Mungkin Memang Kita Tak Pernah Direncanakan Tuhan

Mungkin Memang Kita Tak Pernah Direncanakan Tuhan

Jujur, parasmu yang menarik memang jadi alasanku yang pertama.

Namun seiring berjalannya waktu, mengenali seluk beluk sikap dan kepribadianmu, hingga ke sisi burukmu, semuanya memenangkan hatiku. Di senyummu yang cerah, bahagiaku seolah-olah tumbuh.

Di raut cemberutmu, sabarku belajar dan kian bertambah. Seluruh kekuranganmu, tak pernah sekalipun mengurangi perasaanku, karena bagiku, yang sempurna sungguh tak ada apa-apanya dibanding ia yang jujur, tulus dan apa adanya. Kesederhanaanmu selalu sanggup membuatku merasa cukup. Tawamu tak pernah dibuat-buat, lepas dan bebas. Jadi bagian dari rute hidupmu, adalah jalan yang ingin kutempuh.

Aku dan kamu terlahir sebagai manusia, serupa yang secitra, namun sayang kita berasal dari ‘dunia’ yang tak sama. Untuk jatuh saja buatmu adalah hal yang sulit. Mencintai seseorang saja kamu perlu benar-benar memilih, bukan hanya dengan , juga karena adanya aturan yang bagiku tak masuk akal.

Baca juga  Kunang - kunang untuk Ray

Bukankah , asalnya dari Sang Pencipta? Namun kenapa harus dipisah, hanya karena ‘dunia’ milikmu dan milikku berbeda? Padahal kedua ‘dunia’ kita, hanya dicipta oleh manusia.

Kamu orang yang taat aturan. Dan bagimu, aturan tetaplah aturan. Kebiasaan yang sudah ada sejak lama. Diturunkan dari kedua orang tuamu, yang mencintai dan melindungimu sejak dini. Anak yang baik tak akan durhaKisah kita tak mungkin terjadi. Tetapi sesekali kepalaku berimajinasi, bertanya-tanya, bisakah masing-masing dari kita, sejenak melupakan ego dunia, dan biarkan yang mengambil segala kendalinya?

Baca juga  Cinta Itu Tak harus Memiliki

belajar mengikhlaskan mungkin satu-satunya, bila memang takdirku bukan takdirmu, kisah ini pun nantinya akan jadi pembelajaran masing-masing dari kita. Dan kita saling sepakat, titik tertinggi mencintai, bukan dengan saling memiliki.

Bila nantinya kutemukan tubuhmu di dekap yang lain, dan senyummu begitu cerah, kamu tau, meski di dada terasa sakit, di mataku berlinang air, bahagiamu tetaplah jadi bahagiaku.

ka pada orang tuanya. Toh siapalah aku, hanyalah manusia yang baru saja mengenal adamu. Tetap saja bagiku, segalanya terasa begitu tak adil.

Baca juga  5 Film Romantis Terbaik Sepanjang Masa

kamu seseorang yang tangguh. Meski berkali-kali jatuh, tetap saja berpegang pada prinsipmu yang teguh. Hatimu sekeras karang, sekuat baja. Patahkan sendiri pun tetap kamu jalani. Mengorbankan segala rasa demi tetap setia pada aturan orang tua. “Tak usah kamu peduli tentangku, dan tentang perasaanku. Biarkan saja, selalu punya cara untuk sembuhkan lukanya, apalagi perihal .” Katamu padaku”.

Mungkin Memang Kita Tak Pernah Direncanakan Tuhan

“Ingatlah aku, di dalam dirimu, kelak kita akan berada pada satu atap, dan kamu sebagai tamu, di dalam rumahku, semoga ya”

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ast1996