Novel: D . Y . D (Dare You Date) – 2. Swania oh Swania…


Novel: D . Y . D (Dare You Date) - 2. Swania oh Swania... 1

2. Swania oh Swania…

“Biru satu, kuning dua, putih satu,” gumam Alan. Sandra, baru saja menelepon, mengingatkan untuk meminum vitaminnya. Malam kemarin ia putuskan tidur di kantor demi menyelesaikan satu desain yang anak-anak di kantornya, Bima Animatic, sudah mengibarkan bendera putih.

Alan mengamati isi laci di depannya, botol-botol vitamin berbagai ukuran dan warna tersusun rapi. Sandra jarang ke kantor Alan, hanya beberapa kali dalam sebulan untuk mengisi persediaan vitamin. Ia mengambil empat tablet seukuran biji kacang tanah warna biru, kuning dan putih, lalu menelannya tanpa air minum, setelah itu kembali ke salah satu monitor komputer paling kiri dari tiga monitor yang ada di meja kerjanya. Layarnya yang sepanjang lengan orang dewasa terus berkedip-kedip menayangkan gambar laki-laki petarung tanpa lengan. Ia memakai baju zirah berlapis tembaga, jubahnya dipenuhi sisik berwarna tembaga, dan sepasang lengannya juga terbuat dari logam tembaga.

“Oznuka hampir selesai.” Ia bergumam lagi.

Oznuka adalah salah satu dari tiga puluh dua hero yang dipesan perusahaan game Unicorp. Body armor Oznuka berupa sisik-sisik tembaga melapisi seluruh baju zirah, sepatu, helm perang, termasuk jubahnya. Menurutnya yang terkeren adalah mode armor-nya, tangan ziborg Oznuka bisa berubah menjadi berbagai macam senjata otomatis yang mematikan. Alan paling suka dengan tombak lasernya yang kibasan sinarnya bisa membunuh lawan dari jarak sangat jauh. Yoniko alias Yoni, illustrator-nya yang berbadan ceking seperti batang tebu, selalu berhasil menerjemahkan ide mentah Alan menjadi bentuk nyata, salah satu hasil karyanya adalah si Oznuka.

Ia berpindah ke monitor lain yang ukurannya sama besar dengan yang pertama, mendudukkan pantat di atas kursi gamer berlapis bahan kulit warna hitam, mengatur tombol pengunci handle tangan sebelum kembali bekerja di atas keyboard komputer. Selama satu minggu ia masih berkutat mendesain satu karakter hero perempuan bernama Clarionette. Pembuatan fighter hero cewek lebih rumit, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menentukan pernak-pernik kostum, seperti sepatu, warna mata, bentuk alis, lengkung bibir. Dan yang paling susah menurutnya adalah membentuk garis ekspresi wajah. Karena…

“Wanita menyimpan seribu warna dalam matanya,” begitu kalimat bijak salah seorang pegawainya yang bernama Swania Tamara. Hobinya adalah baperan ketika membaca novel romans, sehingga Alan selalu memberinya pekerjaan membuat storyboard.

“Seorang wanita bisa memasang ekspresi tersenyum di saat hatinya sedang hancur,” kata Swan saat mereka meeting beberapa hari lalu.

“Lo lagi putus cinta ya?” tanya Alan padanya. Kepala Swan menggeleng membuat sanggul di atas kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri.

Beberapa pegawai cowok yang duduk di seberang meja tertawa kecil. Alan menoleh pada Rudy yang tertawa paling keras. “Napa lo?” tanyanya. “Ada yang salah sama Swan?”

“Gak Bos, hanya… gimana bisa putus cinta kalau belum pernah punya pacar,” jawab Rudy.

“Bener Swan?” tanya Alan pada Swania yang menjawab dengan anggukan, puncak sanggulnya bergoyang ke atas dan ke bawah. “Ntar setelah project Adhika kelar gue ajarin lo caranya ikut dating online.”

“Gak usah repot-repot Bos, makasih,” jawab Swania.

“Gak repot kok, santai aja,” balas Alan sembari menyunggingkan senyum tulus. Sejak percakapan terakhir itu Alan belum sempat membicarakan lagi tentang dating online dengan Swania.

Tiga bulan terakhir ini seisi kantor sedang sibuk menyelesaikan project Unicorp senilai hampir dua milyar. Setiap illustrator di kantor Alan bebas memilih karakter hero yang mau dikerjakan. Saat rapat pertama mereka cepat-cepat memilih sketsa karakter hero selain Clarionette, dan meninggalkannya untuk Alan.

Jari-jari Alan kembali menari di atas tombol ketik keyboard, menggerakkan kursor ke atas untuk menghaluskan simulasi rambut Clarionette yang masih berantakan.

“Harusnya pakai mass aja, tapi simulasi memang lebih alus… pfft…!” desah Alan kesal karena harus membentuk helai per helai rambut Clarionette yang panjangnya sampai ke mata kaki. Sedangkan jam enam sore ini ia sudah berjanji pada Dwika akan menemaninya zoom dating dengan pasangan kencan butanya. Hanya saja beberapa hari ini ada pekerjaan yang hampir habis tengat waktunya. Jari-jari Alan makin cepat bergerak di atas keyboard.

Ia tidak menyalahkan Dwika yang sejak kecil terkenal introvert, susah bergaul meskipun dia sangat cantik. Hanya Ia tidak bisa terima kalau di usia 25 tahun Dwika belum pernah pacaran sama sekali. Sifat kuper-nya sudah akut, levelnya sampai level dewa, hanya nyaman bergaul dengan orang-orang yang sudah dikenalnya dengan baik.

Sekali lagi matanya melirik ke penunjuk waktu di komputer. Harus pakai kecepatan cahaya, batinnya.

Pergelangan tangan kanannya yang sudah hampir tiga puluh jam mengenggam mouse berdeyut ngilu. “S***!” runtuknya.

Sanggul pirang Swania muncul duluan di ambang pintu. “Bos!” sapanya.

“Ya Swan ada apa?” tanya Alan tanpa memalingkan wajah dari monitor komputer.

“Pihak Unicorp nanya kapan desain Clarionette bisa di-e-mail?”

“Ya ini tinggal render, bilang ntar malam kita kirim, ukuran gambar Clarionette termasuk besar pasti makan waktu lama buat rendering,” jawab Alan, “eh Swan!” panggilnya.

“Ya Bos!” jawab Swan yang baru saja mau pergi.

“Lo tolong kerjain rendering Clarionette, aku harus cao* nih, ada urusan penting 15 menit lagi.”

“Waduh Bos, saya lagi running storyboard-nya, takut gak siap malam nanti,” ujar Swan dengan enggan, sama sekali tidak bergerak dari posisinya berdiri di ambang pintu, seperti sedang bersiap melarikan diri jika ada kesempatan. “Suruh Rudi aja yang ngerjain, boleh Bos?”

“Rudy udah gue suruh bikin background village-nya. Ini lebih penting Swan, kerjaan kamu nyusul aja. Lagian storyboard juga gak bisa dipakai kalau desain karakternya belum jadi.” Alan bangkit dari kursi kerjanya yang empuk, meraih jaket kulit hitam dari stand hanger yang mematung di sudut ruang.

“Oke lah Bos…” gumam Swan, ujung matanya yang ditebalkan dengan pensil alis melorot seperti sumbu lilin.

“Ingat rendering-nya harus high quality biar detailnya keliatan sempurna!” pesan Alan sebelum keluar dari ruangan.

“Oke.” Swania menunggu punggung Alan berjalan menjauh. Mendesah lemah karena besok dia harus lembur lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri yang hari ini tertunda gara-gara tugas tambahan dari si Bos.

Swania Tamara sudah bekerja di perusahaan Alan sejak awal berdiri, dia direkrut langsung oleh Alan ketika bertemu secara tidak sengaja di sebuah acara seminar, dan langsung wawancara kerja di tempat kejadian. Keesokan harinya Swania dan Alan sudah menghadiri sebuah rapat penting dengan owner sebuah perusahaan startup transportasi online. Terkadang Swania merasa sikap Alan di kantor seperti penjajah, susah bernegosiasi dengannya apalagi jika sudah dikejar date line.

Swania terpaksa menggerakkan kakinya ke meja kerja Alan kemudian duduk menghadapi monitor. Matanya bergerak memeriksa seluruh detil tubuh Clarionette. Bagian-bagian tubuhnya dibentuk sangat rinci dan proposional: tinggi tubuh sekitar 8 kali ukuran dari ubun-ubun ke dagu; ukuran bahu dan dada lebih sempit dari panggul dan paha; apapun pose model sepasang payudaranya tetap memiliki sudut 45 derajat dari garis badan, dengan bentuk paha sampai ujung kaki dibuat meruncing. Semua orang mengakui hasil kerja Alan yang sempurna, belum pernah Swan menerima e-mail atau telepon berisi komplain dari owner.

“Bagus kok, seharusnya fine-fine aja di-render pakai yang ini,” gumamnya.

Kemudian menggeser tanda cursor ke kanan, memilih beberapa fitur, menunggu otak komputer memproses, dan…

“Selesai,” katanya lega.

Langkah kakinya terasa ringan ketika meninggalkan ruangan Alan, mematikan lampu, mengunci pintu, dan berjalan menuju ruang kerjanya sendiri. 

*Cao = pergi

Cerita selengkapnya bisa diperoleh di : 

https://www.storial.co/book/d-y-d-dare-you-date/


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nana Hadinata

   

Setiap detik kehidupan untuk menghidupi hidup.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap