Namanya juga Tragedi, Bagaimana Lagi?

Namanya juga Tragedi, Bagaimana Lagi? 1

Ngeri, ya. Tragedi itu bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan apa saja dampaknya. Waktu terjadi, lokasi, dan ukuran dampaknya pun bukan kuasa kita untuk menentukan. Kita hanya bisa duduk, menatap, dan mencoba menerima apa yang sudah Tuhan tuliskan untuk menjadi takdir kita, menunggu apa takdir berikutnya, sambil mencoba mencari jalan keluar dari setiap masalah. Itu tidak mudah, percaya, deh.

Tragedi bisa terjadi, tapi kadang orang lain pun bukannya mengerti malah berbalik nuntut. Misalnya saja kita sudah janjian sama pacar, lalu ada longsor di jalan dan menyebabkan kita terjebak di jalan karena jalan tertutup tanah yang menggunung. Lalu pacar kita marah, menyalahkan, seolah memang bencana tanah longsor tadi itu salah kita. Entah itu kenapa kita tidak berangkat lebih awal kah, atau kenapa gak ini, gak itu, dan lain sebagainya.

Dasarnya, tragedi kan bukan kuasa kita. Tapi orang tidak mau mengerti, padahal dia tahu persis kalau tragedi ini bukan kuasa kita, bukan juga kuasa dia. Kita bahkan tidak tahu kalau hari ini akan ada tragedi, dan kita juga tidak tahu kalau berikutnya akan ada tragedi lagi atau tidak. Tragis.

Hingga suatu saat kita semua merasa bahwa, orang yang kita harapkan mengerti dengan kondisi yang sedang atau telah kita jalani, justru berbalik menjadi tragedi berikutnya, bahkan lebih mengerikan. Bayangkan, tragedi bukan kuasa kita, tapi kita diminta bertanggung jawab atas dampak yang dia terima–yang mana dia bukan korban langsung dari tragedinya. Lha wong kita aja korban, kok.

Sangat mengerikan, karena kita selalu berharap kalau semua akan berjalan sesuai yang kita harapkan. Kita berharap ada manusia yang lain yang akan datang dan menolong, lalu mengatakan “Ya, tidak masalah. Aku mengerti.” Tapi nyatanya mustahil ada orang seperti ini. Kalaupun ada, mungkin sangat jarang bahkan hampir tidak ada.

Lalu, kita merenung sejenak, dan menyadari banyak hal. Mereka bukanlah orang. Mereka adalah bagian dari tragedi ini. Atau istilahnya, mereka adalah orang yang disiapkan untuk melengkapi tragedi ini. Artinya, kalau kita harus memulihkan diri dari tragedi, kita juga harus memulihkan diri dari ‘orang-orang’ ini. Dengan kata lain, tragedi baru berhasil kita lewati kalau ‘orang-orang’ yang tadi sudah berhasil kita singkirkan.

Kita menyadari bahwa selama ini kita terus terjebak di zona yang tidak menguntungkan kita sama sekali. Kita hanya ingin memiliki ‘teman’ dan kita tidak pernah menyadari kalau kita sedang dimanfaatkan, dan ujungnya kita hanya akan disalahkan atas semua yang terjadi, bahkan bukan atas kuasa kita.

Lalu muncullah kesadaran baru, selama ini kita terjebak pada harapan seseorang akan mengerti kondisi kita. Dan nyatanya, itu tidak sama sekali. Kita hanya jadi orang yang dimanfaatkan oleh orang lain, dan ketika orang lain gagal mendapatkan manfaat itu, dia akan marah dan menyalahkan kita, karena kitalah yang diincar oleh orang-orang itu.

Disini dapat disimpulkan bahwa memang benar setiap tragedi itu mempunya hikmah tersendiri. Salah satunya, kita diberikan referensi untuk mengambil keputusan: tetap dengan teman yang lama, atau pergi cari teman yang baru. Atau, kita hidup independen. Tidak ada istilah teman, hanya ada istilah rekan. Kita mau bekerja sama jika kita mendapatkan manfaat yang sebanding dengan rekan kerjasama kita. Dengan begitu, tidak ada lagi istilah teman, hanya ada kesepakatan. Jika kesepakatan gagal dilakukan, kita pergi.

Kadang hidup memang seperti itu. Kita dituntut untuk hal yang bahkan tidak mungkin kita lakukan. Itu semua karena mereka bukan Tuhan yang paham betul atas semua cobaan yang diberikan kepada kita. Mereka tidak mau paham apa saja cobaan yang kita hadapi. Mereka juga tidak mau tahu kita sanggup atau tidak menjalani cobaan yang mereka berikan. Kadang kita terpikir, cobaan dari mereka lebih berat dari cobaan yang diberikan Tuhan.

Tapi baiknya Tuhan, kita tetap diberikan pilihan untuk itu. Entah kita ambil, atau kita pergi saja.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.