Nostalgia, 5 Klub Era Galatama yang Sempat Populer di Masa Lalu


Nostalgia, 5 Klub Era Galatama yang Sempat Populer di Masa Lalu

Kata filsuf Yunani, semua berubah, termasuk perubahaan itu sendiri. Nampaknya adegium itu sangat cocok disematkan bagi persepakbolaan tanah air.

negeri yang selalu punya masalah terhadap konsistensi. Rasa-rasanya susah sekali membuat sebuah kompetisi yang konsisten dan rapi, apalagi bisa bersaing dengan liga luar negeri.

Salah satu hasil inkonsistensi tersebut adalah lahir dan matinya , sebuah kompetisi klasik yang eksis dari tahun 1979 hingga 1994.

Sempat dipandang sebelah mata, lalu jadi pujaan, akhirnya lenyap juga. Walau kata penggabungan lebih pantas, tetapi fakta bahwa akhirnya mayoritas klub-klub era akhirnya almarhum tidak terbantahkan lagi untuk menyebut kompetisi itu memang musnah.

Lantas, setelah puluhan tahun berlalu, bagaimana kenangan para penggila bola tanah air pada klub-klub lawas tersebut? Mana saja klub yang sempat bersinar di masa itu? Berikut adalah 5 klub eks- yang sempat berjaya di masa lalu.

NIAC Mitra

Salah satu tim yang pernah sangat mendominasi persepakbolaan di masa lalu adalah NIAC (New International Amusement Centre) Mitra atau yang juga dikenal dengan nama Mitra Surabaya.

Bermarkas di Surabaya, Mitra berbagi kota dengan ASGS (Assyabab Salim Grup Surabaya) dan Persebaya. Dua nama awal adalah klub swasta/publik, sedang Persebaya didukung pemkot.

Mitra Surabaya adalah juara dua kali , yakni edisi 1982, 1983 dan 1986. Mitra juga merupakan juara Piala Aga’s Khan.

Lahir dari perkumpulan karyawan bioskop Mantos, Mitra akhirnya menjadi klub profesional pada tahun 1978.

Beberapa nama hebat yang pernah jadi punggawa NIAC Mitra antara lain Ruddy Ketjles, Joko Malis dan tentu saja sang bintang Fandi Ahmad.

Mitra Surabaya akhirnya terseok-seok paska penggabungan Perserikatan dan . Klub ini kemudian berganti nama menjadi Mitra Kalteng Putra (MKP) dan kemudian jadi Mitra Kutai Kertanegara (Mitra Kukar) hingga hari ini.

 

Pelita Jaya

Nasib Pelita Jaya jauh lebih tragis dari NIAC Mitra. Walau kini bereinkarnasi menjadi salah satu klub kuat Liga 1, tetapi nama PS Pelita Jaya bisa dibilang sudah terkubur sejarah.

Pelita Jaya adalah klub tersukses di kancah . Menjadi juara tahun 1989, 1990, dan 1994, Pelita Jaya juga meraih dua kali gelar runner-up.

Sayang PS Pelita Jaya kemudian tak jelas nasibnya. Klub ini lalu terkenal dengan sebutan musafir karena berganti-ganti homebase dan pemilik.

Ia berganti nama dari PS Pelita Jaya menjadi PS Pelita Solo, Pelita Bakri, Pelita Krakatau Steel, Pelita Jaya Purwakarta, Pelita Jaya Karawang, Pelita Bandung Raya, Persipasi Bandung Raya, dan yang terakhir adalah Madura United (Persipasi Pamekasan).

 

Arseto

Arseto adalah sebuah klub kuat di era . Klub berjuluk The Cannon ini berdiri tahun 1978 dan bubar pada 1998.

Selama dua puluh tahun berkiprah di , Arseto pernah pindah homebase. Awalnya bermarkas di Jakarta, Arseto kemudian pindah ke Solo. Justru di kota inilah Arseto berhasil memiliki basis pendukung fanatik.

Tidak jelas apa arti nama Arseto, tetapi banya yang mengganggap itu merupakan akronim dari Ari Sigit Harjojudanto, pemilik Arseto sekaligus anak Presiden Suharto.

The Cannon Arseto benar-benar sarat prestasi. Klub ini adalah juara Piala Galatama (1985), Juara kompetisi Invitasi Galatama (1987), Juara Galatama (1992), Juara Kejuaran Antar-klub ASEAN (1993) dan masuk semifinal Liga Champions Asia (1993).

Sayang pada tahun 1998, klub ini bubar seiring dengan datangnya prahara politik serta krisis ekonomi yang memporak-porandakan .

 

Kramayudha Tiga Berlian

Ini adalah salah satu klub raksasa yang jika masih bisa eksis, kemungkinan akan menghasilkan prestasi gemilang senantiasa.

Bermarkas di Palembang dan dimiliki oleh PT Kramayudha Tiga Berlian, PS KTB benar-benar menjadi ancaman bagi semua klub yang mengincar juara Galatama.

KTB merupakan juara Galatama edisi 1985 dan 1986 serta runner-up 1990. Kemunculan KTB juga terbilang unik.

Berawal dari Klub Galatama lainnya, Yanita Utama Bogor yang bubar, Sjanoerbi Sahid membentuk sebuah tim baru dari para eks pemain Yanita Utama. Sejak saat itu lahirlah PS KTB dan bermarkas di Palembang, Sumatera Selatan.

Hebatnya, di tahun pertama keikutsertaan KTB, tim itu berhasil jadi juara setelah menglahkan tim kuat Galatama lainnya, Arseto Solo. Sedang setahun kemudian, mereka mampu mempertahankan gelar dari ancaman PS Pelita Jaya.

Di kancah internasional, KTB cukup mampu menunjukkan tajinya. Tim ini sukses masuk semifinal Piala Champhions Asia dua kali.

Sayang di kompetisi Piala Winner’s Asia, KTB dicurangi AFC. Pertandingan melawan Dalian asal Cina tak pernah terjadi padahal KTB sungguh benar-benar siap bertanding.

Masalah demi masalah kembali hadir. KTB akhirnya mengalami kesulitan finansial. Dan pada tahun 1992, KTB mengundurkan diri dari kompetisi Galatama. PS KTB mengikuti jejak pendahulunya, Yanita Utama yang lebih dahulu mati.

 

Warna Agung 

Jika KTB dimiliki oleh PT Kramayudha Tiga Berlian yang bergerak di bidang distributor otomotif, maka PS Warna Agung dimiliki oleh perusahaan cat dengan nama yang sama.

PS Warna Agung sendiri merupakan salah satu klub kuat di masa lalu. Bahkan klub ini merupakan juara Galatama edisi perdana, yakni musim 1979-1980.

Beberapa pemain berprestasi PS Warna Agung antara lain adalah Rully Nere, Widodo Cahyono Putro dan Ronny Pattinasarany.

Warga Agung akhirnya dibubuarkan oleh Bapak Endang Witiarsa pada tahun 1995 karena muak dengan maraknya fenomena suap yang menjangkiti .

Demikianlah 5 klub Galatama yang mengalami nasib tragis. Semoga apa yang dialami oleh mereka bisa menjadi pelajaran berharga untuk seluruh elemen bangsa dalam membangun persepakbolaan .

Baca Juga

Exit mobile version