikan pada semua orang bahwa mimpi Eva tidak hanya berada di balik tikar.” Kata Eva sambil memeluk mamanya.

“teruslah semangat nak, yakinlah kamu pasti bisa. Buktikan bahwa kamu pantas sukses, kamu pantas bahagia nak.”

Eva sudah kembali lagi ke bangku sekolahnya. Kali ini, dia menekuni dua pekerjaan sekaligus, yaitu belajar dan berjualan. Meskipun waktu belajarnya sudah tersisih dengan waktu berjualan, tapi hal itu  tidak  menyurutkan prestasinya. Seperti biasanya ia tetap menjadi juara kelas dan mampu meraih juara umum.

Setelah lulus SMA, Eva mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di PTN. Beberapa tahun  kemudian, impiannya bukan lagi di balik tikar, ia lulus dengan lulusan coumloud dan ia berhasil menjadi dosen di salah satu universitas di daerahnya.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nurmaya Sari

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap