Mungkin Besok Akan Bahagia

Mungkin Besok Akan Bahagia 1

Hari ini adalah hari Sabtu, di mana Ari bekerja seperti biasanya menjual sayuran di pasar. Sebenarnya, Ari di saat ini seharusnya melanjutkan pendidikannya di SMA. Namun, karena keterbatasan biaya membuat dirinya tidak bisa melanjutkannya dan terpaksa bekerja membantu Ayahnya menjual sayuran. Dia adalah anak tunggal. Sedangkan, Ibunya sudah lama meninggal semenjak dia duduk di bangku SD.

Setiap hari pastinya Ari dan Ayah bekerja. Mereka biasanya pukul 04.00 WIB sudah bangun, karena ada saja hal ingin disiapkan. Nantinya mereka akan pergi pukul 05.30 WIB. Walaupun biasanya pasar buka pukul 07.00 WIB. Namun, tentunya ketika di pasar nanti ada saja yang harus dipersiapkan ketika di sana.

Semua yang telah dikerjakan Ari, dijalaninya dengan penuh keikhlasan. Walaupun dia tidak bisa menikmati indahnya masa – masa SMA. Namun, dia yakin suatu saat akan sukses dan impiannya bisa memiliki banyak bisnis. Apalagi melihat Ayahnya sekarang yang sudah sakit – sakitan, membuat dirinya harus memutar otak dengan memikirkan bagaimana dia bisa menghasilkan lebih banyak penghasilan. Sebenarnya, Ari sudah menyuruh Ayahnya untuk istirahat saja di rumah, karena Ayah terus – terusan mengeluh sakit kepala. Namun, Ayah tidak mau. Dia sangat kasihan melihat anaknya sendirian berada di pasar menjual sayuran. Apalagi, Ari juga sangat sering diejek tetangga sebelah rumahnya. Akibat dia tidak bersekolah dan hanya bisa menjual sayuran.

“Eh ada Ari lewat depan rumah. Nak Ari mau ke mana? Jual sayur? Jual sayur terus, sekolahnya kapan? Sayang ya nak Ari, masih kecil udah jualan. Coba deh nak Ari sekali – kali liat tu Facebook, biasanya aja tu lowongan kerja ya… agak keren lah ya pokoknya pekerjaannya daripada jadi tukang sayur gitu. Hmmm hehe.. ya gitu lah nak Ari coba deh cari – cari.” Ujar tetangganya mengejek.

“Saya tidak punya HP bu. Kebutuhan sehari – hari aja kami masih susah. Bagaimana mau punya HP bu? Apalagi nanti bakalan isi paketnya. Mahal itu bu. Lagian jadi tukang sayur kan pekerjaan yang halal bu. Saya juga bantu Ayah saya, kasihan Ayah saya bu.” Ujar Ari.

“Lah kok kamu malah ngomong panjang lebar. Kek semacam curhat sambilan nasehatin saya? Kan saya cuman bilang nak Ari. Kalau kamu gak mau, yaudah jangan ngomong panjang lebar. Jadi sewot saya liat kau lama – lama.” Balas tetangganya marah – marah.

“Hmm baik bu. Maaf ya bu. Terima kasih sarannya bu. Saya pergi dulu ya bu. Assalamualaikum bu.” Balas Ari dengan menyimpan rasa kekecewaan.

“Ya, waalaikumsalam.” Jawab tetangganya sewot.

Begitulah yang dirasakan Ari saat ini. Banyak cobaan yang datang. Apalagi tetangganya tidak mengerti dengan keadaannya saat ini. Membuat dirinya harus banyak bersabar. Dia tidak mau Ayahnya menjadi banyak beban pikiran akibat ulah tetangganya tersebut. Dia hanya bisa berharap semoga dia akan sukses dengan iringan doa dan usaha.

“Semoga cobaan ini segera berakhir dan semoga aku bisa membahagiakan Ayah dengan doa dan usahaku untuk bisa menjadi sukses. Aaamiin.” Ujar Ari penuh harap.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rewina Dianti