Naik Vespa Keliling Kota, Sambil Ubah Stigma

Naik Vespa Keliling Kota, Sambil Ubah Stigma

Vespa bukan monopoli suatu kaum. Tua, muda, Pejabat, bahkan sampai anak jalananpun memiliki hak untuk mencinyainya.

Pengendara vespa memiliki jiwa kekerabatan yang tinggi, jiwa yang bebas, dan jiwa yang merdeka.

Di satu sisi mereka memiliki nilai solidaritas yang tinggi, mereka bukan tidak memikirkan masa depan, dan bukan juga kelompok yang tidak berangan-angan, tetapi hanya enggan hidup mereka menjadi beban.

‘Satu Vespa sejuta saudara’. Di benak para pengguna vespa tanah air slogan itu pasti selalu dipegang teguh.

Dari slogan itu muncul berbagai macam ikatan persaudaraan berlandaskan kecintaan terhadap merek scooter tersebut.

Entah sudah berapa banyak populasi pengguna Vespa di tanah air.

Namun sejak kendaraan tersebut pertama kali hadir di Indonesia pada 1960-an, penggunanya terus tumbuh hingga sekarang.

Baca juga  Alasan Pacaran Pakai Motor Lebih Keren ketimbang Pakai Mobil

Salah satunya komunitas Scooterist Hijrah Community Indonesia. Dari sekian banyak komunitas scooter di Indonesia, komunitas ini memiliki cara lain untuk menuangkan kecintaannya mereka terhadap vespa.

Kemunculan komunitas vespa dilatar belakangi oleh kebosanan model era kontemporer yang sekarang didominasi oleh fashion dan style transportasi kelas atas, dan dengan ciri khas komunitas vespa dengan stigma identik dengan musik reggae, baju kusut, penampilan apa adanya, pemandangan yang kerap kita lihat dari anak-anak vespa atau yang lebih akrab dengan sebutan scooterist tersebut.

Pilihan seseorang untuk bergabung dalam suatu komunitas merupakan pilihan hidupnya, begitupula dengan pilihan orang yang ingin merubah hidupnya menjadi lebih positif, baik jasmani maupun rohani.

Komunitas Scooter Hijrah muncul karena adanya rasa kepedulian terhadap teman-teman yang memiliki latar belakang ingin sama-sama belajar tentang agama dan menjadi komunitas yang dapat memberikan contoh baik kepada masyarakat.

Baca juga  Cara Mencegah Karat Pada Kendaraan

Komunitas vespa ini pun ingin menunjukan kepada masyarakat yang memandangnya sebelah mata, yang hanya melihat dari sudut pandang sempit mengenai sisi negatifnya saja seperti mabuk-mabukan, dan berkeliaran tidak jelas dijalanan.

Scooterist Hijrah Club Indonesia atau yang biasa disingkat SHCI lahir di Bandung pada 2017 silam, atas inisiasi para pecinta Vespa yang hendak bersama-sama memperbaiki diri.

SHC Bogor sendiri didirikan di tahun yang sama, juga dengan semangat yang sama. Stigma negatif selalu muncul untuk kalangan pecinta Vespa, di mana masyarakat pada umumnya menganggap mereka sebagai kalangan marginal yang kurang terdidik, terkenal urakan, dan terpinggirkan.

Namun SCHI berbeda, tujuan didirikan komunitas ini adalah untuk mengubah stigma negatif terhadap anak Vespa, juga sebagai wadah untuk bersama-sama saling memperbaiki diri.

Baca juga  Mengapa Kendaraan Menjadi Boros BBM?

“Awalnya SHC dibentuk untuk orang-orang yang ingin berhijrah namun berlandaskan kecintaan terhadap vespa. Karena banyak anak-anak vespa yang ingin memperbaiki diri namun bingung harus kemana, bingung harus ke siapa, stigma negatif selalu muncul.

Kadang sungkan kalau mau langsung belajar ke ulama. Tapi kami juga mau membuktikan kalau anak Vespa gak seburuk yang masyarakat kira, kok.” Ujar Muhammad Yana, Admin SHC Bogor, Minggu (19/9/2021).

Naik Vespa Keliling Kota, Sambil Ubah Stigma

Scooterist Hijrah menimalisir stigma negatif masyarakat tentang mereka dengan mengajak pada komunitas vespa lainnya untuk hijrah, dan masyarakat umumpun bisa belajar agama bersama dengan melakukan pemberdayaan masyarakat, juga melakukan berbagai aktivitas positif.

Mereka rutin mengadakan diskusi bersama, kegiatan sosial seperti bakti sosial, kegiatan keagamaan seperti santunan anak yatim dan mengadakan pengajian rutin satu minggu sekali.

Dengan adanya Scooterist Hijrah ini ingin membuktikan bahwa komunitas vespa bisa seperti masyarakat lain yang dapat memberikan dampak positif terutama dalam hal kebaikan.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ranggaa