New Normal Indonesia, Siapkah? Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

New Normal Indonesia, Siapkah? Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

Masa yang dialami Indonesia telah berlangsung cukup lama semenjak awal Maret tahun ini sampai mendekati awal Juni dengan Indonesia sebagai negara terdampak tertinggi di antara negara ASEAN lainnya. Berbagai yang dilakukan untuk menekan angka penyebaran semakin mewabah di . Mulai dari social distancing, physical distancing, dan terakhir Pembatasan Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Meski demikian angka penyebaran masih terbilang tinggi sampai 27 Mei 2020 bertambah sebanyak 686 pasien, walaupun tanggal 24-26 Mei lajunya melambat.

Laju pertumbuhan penyebaran di Indonesia masih fluktuatif belum bisa jika dikatakan melandai. Di samping itu mulai mewacanakan untuk menerapkan pada awal Juni nanti. Pada beberapa wilayah besar di Indonesia oleh pusat, dan yang menjadi pertanyaan kemudian apakah semua daerah siap untuk menerapkan dan apakah Indonesia sudah benar siap untuk menerapkan ini dengan angka penyebaran yang masih fluktuatif sampai hari ini. Kalaupun nantinya akan diterapkan, seperti apa strategi yang dapat dilakukan untuk bertahan dalam menghadapi fenomena ini nantinya.

 

Apa itu ?

 adalah wacana tentang pola kehidupan baru paska mulai menurun angka penyebarannya. Ini adalah wacana yang mulai diterapkan oleh beberapa negara yang telah mampu menekan angka di negaranya dengan angka penyebaran dibawah 2 digit atau maksimal dalam angka belasan seperti Singapura. Dan negara lain yang sebelumnya menerapkan lockdown untuk menekan angka penyebaran melalui pembatasan aktifitas di ruang publik seperti sekolah, pusat perbelanjaan, transportasi umum dan sektor publik lainnya maupun aktivitas yang menyebabkan konsentrasi massa. Meskipun ini harus dibayar dengan harga cukup besar dari terdampaknya perekenomian di beberapa sektor seperti pabrik, dibidang jasa seperti transportasi umum, tempat wisata, restoran dan sektor kerja informal lainnya.

Baca juga  Menjadi Bahagia Saat Pandemi

Seperti yang dialami Australia, dan China masa lockdown beberapa bulan mengakibatkan menurunnya pendapatan negara karena aktifitas ekonomi yang lumpuh. Di sisi lain, tekanan psikis sebagai dampak dari adanya yang disebabkan karena, konsumsi informasi dari media tentang yang menyebabkan kecemasan dan was-was, tidak ada pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena sebagian besar pekerja harus dirumahkan.

Beberapa negara yang mulai menerapkan diantaranya adalah Australia, China, Jerman karena angka penyebaran pandemi di negara-negara ini telah mampu di pantau dan masih dilakukan secara bertahap membuka beberapa sektor publik. Konsep yang diberlakukan di negara-negara ini sarat dengan peraturan ketat karena penyebaran pandemi masih mungkin terjadi. Ada beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pemberlakuan sesuai ketetapan yang dikeluarkan oleh WHO, yaitu:

  • Bagi negara yang akan menerapkan harus mampu membuktikan transmisi pandemi mampu dikendalikan.
  • Menerapkan phisycal distancing, menggunakan masker dan menerapkan hidup higienis yang ditunjang fasilitas mencuci tangan ditempat umum.
  • Fasilitas kesehatan yang menopang kebutuhan terdampak virus seperti rumah sakit yang memiliki kapasitas untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak dan mengkarantina pasien.

 

Sudah siapkah Indonesia menerapkan ?

Angka penyebaran pandemi di Indonesia masih belum bisa dikatakan melandai lebih di fase fluktuatif. Sementara itu justru mulai mewacanakan dalam kehidupan yang akan diberlakukan pada bulan Juni nanti. Padahal ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika ingin menerapkan new normal jika merujuk pada peraturan dari WHO, seperti: tingkat penularan dibawah 1 atau penularan virus antar manusia di satu wilayah sudah minim atau tidak ada lagi, sistem kesehatan yang menunjang untuk pelayanan pada pasien . Jika menilik pada fenomena di yang masih minim untuk mengikuti peraturan belakangan juga yang menjadikan penyebaran pandemi masih luas hal ini akan terlihat sulit. Tetapi di sisi lain, tidak bisa secara terus menerus memberlakukan PSBB karena memerlukan anggaran yang tidak sedikit dan terhambatnya arus ekonomi. Hal ini seiring dengan naiknya angka Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) di beberapa sektor perusahaan atau industri  karena menurunnya produksi perusahaan yang mengakibatkan harus memotong biaya bahan baku yang dibebankan kepada pegawai yang diberhentikan untuk membuat perusahaan tetap berjalan.

Baca juga  Bisnis Ternak Lele yang Mudah & Menguntungkan di Masa Pandemi

Menurunnya pendapatan negara dari sektor-sektor industri, angka pengangguran tinggi, dan kemampuan untuk memberikan bantuan yang tidak sebanding dengan arus ekonomi negara yang menurun. Jika PSBB diteruskan akan semakin berat dalam menanggung biaya hidup masyarakatnya, di sisi lain konflik internal di sendiri terkait alokasi dana bantuan dan tidak efisiennya aliran bantuan yang ditetapkan juga menjadi masalah sendiri di . Hal inilah yang menyebabkan Indonesia mulai mewacanakan new normal bulan Juni nanti agar sendi-sendi perekonomian mulai berjalan lagi bertahap agar negara ini tidak mengalami krisis dan tindak kriminalitas yang meningkat karena keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ditambah lagi sulitnya hari ini untuk mencari pekerjaan di tengah pandemi.

Konsep new normal Indonesia lebih mengadaptasi yang dilakukan oleh negara-negara yang mampu menekan angka pandemi secara signifikan. Hal ini berbanding terbalik jika kita melekatkan konteks new normal di Indonesia. Istilah new normal di Indonesia lebih seperti melepas masyarakat di belantara pandemi yang masih mewabah dengan pertaruhan dirinya untuk terpapar. Meskipun ruang-ruang publik menerapkan protokol kesehatan yang di jaga oleh aparat, pertanyaannya seberapa efisienkah jumlah aparat yang ada dengan konsentrasi massa yang ada terlebih seperti di tempat seperti pasar.

Baca juga  Dampak Masalah Proses Pembelajaran Matematika Di Masa Pandemi COVID-19

 

Strategi bertahan di era new normal

Jika konsep new normal benar-benar diterapkan hal ini akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Terlebih peraturan yang dapat melakukan aktifitas bekerja adalah usia dengan rentang maksimal 45 tahun, pemberlakuan Surat Ijin Keluar Masuk untuk daerah tertentu. Sementara ada beberapa wilayah yang akan memperpanjang masa tanggap sampai 30 Juni 2020 seperti Yogyakarta. Ketidakselaran antara pusat dan daerah juga akan berpengaruh pada sektor ekonomi masyarakat nantinya. Di sisi lain pun masyarakat tidak ingin berdiam diri tanpa adanya pemasukan bagi keluarga ditengah masa pandemi dan tuntutan kebutuhan yang selalu ada, tetapi tidak sebanding dengan jumlah pendapatan yang ada.

Akhirnya masyarakat harus memilih untuk bekerja di sektor konvensional dengan pertaruhan terpapar virus ini ketika di tempat publik meskipun protokol kesehatan diterapkan, dan dihadapkan dengan kemungikanan terpapar yang masih ada. Atau alternatif lain bisa menunggu sampai masa pandemi benar-benar berakhir, tapi pertanyaannya sampai kapan jika melihat fenomena dan sampai hari ini. Alternatif lainnya mulai memasuki rimba dunia digital seperti kerja-kerja sebagai konten kreator, copy writing, content writer, atau membuka bisnis dan menggunakan media digital untuk pemasaran dan sebagainya. Sebab di era industri 4.0 yang menuntut kita hari ini harus lebih melek teknologi, bukan sekedar bisa tapi bagaimana mendalaminya. Karena banyak ruang di dunia digital yang bisa dijadikan alternatif untuk menambah pendapatan kita. Jelas jika kita harus survive dalam keadaan seperti apapun nantinya apalagi di saat-saat tidak pasti seperti ini.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

armahatra

   

"Kita tidak akan pernah selesai dalam pembelajaran dan pembacaan karena manusia adalah pembelajar sepanjang hayat"