Nasib Penulis Pemula di Bawah Media Ternama

Nasib Penulis Pemula di Bawah Media Ternama 1

Sekitar sebulan yang lalu,  teman saya bertanya melalui pesan whatsapp, “Mas Likin, pernah kirim artikel ke media-media nasional?” Saya jawab, “Belum, dan lain kali mau coba!” Kemudian, tanpa saya mintai penjelasan apa-apa, ia berujar begini, “Saya sudah beberapa kali mengirim tulisan ke berbagai media ternama negeri ini, tak pernah dimuat. Saya yang pemula seperti bukan kelasnya. Rata-rata yang dimuat di sana orang-orang yang punya nama besar. Saya seperti malas berhadapan dengan mereka. Saya kapok!” Merespons kekagalauan teman yang satu itu, saya hanya cukup membalasnya dengan senyuman berupa gambar emoji.

***

Sebagai media ternama, pantas kiranya ia  memberikan aturan main yang “sangat” ketat bagi siapa saja yang ingin ikutan nimbrung menulis gagasan-gagasan di halamannya. Maklum, hal itu dibuat agar gagasan yang tidak perlu apalagi yang tidak berbobot menyampah liar di halamannya. Media ternama memiliki hak penuh akan hal itu. Akan hal-hal yang berbau “sampah” tersebut bersih dari dalam halamannya, apalagi sampai membusuk dan banyak orang menjauhinya.

Mengenai hal itu, semua orang sudah memahaminya. Berat sekali memang sebuah tulisan dapat dimuat di halaman media ternama. Dengan kata lain, media yang dikategorikan media ternama baik daring maupun cetak memang sulit untuk ditembus. Ia seperti dipagari tembok besar berlapis baja untuk para penulis, khususnya bagi penulis pemula. Apalagi untuk penulis pemula, penulis yang tulisannya sudah banyak melalangbuana di berbagai media baik cetak maupun elektronik saja susah menembusnya. Hal ini dapat dibuktikan, lihat saja di rubrik Opini, Esai Budaya, Kolom, dan semacamnya, siapa saja yang dimuat di sana? Mayoritas orang-orang ahli dan nyaris banyak diduduki oleh mereka yang berada di kursi tokoh. Ya, kebanyakan para elite dan tokoh yang mampu menembus pagar media ternama dan bisa kongkow-kongkow di halamannya.

Pantas jika khalayak beranggapan, bahwa media bonafit seperti tempatnya para eliter dan tokoh-tokoh menuangkan gagasannya, sekalipun mereka hanya bercanda dan bersenda gurau di sana. Orang lain, atau orang-orang yang baru belajar menuangkan ide, semua “mah, apa atuh!“. Media bergengsi yang banyak menuai prestasi di negeri ini bukan kelas yang pas untuk mereka.

Perlu untuk diketahui, menulis dengan semua warna gagasan yang tertuang di dalamnya itu lahir dari jerih payah, dituangkan dengan susah payah. Perihal ini, pihak media memahami, bahkan sangat mengerti. Ini jelas. Namun, setidaknya, ini menjadi warning untuk siapa saja yang terlibat di dalam pemangku kebijakan sebuah media, khususnya awak media ternama di negeri ini agar melakukan tahap penyeleksian berdasarkan pada asas manfaat yang terkandung dalam sebuah gagasan, bukan pada apik tidaknya susunan bahasa apalagi dipandang dari “nama besar” sang penulis. Mestinya pihak media tinggal mengedit seperlunya, kemudian memberinya saran dan masukan ke e-mail pribadi penulis. Gampang, bukan?!

Jika sebuah media mendepak para penulis pemula yang dengan bercucuran keringat mereka menuangkan ide dan gagasan, maka secara tidak langsung, ia jelas membonsai upaya kreatif mereka. Perlahan namun pasti, media juga secara tidak langsung menyumbangkan hama mematikan untuk tumbuh kembangnya generasi pegiat literasi masa depan, yang mana hal ini seharusnya menjadi lahan subur bagi penulis baru.

Maklum adanya, media berfungsi sebagai sarana menuangkan ide dan gagasan untuk seluruh lapisan masyarakat. Di balik itu, media menjadi salah satu mesin yang paling cepat menciptakan penulis-penulis baru. Namun, apa jadinya jika medialah yang menjadi racun mematikan untuk mereka? Dapat dipastikan, penulis-penulis handal masa depan akan tamat di tiang gantungan media yang berwajah garang khususnya untuk penulis pemula saat ini. Ini pasti.

Media seharusnya menjadi penyalur aspirasi semua kalangan. Ia menjadi penyambung lidah mereka di seberang sana yang suaranya lirih yang sulit didengar oleh pemangku kebijakan. Sekaligus, media seharusnya menumbuhkan sel-sel baru bagi penulis hebat masa depan dapat berkembangbiak. Singkatnya, melahirkan penulis-penulis baru adalah tugas mulia awak media.

Media berkelas nasional seharusnya memerankan tugas tersebut dengan sempurna. Dirinya seharusnya menjadi sarana penyambung lidah agar semua gagasan tersampaikan. Ia seharusnya menjadi alat pemantul bagi bisik-bisik suara di ujung sana. Media memiliki kewajiban mutlak melahirkan dan menumbuhkembangkan penulis-penulis baru. Dirinya seharusnya menjadi rumah yang nyaman bagi semua kalangan yang mencoba berkarya dengan pena. Dengan cara, melenturkan diri dan memuat semua karya tulis berdasarkan asas manfaat. Tentu, yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Jika hal ini dilakukan, maka menjadi sesuatu yang pasti, jika media benar-benar menjadi corong bagi lahirnya generasi penulis-penulis berkelas di masa yang akan datang.

Media daring maupun cetak yang namanya sudah dikenal jagad negeri ini, tidak perlu mengubah jatidirinya dan segala aturan main yang melekat dalam dirinya. Media hanya perlu sedikit memoles raut wajahnya agar menampakkan keramahannya khususnya bagi penulis pemula. Ini semua demi budaya literasi negeri ini, semuanya demi untuk generasi pegiat literasi hebat masa mendatang. Sebab, mereka lahir dari tangan-tangan pemula hari ini.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin