Misteri Tahun Kembar: dari Mahapralaya hingga Covid-19

Misteri Tahun Kembar: dari Mahapralaya hingga Covid-19 1

Secara harfiah, Satria Piningit memiliki makna ksatria yang dipingit. Bila dimaknai secara substansial, Satria Piningit merupakan seorang pimpinan negara yang masih dirahasikan oleh zaman, sehingga tidak seorang pun mengetahui tempat keberadaanya serta kapan kemunculannya.

Banyak orang sering mengidentikkan Satria Piningit dengan Ratu Adil. Tetapi pengidentikan tersebut tidak sepenuhnya benar, mengingat seorang Satria Pingingit tidak selalu menjadi seorang Ratu Adil. Seorang pimpinan negera yang menegakkan keadilan sebagaimana Ratu Jay Shima, raja wanita Kalingga yang memerintah pada 674-703.

Di lingkup masyarakat Jawa, kemunculan Satria Piningit selalu dikaitkan dengan tahun sakral, semisal tahun dengan jumlah angka tertentu atau tahun kembar.  Disebut tahun kembar karena angka ribuan dan ratusan sama dengan angka puluhan dan satuan. Bisa juga diaktakan tahun kembar karena angka ribuan, ratusan, puluhan, dan satuan adalah sama.

Ketika berbicara tentang tahun kembar mengingatkan Jangka Jayabaya. Karena secara tersurat, Jangka Jayabaya menyinggung tahun kembar yang diramalkan sebagai masa datangnya jaman pageblug, jaman pakewuh, atau jaman kasusahan. Jangka Jayabaya yang menjelaskan masalah tersebut tertulis, sebagai berikut: “Sesuk yen wis ketemu taun sing kembar bakal ketemu jamane langgar bubar, mesjid korat-karit, Kabah ora kaambah, begajul padha ucul, manungsa seda tanpa diupakara, kawula cilik padha keluwen, para punggawa negara makarya nganti lali kaluwarga….”

Bila di-Indonesia-kan, Jangka Jayabaya yang disebutkan di muka, sebagai berikut: “Bila kelak ditemukan tahun kembar, itulah zaman di mana langgar tak digunakan untuk sembahyang, masjid tidak terurus, Kabah tidak dikunjungi, para penjahat dibebaskan, manusia yang meninggal tidak dikuburkan dengan layak, rakyat kecil akan kelaparan, para pejabat negara bekerja sampai lupa keluarganya.”

Kiranya Jangka Jayabaya kembali menjadi kenyataan pada 2020. Asumsi ini ditunjukkan dengan dampak Covid-19 yang telah melanda dunia telah menyebabkan tempat-tempat ibadah sepi, ibadah umroh ke Makkah ditunda, para napi dibebaskan dari penjara, banyak orang meninggal dunia yang tidak dikuburkan dengan layak, banyak rakyat kecil kelaparan karena tidak ada penghasilan, serta pejabat negara bekerja siang-malam hingga melupakan keluargaanya.

Jaman pageblug 2020 sering dikaitkan dengan wacana Satria Pingingit Sang Ratu Adil. Sebagian masyarakat Jawa menyebutkan bahwa timbulnya pageblug sebagai pintu yang terbuka bagi kehadiran Satria Piningit Sang Ratu Adil. Pendapat mereka berdasarkan suatu pemahaman bahwa kegelapan merupakan ambang datangnya sinar terang, keremangan senja merupakan ambang kecerahan fajar, pageblug ambang kemakmuran. Suatu kemajuan ekonomi yang didambakan para kawula terwujud sesudah negara di bawah kepemimpinannya.

Diketahui sebelum 2020, telah timbul lima tahun kembar sebelumnya yang ditandai dengan suatu peristiwa penting. Karenanya dalam bahasan kali ini, kami akan melakukan retrospeksi terhadap lima tahun kembar beserta peristiwa yang ditimbulkannya. Kelima tahun kembar yang akan kami tinjau tersebut adalah tahun 1010, 1111, 1717, 1818, dan 1919.

Tahun 1010

Airlangga merupakan putra Udayana dan Mahendradata yang lahir pada 990. Dengan demikian, Airlangga adalah cucu dari Sri Makutawangsawardhana dan keponakan atau menantu dari Dharmawangsa Teguh. Sesudah menikah dengan Dewi Laksmi, putri Dharmawangsa Teguh, Airlangga memiliki tiga orang putra, yakni: Sanggramawijaya Tunggadewi atau Dewi Kilisuci. Sementara dari selir, Airlangga dikaruniai dua orang putra bernama Mapanji Garaskan dan Sri Samarawijaya.

Sewaktu pesta pernikahan Airlangga dengan Dewi Laksmi, Medang mendapat serangan mendadak dari Haji Wurawari yang didukung oleh pasukan Sriwijaya. Berdasarkan Prasasti Pucangan yang berangka tahun 963 Saka atau 1042 Masehi, serangan Wurawari yang mengakibatkan kematian Dharmawangsa Teguh dan ribuan tamu undangan tersebut dikenal Mahapralaya. Perihal candrasengkala “locane agni vadane” terjadinya Mahapralaya, terdapat dua versi penafsiran di kalangan para sejarawan. Versi pertama menyebutkan bahwa terjadinya Mahapralaya pada 1007. Sementara, versi kedua menyatakan bahwa terjadinya Mahapralaya pada 1106.

Beserta Narotama, Arilangda dapat selamat dari serangan Haji Wurawari sesudah berhasil melarikan diri

ke gunung Penanggungan. Pada tahun ketiga semasa menjadi pelarian, Airlangga ditemui oleh utusan rakyat Medang. Utusan tersebut meminta Airlangga untuk membangun Medang kembali yang hancur. Airlangga menyanggupi permintaan utusan itu. Karenanya dengan dukungan Mpu Narotama dan seluruh rakyat, Airlangga mendirikan kerajaan di dekat gunung Pananggungan dengan pusat pemerintahan di Wwatan Mas.

Bila berpatokan pada panafsiran tahun terjadinya Mahapralaya versi pertama hingga tiga tahun Airlangga menjadi pelarian, maka berdirinya kerajaan Wwatan Mas yang kelak dikenal Kahuripan pada tahun 1010. Semasa menjadi raja, Airlangga menyematkan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa. 

Tahun 1111

Dari Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di Desa Linggamulya, Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat disebutkan tentang Kabataraan atau Kerajaan Galunggung. Kabataraan atau kerajaan yang berlangsung dari abad ke-7 sampai ke-12 membawahi 12 kerajaan kecil, di antaranya: Kerajaan Kuningan, Kerajaan Kajaron, dan Kerajaan Kalanggara.

Awal mula, Kabataraan Galunggung dikuasai oleh Danghyang Guru Sempakwaja. Dari Sempakwaja, kekuasaan Galunggung beserta kerajaan-kerajaan bawahannya diserahkan kepada Demunawan di Kuningan. Tujuan penyerahan kekuasaan Galunggung kepada putranya itu, agar Kuningan dapat bersaing dengan Kerajaan Sunda-Galuh.

Menurut beberapa sejarawan bahwa selepas kemangkatan Danghyang Guru Sempakwaja, Galunggung dikuasai oleh tiga raja, yakni: Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, dan Batara Wastuhayu. Akan tetapi, pemerintahan dari ketiga raja Galunggung tersebut tidak dapat dijelaskan panjang lebar karena minimnya data sejarah bari berupa prasasti maupun lontar.

Sejarah Kabataraan atau Kerajaan Galunggung kembali terang benderang semasa pemerintahan Dewi Citrawati atau Batari Hyang Janapati sejak tahun 1111 hingga 1152. Citrawati yang mengubah status Kabataraan menjadi Kerajaan Galunggung tersebut naik tahta dengan menggantikan Resi Guru Sudakarmawisesa.  Dengan demikian tahun 1111 mencatat dua peristiwa penting, yakni: pertama, pewarisan tahta Galunggung dari Sudakarmawisesa pada Citrawati. Kedua, pergantian status Galunggung dari Kabataraan menjadi Kerajaan.   

Semasa pemerintahannya, Dewi Citrawati yang membangun ibukota baru pada 21 Agustus 1111 tersebut menyatukan Galunggung dengan Galuh. Tujuan penyatuan dua wilayah tersebut untuk menandingi kekuatan Sunda yang berada di bawah pemerintahan Prabu Langlang Bumi. Seorang raja menolak cintanya sesudah lebih memilih menikahi kakak perempuannya. Inilah penyebab permusuhan antara Galunggung versus Sunda.  

Tahun 1717

Sri Sultan Hamengkubuwana I, Putra pasangan Sunan Amangkurat IV dan Mas Ayu Tejawati yang memiliki nama lain yakni Raden Mas Sujana, Pangeran Mangkubumi, atau Sunan Kabanaran tersebut lahir pada 6 Agustus 1717. Mendapatkan gelar sultan, sesudah beliau menjabat sebagai raja pertama di Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755-1792.

Sri Sultan Hamengkubuwana I yang waktu itu dikenal dengan Pangeran Mangkubumi meninggalkan Surakarta sesudah Sunan Pakubuwana II mengingkari perjanjiannya untuk menghadiahkan tanah 3.000 cacah atas keberhasilannya dalam merebut Sukawati dari cengkeraman Raden Mas Said. Berkat kekecewaannya itu, Mangkubumi bergabung dengan Said untuk melawan Pakubuwana II yang didukung VOC. Sesudah bergabung dengan Said, Mangkubumi menikahkannya dengan Rara Inten.

Perang Suksesi III antara pasukan gabungan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said versus pasukan gabungan Sunan Pakubuwana II dan VOC pun meletus. Karena prajurit Mangkubumi mencapai jumlah 13.000 orang, pasukan Pakubuwana II selalu menderita kekalahan di setiap pertempuran.

Pada akhir 1749, Pangeran Mangkubumi menobatkan diri sebagai raja pada 12 Desember 1749. Mengingat VOC pula mengangkat Raden Mas Suryadi sebagai Sunan Pakubuwana III karena Pakubuwana II sedang sakit keras. Dengan demikian, terdapat dua matahari kembar di Kasunanan Surakarta, yakni: Mangkubumi yang dikenal dengan Susuhunan Kabanaran dan Suryadi yang dikenal dengan Susuhunan Surakarta.

Pada 1752, terjadi perselisihan antara Pangeran Mangkubumi versus Raden Mas Said. Perselisihan itu berpusat pada keunggulan supremasi tunggal atas Mataram yang tidak terbagi. Melalui jajak pendapat, dukungan pada Said yang datang dari kaum elite Jawa dan tokoh-tokoh Mataram lebih tinggi dari dukungan yang diberikan pada Mangkubumi. Melihat kenyataan itu, Mangkubumi menggunakan kekuatan bersenjata untuk mengalahkan Said. Karena cara itu menemui kegagalan, Mangkubumi menyetujui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Melalui perjanjian tersebut, Mangkubumi dinobatkan sebagai raja di Kesultanan Yogyakarta bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana I yang menguasai separuh kekuasaan wilayah Surakarta.

Tahun 1818

Tahun 1818 mencatat dua peristiwa dari wilayah yang berbeda yakni Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pada tahun yang sama, Pulau Jawa atau tepatnya di Cirebon terjadi peristiwa pemberontakan kaum pribumi kepada colonial Belanda. Sementara, Pulau Sumatera atau tepatnya di Minangkabau terjadi wabah Corona yang merupakan buntuk dari penaklukan Kaum Padri Minangkabau.

Pada tahun kembar yang terjadi pada abad ke-19 itu, kaum Padri di bawah komando Tuanku Lelo menyerang Tapanuli. Dalam setiap pertempuran, pasukan berkuda Padri yang dapat bergerak cerpat tersebut lebih unggul ketimbang pasukan Tapanuli. Akibat dari perang tersebut, duaratus ribu orang Batak gugur di medan laga. Banyaknya mayat manusia yang dibuang ke Sungai Batangtoru inilah penyebab wabah Corona yang bisa menyebabkan kematian.

Lain Minangkabau lain Cirebon. Rakyat Cirebon tidak menyepakati kebijakan pemeritah Hindia Belanda atas kebijakannya mengangkat putra selir Sultan Anom IV yakni Pangeran Surantaka sebagai raja. Sebaliknya rakyat menghendaki agar Pangeran Surianegara yang merupakan putra mahkota Sultan Anom tersebut sebagai raja Cirebon. Karena harapan rakyat tidak dipenuhi oleh pemerintah Hindia Belanda, maka timbul pemberontakan pada tahu 1818. Secara garis besar, pemberontakan rakyat Cirebon terbagi atas dua tahap yakni tahap pertama terjadi pada Januari dan Februari dan tahap kedua terjadi pada Juli dan Agustus.

Pemberontakan rakyat Cirebon bukan hanya dipicu oleh pengangkatan Pangeran Surantaka sebagai raja, melainkan pula disebabkan dengan pemungutan pajak tanah, pajak padi, dan pajak-pajak lainnya yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Diturunkannya kedudukan bupati dan sultan, serta system tanam paksa merupakan faktor lain yang menyebabkan timbulnya pemberontakan rakyat tersebut.

Tahun 1919

Setahun sesudah Perang Dunia I atau tepatnya pada tahun 1919, dunia digoncangkan kembali dengan wabah Flu Spanyol yang telah menelan 2% jiwa penduduk dunia. Sunggupun termasyur dengan nama Flu Spanyol, namun virus yang telah merenggut nyawa Raja Spanyol tersebut tidak datang dari negeri tersebut. Menurut Frank Macfarlane Burnet, wabah tersebut berasal dari Camp Funston dan Haskell Country, Kansas, Amerika Serikat. Sementaram menurut North China Daily News yang dikutip oleh Pewarta Soerabaja, wabah tersebut muncul pertama kali di Swedia dan Rusia yang kemudian menyebar ke Tiongkok, Korea, Jepang, dan Asia Tenggara.

Sebagai salah satu negara di Asia Tenggara, Indonesia turut terserang oleh wabah yang dibawa oleh para pelayar dari Tiongkok. Merespons terhadap pendemi tersebut menyebar luas di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda menerapkan peraturan karantina yang tercantum di Staatblad van Nederlandsch Indie no. 277 tahun 1911. Aturan tersebut mengatur prosedur karantina kapal dan pelabuhan yang ditujukan untuk menekan persebaran wabah ketika terjadi epidemi.

Pada saat Flu Spanyol melanda Surabaya dan kota-kota besar di Jawa, pemerintah Hindia Belanda dan pendukuk kurang memedulikannya. Akibatnya, wabah  tersebut dapat menyebar dengan leluasa melalui jalan raya dan tempat-tempat keramaian. Inilah petaka yang terjadi di Indonesia pada tahun kembar yang telah merenggut jiwa manusia.

Sebagaimana terserang Covid-19, setiap orang yang terkena Flu Spanyol yang ditularkan lewat udara tersebut mengalami gejala yang sama. Semula penderita hanya merasakan gejala seperti flu biasa. Beberapa hari kemudian, penderita merasa demam disertai sakit kepala dan tulang-tulang sendi, mual, muntah, mimisaan, menggigil, dan herpes. Tahap selanjutnya, virus menyerang paru-paru korban dan menyebkan penumonia. Sekitar 5 persen penderita Flu Spanyol meninggal sesudah mengalami sakit keras selama dua hingga tiga hari. Para dokter menemukan bahwa paru-paru yang terserang Flu Spanol seberat spons penuh air dikarenakan tersumbat lendir dan darah.

Catatan Akhir

Eling lan waspada, demikianlah petuan Raden Ngabehi Ranggawarsita III kepada setiap orang yang tengah menghadapi Jaman Pakewuh. Eling, artinya ingat selalu kepada Tuhan. Waspada terhadap segala bentuk marabahaya, termasuk petaka, yang akan mencelakai diri sendiri. Dengan eling dan waspada, manusia akan selamat dari petaka. Selamat dari petaka Covid-19 yang menyebabkan terpuruknya ekonomi, kelaparan, dan kejahatan; melainkan pula dari laku jahat yang memancing di air keruh atau menggunakan kesempatan dalam kesempitan demi kepentingan pribadi.

Manusia yang tengah dihadapkan dengan Jaman Pakewuh yang disebabkan Covid-19 harus bersikap sabar, tenang hatinya, dan jernih pikirannya. Hanya dengan sabar, tenang, dan berpikiran jernih; manusia tetap memiliki kerperkasaan imun sehingga tidak mudah terjangkit wabah tersebut. Untuk mengatasi wabah tersebut, manusia juga harus menjaga kesehatan dan kebersihan dengan berbagai cara yang dianjurkan para ahli kesehatan.

Satu sikap yang lebih penting di dalam merespons Jaman Pakewuh hendaklah manusia tetap optimis dan tidak mudah putus asa. Optimis bahwa di balik wabah Covid-19 tersirat hikmah bahwa di datangnya musibah merupakan ambang datangnya kemakmuran. Suatu kondisi ekonomi ideal bagi seluruh manusia yang akan direalisasikan oleh Satria Piningit Sang Ratu Adil beserta dua punakawannya yakni Naya Genggong dan Sabdapalon. Dua punakawan yang mencerminkan bahwa Sang Ratu Adil merupakan pimpinan negara yang sabdanya dapat dijadikan panutan dan sanggup memberikan kepuasan bagi seluruh rakyat Indonesia. [ ]

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sri Wintala Achmad