Novel: D . Y . D (Dare You Date) – 1. Reckless Love Cafe


Novel: D . Y . D (Dare You Date) - 1. Reckless Love Cafe 1

1. Reckless Love Cafe

Reckless Love Cafe memiliki motto menjadi kafe ter-cozy meski berada di pusat jantung kehidupan kota Halmingtown yang nyaris tidak pernah tertidur, kecuali di hari yang sangat terik. Kafe dibangun di sebuah tanah lapang yang merupakan lembah salah satu bukit, pemandangan bebas ke langit menjadi latar belakangnya dan gemerisik pepohonan mengisi suara di sekitar kafe.

Meski sebenarnya semesta tidak mengenal kata fajar dan senja, namun tetap saja langit menjinjing sebuah cerita berbeda setiap hari. Siang ini matahari terlalu rakus memakan waktu, menyebabkan sang senja tergopoh-gopoh datang dan menumpahkan begitu banyak cat merah menyala di langit.

Sayangnya cowok bertindik yang duduk di teras samping kafe itu tidak tertarik sama sekali, baginya hari ini terasa terlalu lambat dan terlalu terik. Untuk pertama kali ia itu tidak bisa menikmati motto Reckless Love Cafe – cafe shop ter-cozy dan lebih memilih berkutat dengan kegaduhan hatinya. Dagunya yang sedikit kotak mengetat membuat garis bibir berwarna merah terang. Selama setengah jam sudah tiga kali ia mengacak-acak rambut messy-nya lalu menyisir kembali dengan tangan. Dia adalah Alan Bimantara, seorang illustrator game online terkenal, pemilik perusahaan Bima Animatic.

Di depannya duduk seorang cewek bongsor yang selalu berpakaian kedodoran, membuatnya mirip costplayer berkostum boneka lobak. Nama cewek itu Ng Dwika Tjuardi, dari namanya saja orang pasti tahu kalau ia dikaruniai wajah oriental dan kulit putih sempurna… ya benar-benar makin mirip lobak. Tapi Alan menyayangi lobak itu lebih dari nyawanya sendiri.

Sejak kecil mereka selalu bersama, meski bukan saudara kandung. Mereka berangkat sekolah bersama, tidur bersama karena Dwika sering menangis di malam hari. Setelah selesai kuliah, mereka memutuskan tinggal di apartemen yang sama, berbagi uang sewa flat, bergiliran menyiapkan makan malam, cuci baju, ikut terjaga ketika salah satu dari mereka sakit demam.

Setelah Alan menikah, ia tinggal bersama istrinya, Sandra Adhitama, di Livistone House. Apartemen yang mereka tinggali diubah Dwika menjadi studio design and cutting sticker. Sebagai adik angkat tentu ia sangat senang dengan pernikahan Alan. Namun di saat-saat tertentu ia menyesalinya, seperti sore ini.

Alan meletakkan kembali cangkir latte-nya ke atas meja persegi empat, menggulung lengan bajunya hingga ke batas siku, duduk bersandar dengan tangan terlipat di dada. Ia mendesah tajam. Sepasang mata cokelatnya mengepal menatap Dwika yang duduk manis di depannya.

Dwika berulang kali menghisap straw minuman lemon tea-nya dengan mata merem melek sambil terus men-scroll naik turun layar ponsel. Alan sangat yakin seyakin yakinnya kalau si lobak jelas-jelas sedang berusaha mengabaikan kehadirannya. Sudah setengah jam ia berusaha meluluhkan hati Dwika, rasanya seperti sedang menyerudukkan kepalanya ke tembok batu. Namun bukan Alan kalau mudah menyerah, ia pasti mencoba sampai berhasil.

“Lo bilang butuh skala yang clear : helikopter, yacht, sport car, privet jet? Semua keinginan lo tinggal diketik ketik ketik, terus muncul tuh nama-nama member cowok yang penghasilan perbulannya bisa nyanggupin skala lo. Easy kan?” katanya.

“Bodo amat!” ujar Dwika mulutnya yang manyun seperti burung unta.

“Lo tahu kan bukan kayak gitu skala gue,” bantahnya.

Percakapan ini membuat Dwika boring parah. Alan getol sekali memamerkan keberhasilannya memperistri Sandra, seorang cewek yang ditemukan – sekali lagi ditemukan – di aplikasi dating online konyol 2 tahun lalu. Bukan berarti pernikahan mereka konyol. Dwika hanya merasa aplikasi kencan buta diciptakan bukan untuknya. Menemukan pasangan hidup, yang kelak akan mengukir janji sehidup semati bersama, di-setting ibarat sedang memilih menu dinner di aplikasi kuliner online. Terserah orang mau bilang Dwika baperan, kurang percaya diri, atau kuper, dia tidak peduli.

Dwika memajukan pantat ke ujung kursi agar bisa menyeruput lemon tea favoritnya, namun belum sampai bibirnya ke ujung straw, Alan menjauhkan gelas minuman. “Apaan sih!” keluh Dwika kesal.

“Ati-ati tuh straw udah gue celupin ke sianida, kalau sampai ke minum lo bakal mati sebelum bisa menikmati malam pertama,” ujar Alan.

Dwika merebut gelas lemon tea dari sekapan tangan Alan. “Yang bener speech lo yang membunuh gue. Besok-besok kalo lo mau ngomongin soal dating app, mending pakai whatsapp aja deh, voice mail juga boleh, sekarang penting banget gue balik ke studio, kerjaan gue lagi buuannyak-buuannyaknya.” Dwika bukan sengaja mendramatisasi perkataan, tapi memang benar.

Bahkan saat ini ia sedang membayangkan desain logo brand pelanggan-pelanggannya yang masih setengah perjalanan dalam memori komputer, ditambah pekerjaan finishing sticker cutting di meja kerja yang menumpuk, kalau tidak segera diselesaikan maka ketinggiannya bisa menyamai ketinggian gunung Himalaya. Selama 2 minggu 4 teman kerjanya terpaksa work from home imbas dari pandemi Covid-19, dan kerjaan di studio bener-bener kacau.

“Wait… dengerin gue dikiiit lagi,” cegah Alan.

Dengan malas Dwika bersandar ke punggung kursi. “Lan, gue punya style sendiri.”

“Gue ngerti… gue paham lo kayak apa Dwe, tapi yang ini app paling fresh,” desisnya, menegakkan punggung dengan penuh semangat selevel sales gold senior MLM.

“Di aplikasi ini sudah ada fitur member appraisal, jadi gak sembarangan nerima cowok atau cewek single. Plus, nah ini fitur baru yang jaman gue dulu belum ada, yaitu anti-ghosting, jadi kalau sudah resmi jadi pasangan dating online maka diwajibkan selalu membalas pesan, dilarang keras menggantung harapan pasangan, atau bakalan kena kick. Aplikasi ini bahkan menjamin teknologi mereka 98 % pasti berhasil. Gue yakin lo bakal dapat pacar dalam waktu singkat. Apa lo mau selamanya nongkrong sama gue di sini? Apa lo gak pingin ngerasain romantic dinner di rooftop-nya Reckless di atas sana?” Jari telunjuk Alan mengacung ke udara, seperti seorang kepala suku primitif sedang menebak ke arah mata angin.

“Ya tentu aja gue mau, tapi cara begituan gak pernah jamin sebuah hubungan bakal langgeng, kebanyakan yang terjadi malah jodoh kita adalah orang-orang di sekeliling kita yang udah kita kenal.”

“Kalau gitu caranya ya udah telat dan selamanya lo jadi perawan tua, karena lo cuman punya gue, jodoh lo ya… gue… Dwe! Kan cuman gue cowok yang paling dekat sama lo,” ujar Alan sembari nyengir, memamerkan lesung pipitnya yang sempat bikin dia menjadi cowok paling dicari di sebuah aplikasi dating 4 tahun lalu.

“Engkong gue juga deket sama gue,” balas Dwika ikut-ikutan nyengir terpaksa.

“Lo aja sok akrab sama engkong demi warisannya,” ujar Alan yang dibalas dengan semprotan lemon tea ke wajahnya.

“Rasain lo!” gerutu Dwika yang kembali mengibaskan straw berisi lemon tea ke arah Alan.

“Udah dong revenge-nya, gue jadi tambah manis nih!” kata Alan, mengeringkan wajahnya dengan tisu, lalu melemparnya ke arah Dwika yang kali ini beruntung bisa menghindar. “Tumben gue meleset,” kata Alan.

“Gak selamanya manusia beruntung terus,” ujar Dwika

“Gini aja deh, sekarang gue daftarin dulu nama lo, entar kalau verifikasi-nya kelar baru beri tanggapan mau lanjut atau gak, gimana?”

“Bodo ah!” pekik Dwika frustasi. Menutup wajah dengan kedua tangan. “Gak semua cara lo bisa berhasil ke gue Lan.” Suara teredam telapak tangannya sendiri. “Banyak juga cewek berumur lebih dari 30 tahun masih jomblo, sedangkan gue baru 25, jadi apa masalahnya?” Ia terus menggerutu.

Alan tidak menggubris, ia segera mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak di meja, menghirup sedikit latte yang mulai dingin sebelum membuka aplikasi Skylovers Dating yang sengaja dia unggah beberapa hari lalu untuk Dwika. Langsung menuju halaman sign in, jari-jarinya bergerak cepat mengetik nama lengkap Dwika, mengisi data diri cewek itu tanpa perlu bertanya pada pemiliknya. Alan bahkan hafal nomer berseri identitas kependudukan Dwika. Dengan mudah ia mengunggah foto close-up ter-cute sahabatnya yang berjumlah ratusan dalam memori ponsel. Foto istrinya saja tidak sebanyak itu. Alan semakin larut dengan kesibukannya, sama sekali tidak terganggu dengung protes Dwika.

Dwika belum ingin serius dengan cowok manapun. Setelah berjuang mati-matian supaya lolos seleksi di kamus favorit, kemudian berdarah-darah meniti perjalanan panjang kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual yang mengharuskan para mahasiswa bicara pakai gambar bukannya pakai mulut, dan yang paling parah ketika setelah lulus kuliah, ia investasikan seluruh uang warisan kakeknya untuk merintis perusahaan entrepreneur business design berbasis materi sticker vinyl, dan sekarang di saat perusahaan beranjak meninggalkan status survival, tidak mungkin ia mengalihkan perhatiannya demi seorang cowok yang ia temukan – sekali lagi ditemukan – di aplikasi dating online.

Gak mungkin banget!

Apa kata papa mama dan keluarga besarnya kalau mereka tahu ia ikutan dating online. Dwika tidak sanggup menghadapi komentar orang yang kira-kira seperti ini: “Kayak dunia ini kekurangan cowok aja kamu ini Mei,” itu komen dari papanya, yang biasanya memanggilnya Nonik ; atau kalau mau yang lebih pedas cobain komen mamanya yang kira-kira bakal berbunyi begini, “Mama ternyata lebih laku daripada kamu ya Cie!” ; atau nyanyian sepupu-sepupunya, “Cie cie… ini gue kenalin mantan gue, semoga cocok”.

Dwika menyembunyikan wajahnya dalam telapak tangan, gak kebayang bagaimana ia bertahan hidup dengan self branding semacam itu.

Lalu apa tanggapan 4 teman kerjanya di studio. Dari 5 orang anggota tim kerjanya hanya Dwika yang paling hobi exercise: yoga wajib; fat burning harus; dan berenang setiap kali ia pulang ke rumah orang tuanya. Ditambah kulit putih mulus, tinggi badan nyaris 170 cm, dan berwajah oriental. Seharusnya ia yang paling cepat memiliki pasangan, namun ternyata di perusahaan miliknya sendiri tersisa dia seorang yang masih jomblo.

Mendadak Alan berteriak “Dapat!”

Dwika terlonjak dua puluh sentimeter dari tempat duduk, menegakkan punggung dengan mata jelalatan kesana kemari seperti ada yang kecopetan. “Apaan? Bikin kaget aja,” katanya.

Alan bangkit dari kursi, menyeret benda malang itu mendekati tempat duduk Dwika, kemudian meletakkan pantatnya di sana. “Nih, cowok ini kelihatannya mantap Dwe.” Alan mendekatkan ponselnya ke arah Dwika, menyandarkan bahu kirinya ke bahu kanan Dwika, menggeser layar sampai menemukan foto yang tadi dilihatnya. “Aku tadi sempat cek match bentar, ternyata persentase personality kalian tinggi, nyaris 80%, gue sama Sandra aja cuman 68%.”

Dwika mengeluh lalu melihat ke tempat lain. Tiba-tiba ia menjerit kesakitan akibat jeweran di telinga kanan. “ADUH SAKIT!!” pekiknya, mengusap-usap daun telinganya yang memerah.

“Makanya perhatiin dong, fokus, jangan cuman di depan komputer aja bisa fokus. Ini juga demi masa depan lo.”

“Males lah, selera kita beda Lan. Lagian lo udah hombreng ya jelalatan liatin foto cowok.”

“Wah beneran nih anak, gue bisa kena azab tujuh turunan kalau sampai mengingkari kodrat sebagai cowok, dalam history keluarga gue gak ada yang menderita kelainan seksual. Makanya gue gak asal-asalan match-in lo sama cowok-cowok di aplikasi, gue sortir bener-bener!” kata Alan sungguh-sungguh.

Dwika akhirnya mengalah, memperhatikan foto di layar ponsel Alan. Di sana ada seorang cowok bergaya metropolis, memakai setelan jas dan celana panjang hitam, sweater warna krem lembut menyembunyikan dadanya yang lumayan bidang hasil dari ketekunannya di pusat latihan kebugaran. Meski terlihat berotot namun penampilannya diseimbangkan dengan kulit putih dan halus. Tatapan matanya mantap dan cerdas. Dwika memuji pilihan Alan.

“Good looking kan?” tanya Alan setengah memaksa, penasaran ingin mendengar komentar Dwika atas pilihannya. “Lama banget sih ngeliatnya, pegel nih!” ujarnya.

“Lumayan… tapi tunggu!” Dwika merebut ponsel Alan, jarinya menyeret gambar menjadi semakin besar dan jelas. “Kok dia pakai foundation sih?”

Alan yang mengidap buta kosmetik dibuat kebingungan dengan istilah baru, foundation. “Apaan tuh?”

“Alas bedak. Cowok ini pakai alas bedak makanya mukanya mulus banget.”

“Ah itu cuman trik photografer aja, dari data personality-nya gue yakin dia cowok tulen luar dalam. Berarti kita deal pilih dia ya?”

“Bentar dulu!” pekik Dwika panik. “Gue belum siap-siap.”

“Bukan sekarang oon! Kita harus tunggu dia swipe right, baru janjian ketemu pakai video call, atau zoom.” Alan mengambil lagi ponselnya. “Deal ya? Gue swipe right sekarang.”

“Tapi ntar pas video call lo temenin gue Lan, please!”

“Wah itu sudah pasti, gue yang bertugas memastikan cowok ini pantes gak buat lo, sebab kalau lo susah gue juga kena imbasnya. Kalau gitu deal ya!”

Swipe!

“Gue laper nih,” keluh Dwika.

“Makan di rumah aja, lagi banyak virus!”

Cerita selengkapnya bisa diperoleh di : 

https://www.storial.co/book/d-y-d-dare-you-date/


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nana Hadinata

   

Setiap detik kehidupan untuk menghidupi hidup.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap