Nasib Masyarakat Perbatasan Indonesia-Timor Leste Pulau Sabu Kabupaten Kupang


Nasib Masyarakat Perbatasan Indonesia-Timor Leste Pulau Sabu Kabupaten Kupang 1

Ringkasan – Masalah ekonomi merupakan masalah sosial, karena kemiskinan berdampak pada ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah ditambah lagi politisasi dalam sektor ketahanan pangan. Hal ini sangat berpengaruh bagi negara dalam segi mengatasi kesejahteraan. Terutama daerah perbatasan pulau Sabu NTT dan Timor Leste, kehidupan masyarakat yang bisa dikatakan kurang layak bahkan NTT adalah provinsi termiskin ke 3 di Indonesia (BPS 2018-2019 dari Kupang, Gatra.com).

Perbatasan Indonesia

Negara adalah sebuah wilayah teritori yang berdaulat, berpenghuni dan memiliki sistem pemerintahan. Layaknya negara berdaulat lainnya, indonesia adalah negara berdaulat yang memiliki wilayah negara sangat luas terutama perairan. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan tidak memiliki perbatasan darat. Indonesia memiliki tiga perbatasan darat yang paling nampak apabila membuka peta indonesia antara lain: perbatasan NKRI – Papua New Genuie, NKRI – Serawak Malaysia, NKRI – Timur Leste. Masalah pembangunan dan kemiskinan membuat masyarakat yang tinggal di perbatasan nampak miris. Khususnya daerah perbatasan yang terletak di perbatasan Indonesia-Tmor Leste, pulau sabu kabupaten Kupang. Pengaruh modernisasi membuat masyarakat meninggalkan kebiasan lokal. Begitu pula daerah perbatasan lainnya. Meskipun kebiasaan lokal belum punah tetapi pemerataan pembangunan adalah masalah utama, minimnya transportasi umum dan akses yang sulit membuat kegiatan perekonomian terhambat. Dampaknya adalah tingginya harga kebutuhan pokok, kesehatan dan pendidikan. Untuk ketahanan pangan di daerah Papua, masyarakat masih melestarikan kebiasaan lokal yaitu memakan umbi-umbi-an, jagung dan sagu sebagai makanan pokok. Masyarakat di perbatasan Indonesia-Papua New Guine masih sangat bergantung pada alam sekitar sehingga masalah kekurangan pangan dapat teratasi. Dampak yang sangat signifikan adalah biaya kesehatan dan pendidikan yang tinggi.

Masyarakat perbatasan Indonesia-Timor Leste

Timur leste adalah salah satu bagian dari NKRI yang telah melepaskan diri pada tanggal 30 Agustus 1999 melalui referendum dengan perbandingan suara 94.388 setuju menjadi daerah otonomi khusus, sementara 344.580 suara menolak. Timur leste resmi menjadi negara pada 20 Mei 2002. Tetapi tidak semua masyarakat Timur Leste yang setuju tetap berada di Timur Leste, sebagian memilih bermigrasi ke daerah perbatasan antara Timur Leste dan kabupaten Kupang. Kehidupan masyarakat perbatasan, khususnya di daerah pulau Sabu  jauh dari kata sejahtera, mereka hidup dibawah garis kemiskinan dan ekonomi yang rendah.

Winston N. Rondo adalah sosok narasumber yang menyuarakan jeritan rakyat NTT. Sebagaimana diketahui Winston adalah anggota DPRD NTT untuk dapil pulau rote, pulau sabu kabupaten Kupang sekitar perbatasan Timur Leste. Winston berkata perlunya menanamkan di benak kita masing-masing “I’m proud to live in Indonesia”. Bagaimana tidak, di Indonesia memiliki banyak kekayaan alam dan keindahan alam yang salah satunya termasuk kedalam keajaiban dunia, yaitu pulau komodo. Kekayaan alam tersebut tidak sebanding dengan kehidupan masyarakat yang ada. Ketahanan pangan di NTT mengalami pergeseran makanan pokok yang awalnya adalah makanan tradisional berupa keladi, kacang koro, dan sorgum telah tergantikan oleh beras. Pada tahun 2015-2016 karena dampak pemanasan global, NTT dilanda kekeringan hebat, sehingga daulat pangan mengalami kelumpuhan hebat pula. Datangnya raskin (beras untuk rakyat miskin) menambah ketergantungan masyarakat pada beras sebagai makanan pokok. Politik makanan yang dimulai dari pemerintahan orde baru merupakan bentuk penyeragaman makanan lokal menjadi satu jenis makanan wajib yaitu beras. Realitasnya adalah ketiadaan beras yang menimbulkan kelaparan, bukan ketiadaan makanan. Dapat disimpulkan bahwa budaya makanan lokal perlu dilestarikan demi menjaga ketahanan pangan lokal sehingga tidak ada yang kelaparan.

Kemiskinan di daerah perbatasan ditunjang dengan ekonomi yang rendah dan pendapatan perkapita daerah pulau Sabu yang rendah. Mayoritas matapencaharian masyarakat perbatasan adalah sektor pertanian dan perkebunan dengan pendapatan rata-rata perbulan Rp.150.000 – Rp. 200.000. Dikarenakan sektor pertanian merupakan sektor musiman. Dengan begitu pemenuhan kebutuhan kesehatan keluarga dan pendidikan sangat minim di daerah perbatasan. Masyarakat perbatasan di daerah NTT pun sebagian besar melakukan migrasi ke luar daerah guna untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat pulau Sabu harusnya lebih mengedepankan sektor pertanian untuk meningkatkan produktifitas hasil pertanian. Efek kemiskinan yang terjadi di pulau Sabu karena petani menjual hasil pertanian dengan hasil yang kurang maksimal, sementara mereka juga membeli beras yang merupakan hasil pertanian luar daerah yang dibeli dengan sangat mahal. Hal ini memaksa petani untuk terjerat dalam kemiskinan yang tiada henti.

Upaya Penanggulangan

Upaya penanggulangan dengan penanggulangan kemiskinan yang diluncurkan pemerintah pusat:

1. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, bertujuan untuk mengurangi kemiskinan, memperkuat pemerintah lokal dan institusi masyararakat, serta memperbaiki tata pemerintahan lokal. Saat ini, PNPM meliputi hampir 12 separuh desa di Indonesia dan diharapkan akan mencakup seluruh 80.000 desa dan kota di Indonesia pada tahun 2009. PNPM Mandiri merupakan salah satu program yang mempunyai program khusus untuk perempuan, yaitu dalam bentuk simpan pinjam untuk kelompok perempuan.

2. Program Keluarga Harapan (PKH). Program ini memberikan bantuan kepada rumah tangga miskin dan hampir miskin dengan persyaratan bahwa rumah tangga tersebut mengirim kembali anak-anak usia wajib belajar (6 -15 tahun) kembali bersekolah serta menggunakan Puskesmas jika terdapat anggota keluarga yang sakit. Nilai uang yang diterima bervariasi antar rumah tangga tergantung besar kecilnya jumlah anggota keluarga.

3. Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Program ini memberikan bantuan pada sekolah-sekolah untuk membantu kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya BOS, maka siswa SD dan SMP akan dibebaskan dari biaya operasional belajar-mengajar.

4. Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Program ini memberikan asuransi kesehatan yang bersifat universal bagi rumah tangga miskin dan hampir miskin.

Kesimpulan 

Dari pembahasan dan penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi masyarakat di daerah Pulau Sabu perbatasan NTT-Timor Leste  jauh dari kata sejahtera, mereka hidup dibawah garis kemiskinan dan ekonomi yang rendah. Politisasi dalam sektor pangan harus dihentikan karena dapat menjerat masyarakat dalam kemiskinan yang berkepanjangan dan tidak akan ada solusi, yang ada malah membuat daerah potensial dalam sektor pertanian menjadi punah digantikan oleh gaya hidup perkotaan bahkan dapat menjadi daerah perkotaan dengan gedung tinggi. Hal ini akan menambah ketergantungan masyarakat terhadap beras sangat besar demi memenuhi kebutuhan makanan karena petani lelah bertani dan menjual lahan mereka.

Daftar Pustaka

Rondo, Winston, Jemmy Setiawan. 2017. “Merah Putih Tergadai di Perbatasan” Jakarta: PT Elex Media Komputindo (Kompas Gramedika)

Tjandraningsih, Indrasari. 2015. “ Penghidupan Masyarakat Pedesaan NTT dan NTB : Krisis dan Perubahan” 

Media neliti.com. 2020. “Kumpulan Jurnal Social Analysist

Penerbit lipi.go.id. “Pengembangan Wilayah Nusa Tenggara Timur

Listyawati. 2020. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Kawasan Perbatasan Antar Negara.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap