Namaku di Diary Biru

Namaku di Diary Biru 1

Seperti biasa aku memang selalu sulit menahan rasa  saat berada di dekatnya. Meski ini sudah tahun yang ketiga  aku bersahabat dengannya namun jantungku masih saja sering berdebar ketika berada di dekatnya. Aneh memang bila seorang pria yang cukup ahli dalam memikat hati wanita hingga diberi label play boy seperti diriku dapat merasakan perasaan aneh seperti itu. Yang jelas ini tak sama dengan apapun yang kurasakan saat mengumbar janji-janji palsu dan saat menyanjung penuh modus kepada wanita lain. Ujung-ujungnya aku akan berhasil memenangi hati mereka oleh karena ketangkasanku dalam berkata-kata dan menuliskan puisi-puisi serta  cerita cinta palsu untuk mereka baca. Pada akhirnya aku akan bosan dengan satu wanita dan tertarik untuk mencoba mengelabui wanita lain.  

Tetapi tidak pada Venisia. Setahuku dia sahabatku yang paling akrab dan yang paling bisa mengerti aku. Ia tak seperti wanita lain yang lebih banyak bercerita tentang diri sendiri. Dia wanita yang akan lebih banyak mendengarkan sambil sesekali menyelipkan sihir dalam setiap kata yang akan ia ucapkan. Dan namanya ada dalam setiap karyaku. Mulai dari cerpen-cerpen pendek yang kutulis di papan mading saat masih berseragam putih abu-abu dulu hingga pada kumpulan-kumpulan cerpen dan novel yang kini  bertakta di etalase toko buku dengan label best seller di setiap sampul buku itu.

Mengenalnya membuat aku tahu. Menulis yang benar adalah mengungkapkan kejujuran. Kejujuran tentang apa yang ada di dalam hati atau kejujuran tentang apa yang ada di dalam kepala. Menulis adalah caraku mencintainya yang tak pernah bisa kumiliki. Menulis adalah caraku meninggalkan jejak agar ketika ia mengingatku kembali  ia bisa medatangiku dengan mengikuti arahan jejak-jejak yang kuciptakan melalui tulisan itu. Yah, menulis bagiku adalah seni mengukir jejak. Orang dapat menilai dan mengenal seseorang dari caranya mengungkapkan perasaan atau pikiran dalam karya-karyanya.  Dan  kini bila membaca sendiri tulisan-tulisanku aku akan menemukan bahwa aku adalah aku yang sekarang telah sukses menggapai mimpi namun gagal mendapatkan cinta. Ah, Andai kedua-keduanya dapat kumiliki pasti semuanya akan lengkap dan aku akan dapat berbangga diri sebagai orang yang paling bahagia di dunia.


“Lalu siapakah Venisia? Mengapa namanya selalu ada di dalam setiap novelmu.” Dalam acara launching novel terbaruku  yang sekian ini sang moderator kembali menanyakan hal yang sama.

Aku masih terdiam. Memikirkan apa yang harus kujawab. Yang jelas bahkan mereka tak akan meengerti apapun tentang  Venisia bila kujelaskan kepada mereka. Tetapi saat aku mengangkat mata dan melihat puluhan bahkan wajah penasaran  ratusan fans yang menghadiri launching ini membuatku tak sampai hati.

 “Maaf. Tentang dia, rumit untuk kujelaskan. Dengarkan saja ceritanya dan kalian akan tahu siapa Venisia sebenarnya. 

Mereka semua langsung terdiam dan kini sepenuhnya menaruh perhatian padaku. Sang moderator telah mengisyaratkan untuk segera memulai cerita. Maka aku pun mulai berkisa.

                “Dia itu….”


Wajahnya tak begitu cantik tetapi menurutku begitu manis. Suaranya tak merdu tetapi menurutku suara itu lembut sebab selalu dapat menimbulkan rasa nyaman di dada. Dan belaian tangan mungilnya adalah senjata paling ampuh saat ia mengelus lembut rambutku. Tangannya seolah langsung dapat mengenggam otakku dan seketika pikiranku dipenuhi dengan potret dirinya. Itulah deskripsi singkat tentang dirinya.

Dia adalah wanita yang meneriakan namaku sembari memberikan semangat saat aku berlari d lapangan. Dia adalah wanita yang memegang bahuku saat aku menundukan kepala sambil membisikan kata ini, “Yang sabar yah. Kamu bisa kok, masih ada kesempatan lain. Kamu kini harus lebih berusaha dan jangan terus menerus mengingat kegagalan itu.” 

 Itu katanya ketika untuk kesekian kalinya karyaku ditolak mentah-mentah oeh penerbit padahal pikirku itu sudah merupakan karya yang luar biasa.

 “Jangan lagi, kau tipu aku Ven. Kau bilang tulisanku bagus sekali tetapi mengapa mereka menolaknya.”

“Kapan aku berbohong padamu Vito? Karyamu memang luar biasa bagus menurutku. Tetapi tak tahulah pemikiran dari pihak penerbit. Andai aku yang menyeleksinya sudah pasti akan kuterima karya itu dan menjabat tanganmu lalu berkata bahwa itulah karya paling luar biasa yang pernah kubaca.”

Kadang aku tersenyum. Berada di dekatnya membuatku lupa akan segalanya. Lupa akan tiap detik yang meluncur begitu cepat hingga tiba-tiba saja tak sadar kalau sudah berjam-jam kami berkisah. Lupa kalau sebenarnya aku masih ada di dunia dan bukan sedang ada di kayangan, nirwana atau tempat-tempat luar biasa lainnya.


Semua yang berada di depan launching itu begitu antusias mendengarkan kisahku tentang Venisia. Saat aku menghentikan sesaat ceritaku tentangnya mereka semua mulai menggerutu. Bahkan salah seorang dari para fansku itu meneriakan, “Lanjutkan kisah tentangnya.”

Aku masih terdiam. Sebab aku tak tahu au bercerita darimana lagi tentang dia. Bukankah bahkan belasan novel pun tak akan habis bila itu mengisahkan tentangnya? Melihat kebingunganku sng moderator langsung saja memotong, “waktu kita terbatas. Jadi ceritakan saja sekarang dia ada di mana?”

“sekarang, dia itu…”


Perasaan cinta dilarang tumbuh di dalam zona persahabatan. Kehilangan pacar itu biasa. Tetapi kehilangan sahabat yang sudah bertahun-tahun bersamaku rasanya tak biasa.

 “Aku mencintaimu, Ven.” Aku ingat itu adalah tanggal 8 februari saat aku mengatakan tiga kalimat yang telah lama kupendam di dalam di dada itu.

Untuk beberapa saat Venisia menatapku dengan tatapan yang jelas menunjukan bahwa ia tak percaya.

“Tak puaskah kau sakiti hati para wanita itu Vito. Kini kau juga mau menyakiti hati sahabatmu sendri?” Itulah kata terkahir darinya. Setelah itu ia pergi. Bukan saja pergi dari tempat itu tetapi pergi dari duniaku. Padahal kami telah berencana untuk berkuliah di Perguruan Tinggi yang sama tetapi karena kejadian itu  ia pun membatalkannya dan melamar ke perguruan tinggi lain yang hingga kini tak juga kuketahui.

Aku baru ingat. “Dia selalu menegurku ketika aku menggoda wanita. Dia selalu menegurku ketika aku mulai mengeluarkan jurus-jurus penklukan hati.” Tetapi yang ini aku memang tak pernah menghiraukannya .

Sayangnya oleh karena hal itu. Ia tak percaya bahwa aku sungguh mencintainya dan tak mungkin memperlakukan dia seperti aku memperlakukan wanita lain.


Kulihat ada di antara fans wanitaku yang menagis saat mendengar ceritaku. Sang moderator pun akhirnya mengkhiri sesi itu. Kini sang moderator melanjutkan ke sesi tanya jawab. Banyak di antara para fansku itu yang mengangkat tangan tanda hendak bertanya. Namun sang moderator hanya bisa memilih tiga orang untuk bertanya.

Baru saja mau masuk ke sesi itu. Seorang petugas mendekatiku dan berbisik, “Ada titipan buat mas, katanya penting.”

Sang petugas langsung memberikanku sebuah diary biru yang tetutup rapi. Kerena penasaran aku lansung saja membuka lembaran diary biru itu. Dan betapa kagetnya aku. Ada namaku di setiap lembar yang ada di dalam diary berukuran tebal itu. Dan huruf itu, aku sangat mengenalnya. Aku tahu betul kalau itu adalah tulisan Venisia, wanita yang namanya ada di semua kisah yang pernah kutulis.

Di lembar terakhir buku itu tertulis.

DARI SEMUA JEJAKMU YANG KUTEMUKAN DALAM TULISANMU AKU PUN YAKIN KAU SUNGGUH MENCINTAIKU. DAN SEPERTI YANG ADA DALAM TULISANKU DI DIARY INI, AKU PUN JUGA MENCINAIMU.

Dia ada di sini. Kini kebahagiaanku lengkap. Aku dapat dengan bangga mengatakan bahwa akulah orang paling bahagia di dunia saat ini.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Claudio