Nain dan Negeri Dalam Almari


Nain dan Negeri Dalam Almari 1

Rumput-rumput ilalang saling menari terbuai angin, burung gereja mengepak-kepakkan sayap kecilnya-merentang dan mengatup kemudian hinggap di dahan-dahan basah bekas hujan. Begitu pun langit sore yang keorenan dan siluet hitam dari pohon-pohon buah mangga, atau embun-embun yang berkilauan di antara pucuk-pucuk kerikil tanah bumi Tuhan. Katakanlah, ini sungguh pemberian yang sangat indah.

Sembari mencium udara yang menyejukkan paru-paru, mataku masih senantiasa terpejam. Sedang menikmati segalanya. Lidahku sudah tentu saja kelu, tak ada lagi sajak-sajak, tak ada lagi kata-kata. Dan aku terduduk di sebuah kursi panjang dengan menghadap matahari, menantinya hingga malam nanti.

Pernah suatu kali aku bilang lantang-lantang kepada orang-orang jika aku, Nain, sangat menyukai sore. Aku tidak ingin waktu selain sore, tidak mau pagi, siang, atau pun malam. Seandainya hari cukuplah hanya sore saja. Tapi orang-orang malah mencemooh diriku, mereka bilang jika keinginanku adalah suatu hal yang sangat mustahil. Tidak mungkin.

Tapi aku masih terus bersikukuh jika itu mungkin terjadi. Maka setiap hari aku berkeliling dari desa ke desa, kota ke kota. Aku berjalan dengan berteriak dan berdialog dengan semua penduduk bumi. Jika sore saja dalam satu hari itu pasti terjadi, atau bahkan selamanya. Tapi kebanyakan dari mereka malah menganggapku gila. Ada yang mengatakan jika bumi itu selalu berotasi, maka terjadilah siang dan malam. Dengan begitu hari akan terus berganti. Tapi aku masih saja menyangkalnya, aku percaya jika suatu waktu hari yang aku inginkan pasti terjadi. Mereka hanya tidak percaya saja.

Sampai suatu ketika, kira-kira di ujung bumi entah utara atau selatan. Atau mungkin di negeri yang lain. Dan mataku masih saja terpejam. Aku mendengar suara-suara kecil yang asing dan banyak. Aku tidak tahu apa itu. Yang jelas kian lama kian ramai dan bising. Bahkan bahasanya pun tidak aku mengerti sama sekali. Seolah bukan bahasa manusia. 

Apakah hantu? Batinku dalam hati, ah tidak mungkin. Lantas aku kemudian berdaham. Suara-suara itu pun diam. Aku lalu menyerukan pendapatku jika suatu hari atau bahkan bisa saja hari ini akan sepenuhnya menjadi sore. Matahari yang diam dalam tempatnya yang seolah akan tenggelam menjadi malam, dan awan-awan yang kemerahan, atau langit yang begitu cantik karena pantulan garis-garis emas sang surya, bisa menjadi selamanya. Meskipun sedikit serak, tapi aku terus berkeyakinan kuat dan mereka akan menerima pendapatku.

Tapi tiga detik berlalu, aku masih tak mendengar apapun. Kurasa aku  sedang berada di tempat yang sesak, sempit, dan ada sesuatu yang mengikatku-entah apa. Erat sekali. Dan mataku  masih saja terpejam. Lama-kelamaan udara terasa semakin habi atau oksigen sepertinya memiliki kapasitas yang sangat sedikit di tempat ini. Hingga setelah tenggorokanku terasa tercekik sangat hebat-yang padahal kutahu tidak ada seorang pun yang melakukan itu di leherku,  lalu aku seolah terbangun dari tidur dan dalam kondisi terduduk lagi.

Meskipun mataku masih terpejam, aku mulai mendengar sorak sorai suara seperti menyambutku riang-riang. Lalu aku seolah melihat hari menjadi sore dan lama sekali. Aku bahkan melihat banyak sekali orang-orang kecil bak kurcaci yang melebarkan senyumnya ke arahku dan mereka berkata :

“Ya, ya, ya. Sore, sore, sore”

Aku lantas mengangguk-angguk bersemangat dan ikut tertawa puas. Meskipun terasa ganjil, tapi aku berhasil membuktikan jika satu hari bisa berada di waktu sore yang bahkan abadi sekaligus seperti yang kurasakan saat ini.

****

(Dalam sudut pandang yang lain dari penduduk bumi)

“Apa kau sudah melakukan tugasmu dengan baik?”

“Ya Pak, aku sudah mengurung pemuda buta yang gila itu di sebuah lemari kecil. Kukatakan jika sore itu ada selamanya.  Dan dia pun percaya. Lalu aku juga memasungnya dengan rantai yang kuat dan kokoh.”

“Apa kau sudah mengunci almari itu dengan benar?”

“Iya Pak.”

“Bagus, ini upahmu. Sekarang bumi sudah bersih dari orang-orang yang berisik dan mengganggu ketentraman bersama seperti dia. Ayo pergi, sebelum ada yang tahu.”


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Soreane Sore

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap